Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Penjaga perpustakaan


Arum dan teman teman semuanya sekarang sudah lulus dan sudah kerja juga, Arum dan teman-temannya bahkan sudah berpisah dan hanya saling memberi kabar lewat group wa.


Arum dan Angga bahkan sudah berpisah dan tak saling kabar selama 1 taun lamanya, Angga tiba tiba saja menghilang begitu saja. Padahal Arum sangat ingin menghubunginya, Namun setiap dihubungi Angga sama sekali tak pernah mengangkat telfonya.


Dan sekarang Arum juga jauh dirumahnya, sekarang dirinya menjadi seorang penjaga perpustakan disebuah sekolah yang bangunnya sudah tua, bahkan disini kebanyakan berbeda beda agama, namun itu tak masalah.


Arum bisa masuk kedalam sekolah ini karena bantuan dari pamannya dan sekaligus untuk menjaga bibinya yang sekarang sedang koma di rumah sakit. Sedangkan pamannya tak bisa menjaganya karena harus bekerja keluar kota...


Arum hari ini telat kembali pulang untuk masuk kedalam Asrama, ya dirinya juga tidur di asrama bersama murid murid yang lain, disini sekolah khusus perempuan. Jadi aman tak ada laki lakinya.


Arum segera masuk lewat jendela karena pintu sudah dikunci oleh ibu penjaga asrama yang bernama ibu Wati. Arum segera pengunci jendela namun tiba-tiba di pintu sebelah kirinya ada suara.


"Tolonh, tolong saya, saya tak bersalah sama sekali, tolong saya meminta keadilan kepada anda atas kematian saya"


"Siapa malam malam seperti ini meminta tolong, masa iya disini ada laki-laki kan disini cuman perempuan aja " Gumam Arum.


"Liat atawa engga ya, tapi kalau gak diliat jadi penasaran nih "


Arum dengan berani segera melihatnya, alangkah kagetnya saat dibuka pintunya, berdiri seorang laki-laki tua yang sedang melotot pada Arum


"Kau harus tanggung jawab atas semua ini " ucap kakek kakek itu sambil mengeluarkan kedua matanya sampai keluar.


"Ta-tanggung jawab apa " Arum dengan perlahan segera mundur dan berbalik untuk segera naik keatas tanggan namun dipertengahan, tempok yang entah kenapa menghitam itu bersuara.


Arum tak menghiraukan itu semua, segera masuk saja kekamarnya lalu menguncinya dengan cepat. Takut takut nanti malah di ikuti kan bisa gawat kalau gitu.


**


Arum sekarang sedang ada didalam perpustaan sungguh sudah lapar sekali perutnya ini saat Arum akan keluar tiba-tiba ada suara kembali, seorang laki laki namun tak berwujud "tolong saya, ayolah kamu jangan mengabaikan saya. Saya tau kamu bisa melihat saya "


Arum segera pergi dengan hantu itu yang mengikutinya terus menerus, Arum segera mengantri dengan murid yang lain karena ya dirinya tak mau bergabung dengan guru guru yang lain, canggung sekali.


"Ayolah bantu aku "


"Tidak kau pergi saja " akhirnya Arum berbicara juga


"Bantu aku, aku butub bantuamu, jika bukan padamu pada siapa "


"Sudah ku bilang aku tak mau membantumu "


Orang orang yang mengantri dengan Arum sampai kebingungan dan langsung menjauh.


Setelah makanannya tersaji diatas nampan, Arum segera berjalan masuk dengan di ikuti oleh hantu tak berwujud itu, baru pertama kali dirinya tak bisa melihat wujudnya namun baunya tercium, sungguh aneh sekali.


"Ayolah bantu aku "


"Benarkah, "


"Ya benar aku tak mau membantumu "


"Itu guru penjaga perpustakaan yang aneh itukan aku akan mengejainya, dari tadi dia ngomong sendiri, akan ku permalukan dia " ucap Farah salah satu orang dari gang anak nakal.


Farah segera merentangkan kakinya dan menunggu Arum melelawatinya.


"Awas didepanmu ada kaki, tendang kakinya dari belakang " ucap hantu itu.


Arum segera melakukannya dan menendang kaki itu sampai Farah kesakitan namun teman temannya malaha tertawa.


Arum duduk paling belakang tiba tiba ada seorang murid yang duduk dihadapannya. "Bu aku boleh ya duduk bersama mu aku Sasa " sambil memperkenalkan dirinya.


Namun Arum tak menghiraukannya karena hantu itu terus saja menganggunya dan sekarang ada dibelakang Sasa...


Sasa segera menarik tangannya dan lalu melihat makanna yang sedang dimakan oleh Arum "apakah sangat enak sampai ibu memakannya dengan lahap "


"Ayolah ,ayolah bantu aku "


"Aku dulu sering dibuatkan makanan seperti itu tapi, sekarang aku sudah sangat bosan dan tak mau lagi makan, ibuku yang buat jadi aku harus selalu memakannya "


"Ayo aku harus tau aku mati karena apa "


"Aku juga dulu sering jalan jalan keluar negri bersama ayah dan ibuku namun sekarang ibuku sudah tak ada meninggalkan aku, dia meninggal saat usiaku genap 10 taun"


"Cuman kamu yang bisa menolongku "


Arum yang sudah kesal dengan hantu itu segera membuang makanannya lalu mengebrak mejanya.


"Stop jangan ganggu aku, aku gak mau diganggu sama kamu " setelah mengatakan itu Arum segera pergi dengan cepat.


Arum marah bukan pada Sasa tapi pada hantu itu yang terus berbicara dan menganggunya.


Sasa lalu menundukan kepalanya, kenapa tak ada yang mau berteman dengannya bahkan bu Arum juga gak mau, padahal sepertinya bu Arum itu enak sekali kalau diajak bicara atau dijadikan teman.


"Makannga jangan sok kenal sama orang " ucap Farah lalu tertawa.


Sasa hanya bisa diam saja, dan pergi begitu saja tanpa memakan, makanannya itu.