Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Asrama dan kak Tri


Arum sudah sampai rumah dan sudah memberikan surat yang diberikan oleh guru, ya mamah dan bapaknya mau tak mau menerimanya karena disana tertera semua murid harus ikut tanpa terkecuali jadi mamah dan bapaknya harus memberikan Izin pada dirinya untuk pergi asrama selama 1 bulan penuh.


Arum fokus saja mengepak pakainnya, tak terlalu banyak yang Arum bawa, karena kan memang sehari-hari memakai seragam kalau untuk pakaian lainnya Arum hanya membawanya beberapa dan baju tidur juga tak lupa.


Dari tadi handphonenya berdering telfon dari Angga, dirinya tak sama sekali berminat untuk mengangkat telfon dari Angga biarkan saja, sedang tidak mood untuk menerima panggilan dari Angga.


Tadi pun Angga kerumah tapi Arum sudah memberitahu pada mamahnya bilang saja kalau dirinya sudah berangkat kerumah Hanin main, dirinya belum siap untuk berbicara dengan Angga. Boleh kan kalau dirinya ini egois.


"Kakak mau kemana " tanya Adell dengan wajah sedihnya.


"Kakak sekarang asrama Dell"


"Terus apakah kakak akan kembali lagi "


"Tentu kakak hanya sebentar "


"Apa aku boleh ikut, aku sangan khawatir dengan kakak "


"Tentu boleh tapi jangan nakal "


"Beneran kak boleh ikut "


"Iya boleh Adell sayang, tapi kamu harus selalu ada didekat kakak gaboleh kemana-mana janji " ucap Arum sambil memberikan jari kelingkingnya


"Horeeee iya janji kak" sambil menautkan kelingkingnya kekelingking kak Arumnya.


Setelah pembicaraannya bersama Adell selesai segera Arum kembali membereskan semua kebutuhannya, semua sudah terpacking dengan rapih.


***


Sedangkan Angga bukannya packing malah bulak-balik tak bisa diam memikirkan bagaimana cara menghubungi Arum sudah disusul kerumahnya sama aja ga mau keluar Arum,


Tadi dirinya sudah menghubungi Hanin menanyakan tentang keberadaan Arum yang katanya main kerumah Hanin namun kata Hanin tak ada Arum dirumahnya.


Kenapa coba menjadi rumit seperti ini dirinya hanya niat menolong saja. Kalau jadi begini dirinya tak akan mau menolong Tinah lagi.


Angga segera mengeluarkan seluruh pakainnya dan memekingnya dengan asal biar lah yang mana saja dia bawa yang penting ada pakaian ganti untuk dirinya.


Dirinya sedang galau karena Arum, baru kali ini dirinya takut kehilang seorang perempuan, Arum sudah bisa memporak porandakan hatinya.


***


Pagi pun tiba semua anak-anak sudah ada didepan sekolah berjajar sesuai dengan absen yang sudah di sesuaikan. Angga dari tadi menatap Arum yang mulai acuh padanya.


Tadi juga saat Angga mendekatinya Arum segera pergi. Padahal Angga belum sampai kehadapan Arum, namun Arum sudah menjauh darinya.


Tinah yang melihat Angga segera menghampirinya dan duduk disisi Angga, menatap Angga yang matanya sedang fokus melihat Arum yang sibuk bersama teman-temannya yang tak berguna.


Segera semua murid di giring untuk masuk kedalam bis Arum sudah duduk dengan Bella namun duduk yang dikursi 3 orang. Tinah segera duduk di pinggir Bella.


"Ngapain lo duduk disini " ucap Bella dengan sewot.


"Gimana gue lah, kenapa lo keberatan, kita kan satu kelompok jadi gamasalah kan "


"Udah lah Bell" ucap Arum menyela Bella yang akan membalas ucapan Tinah.


Sedangkan Angga duduk dibelakang Arum persis dibelakangnya, Angga hanya bisa menatapnya tanpa bisa menyapa atau mengajak ngobrol Arum. Sekarang biarkan saja Arum tenang dahulu nanti kalau semuanya sudah membaik dia akan menjelaskan semuanya pada Arum.


