Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Mimpi


"Sekarang aku tau, dimana mayatnya sarah " ucap Arum kembali.


"Dimana Rum "


"Ada dibawah sana "


"Ya sudah ayo kesana ajak Tinah "


Segera mereka berempat kesana, sekarang Hanin digendong oleh Angga. Menuruni satu persatu tangga sampai mereka menemukan sebuah jasad tertutup kain putih lusuh.


Arum dengan perlahan mengampiri mayat itu membuknya namun alangkah kagetnya saat mayat itu bangkit dan mencekik Arum.


Angga segera melepaskannya lalu menarik hantu Sarah dan memekul hantu itu mengunakan batu yang ada dihadapanya memukulnya dengan membabi buta.


Arum berteriak histris"stop Angga, stop kamu jangan bunuh Hanin, stop Angga"


Angga yang di teriaki Arum segera sadar dan benar yang dia pukili adalah Hanin sekarang Hanin sudah mati ditanggan Angga, hantu sarah malah tertawa terbahak-bahak melihat pembunuhan ini.


Arum segera membuka liontin itu dan membuat hantu Sarah sedih "sudah hentikan Sarah, ibumu tak ingin kamu menjadi pembunuh. Hentikan semua ini. Kenapa kamu menjadi seperti ini "


"Tidak, tidak pasti ibuku bangga aku telah membuatnya mempunyai teman "


"Itu salah Sarah, ibu mu sedih melihat kamu menjadi seperti ini "


Tiba-tiba sosok ibu Sarah muncul dan memeluk Sarah, Sarah menangis sejadi jadinya. Bangunan Tiba -tiba bergetar.


"Ayo cepat pergi " ajak Tinah.


Segera mereka bertiga berlari ketempat mereka awal muncul. "Rum ini peganglah " ucap Angga memberika sobakan kertas itu.


Segera Arum mengambilnya lalu mereka bertiga menyatukan kertas itu. Seketika silau menghalangi mereka berdua.


Arum segera membuka kedua matanya melihat sekitar yang ternyata sekarang dirinya sudah ada didepan sekolah. Tinah segera mengalihkan pandangannya. Kenapa Arum yang ada di sampingnya.


Arum juga lalu mengalihkan pandangannya. Hanya ada mereka berdua tak ada Angga. Angga merekan dirinya diam dinia gaib itu untuk menyelamatkan Arum.


"Tidakkk " histeris Tinah, rencannya gagal. Bukan seperti ini yang dirinta mau.


"Angga, Angga kamu dimana Angga " teriak Arum sambil berdiri dan seketika Arum terbangun..


Nafas Arum sampai tak beraturan peluh bercucuran tak karuan. Jadi semua ini mimpi. Sahabatnya berarti masih hidup. Angga juga pasti masih adakan bersamanya.


Segera Arum mengambil ponselnya lalu menghubungi no Angga. "Hallo Angga kamu baik-baik aja " berondong Arum


"Iya aku baik Rum, kamu kenapa "


"Sekarang kamu dimana Angga, kamu dirumah kan "


"Iya aku dirumah, kamu kenapa Rum, coba kamu cerita sama aku "


"Iya aku gak akan ikut, aku kan kalau kemana-mana suka bilang sama kamu "


"Iya Angga, pokoknya aku minta kamu selalu jaga diri kamu ya "


"Iya Arum, iya gih sekarang kamu cepet kekamar mandi, pasti semalem langsung tidur, kamu mau ikut ga kemakam pak Nur "


"Iya Angga aku cape semalem, aduh aku lupa, aku mandi duly ya Angga"


"Yaudah Sana, nanti aku jemput ya "


"Iya Angga, dadah "


"Dadah Arum "


Dengan tergesa-gesa Arum masuk kedalam kamar mandi, tak terasa sudah pagi saja. Sungguh mimpinya itu sangat menakutkan sekali. Untung saja tak nyata kalau tidak dirinya bisa kehilangan sahabat-sahabatnya itu dan juga laki-laki yang Arum sayangi.


Tadinya ingin menelfon, Hanin, Ayudia serta Bella. Namun dia urungkan kan sekarang akan bertemu, akan dia lihat langsung. Kalau sahabat-sahabatnya itu baik-baik saja.


Tak menyangka pak Nur, gurunya yang baik, meninggalkan mereka semua. Semuanya kehilangan pak Nur.


Arum sudah selesai segera memakai pakainnya dan merapihkan penampilannya. Menemui Angga yang sudah menunggunya diluar rumah.


"Maaf ya Angga aku lama "


"Gak kok Rum, aku aja baru dateng ayo kita berangkat " Arum segera Naik.


Selama perjalan Arum diam sambil menyenderkan kepalanya di bahu Angga. Memikirkan mimpinya yang masig teringat jelas olehnya.


Segera Angga memarkirkan motornya saat sudah ada didepan rumah pak Nur. Teman-teman yang lain juga sudah ada disana. Angga bahkan mengandeng tangan Arum.


Keluarnya bahkan masih banyak yang menangis, kehilangan seseorang yang sudah menjadi panutan mereka semua.


Arum melihat teman-temannya ada disana segera Arum mempercepat langkahnya. Lalu melepaskan genggaman tanggannya bersama Angga dan memeluk mereka bertiga secara bersamaan.


"Rum kamu kenapa " tanya Hanin yang kebinggungan.


"Engga aku kangen aja sama kalian bertiga "


"Ish Rum baru aja kita berpisah udah kangen aja " timbal Ayudia sambil terkekeh.


Namun mereka berempat lalu mempererat peluakannya. Arum tak mau menceritakan tentang mimpinya. Itukan hanya bunga tidur dan shabat-sahabatnya masih ada jadi tak perlu khawatirkan.


"Lebay banget " ucap Tinah sambi melengos pergi.


"Apa sih lo sirik ya nenek sihir " teriak Bella.


Tinah tak menangapinya langsung pergi saja.