**


Diasrama sana sudah ada murid yang memang di siapkan untuk membantu sekolah Arum nantinya disini ada 10 murid dan 2 guru disana.


Sudah menunggu dengan tenang untuk menyambut mereka semua, kamar sudah siap semua, asrama laki-laki dan perempuan dipisahkan gedungnya namun tak jauh hanya beberapa meter saja.


Arum selama perjalanan hanya menatap keluar jendele melihat jalan yang sepi tempatnya seram sekali, sedangkan Adell ada berdiri dihadapannya sambil menatap wajah Arum yang murung.


Adell tak akan mungkin mengajak kak Arum mengobrol karena mereka sedang tidak berdua, Adell tak mau nanti kak Arum dibilang gila karena berbicara sendiri. Dia juga tahu kalau teman kak Arum yang dua ini mempunyai maksud yang berbeda dengan kak Arum jadi sekuat tenaga dirinya harus bisa menjaga kak Arum.


Segera Adell duduk dipangkuan Arum sambil sesekali membelai wajah kak Arum, Arum hanya bisa tersenyum dengan tingkah anak kecil yang menggemaskan ini.


Bella dan Tinah ya seperti biasa sedang berdebat entah lah mereka berdua dari tadi bertengkar terus menerus tak ada habisnya. Bagaimana nanti di kamar coba kalau terus begini masa iya akan bertengkar terus menerus..


Perlahan bis berhenti ternyata sudah sampai disekolahnya bahkan asramanya sudah terlihat sangat bangus sekali semua mata melihat takjub dengan bangunannya yang klasik.


Satu persatu diabsen dan turun dari bis, Arum segera turun bareng bersama Bella ya karena Bella pun tak pernah melepaskan peganggan tangannya pada Arum takutnya nanti ada yang macam-macam lagi.


Segera 10 orang itu memperkenalkan diri serta kedua guru tadi yang bernama bu Tika serta pak Yandi.


Segera mereka semua digiring untuk istirahat, untuk segera memasuki asrama, karena malam akan segera tiba, ada yang mengantarkan mereka sampai asrama dia adalah kak Tri baik sekali dia ramah.


"Hai aku Tri" ucapnya mengulurkan tangannya kepada Arum.


"Hallo kak aku Arum " jawab Arum dengan ramah sambil menyambut tangan kak Tri.


Tinah lagi-lagi marah kenapa hanya Arum yang diajak kenalan kenapa bukan dirinya kenapa semua orang tertarik untuk berteman dengan Arum, apa spesialnya Arum sebenarnya.


"Jangan sungkan bilang aja Tri, kalau ada apa-apa kabarin aku ya "


"Tapi ga enak kak, kalau manggil nama aja, gapapa kan kalau tetep manggil kak Tri"


"Ya udah deh kalau Arum maunya gitu, yaudah kakak kesana dulu ya " pamitnya.


"Iya kak hati-hati ya. Makasih kak"


Kak Tri hanya mengangguk lalu berlalu dari sana, segera Arum dan kawan-kawan masuk kedalam ruangan asrama ada tempat tidur yang terpisah 1.


Semuanya segera masuk, Arum tidur di kasur bawah dan Bella di kasur atas sedangkan disebalahnya Ayudia dibawah dan Hanin diatas namun Tinah tiba-tiba duduk dikasur Arum.


"Ngapain lo duduk dikasur Arum" ucap Hanin.


"Gue mau disini, Arum pindah gih " perintahnya.


"Apa an sih Tin kamu tuh kenapa sih sama aku, kenapa kamu seenaknya banget ini udah jadi tempat tidur aku kamu isi aja tempat yang kosong" ucap Arum dengan tegas.


"Apa an sih galak banget loh Rum " ucap Tinah sambil mendorong bahu Arum.


"Ga usah dorong-dorong " ucap Arum sambil mendorong Tinah sampai tersungkur kelantai. Bahkan nafas Arum sudah tak beraturan.