
Segera pak Yandi menggiring siswa siswi untuk segera kembali kekelas kembali agar aman karena kan belum tahu siapa pembunuh sebenarnya. Namun sebelum mereka sampai ada teriakan yang menggema disusul oleh suara misterius tadi "berkumpulah kalian semua di aula untuk menyelamatkan teman kalian yang berikutnya "
Pak Yuda yang marah segera mumukul-mukul tembok kenapa sampai ada lagi yang dapat oleh penjahat itu "dengarka bapak semuanya kalian tak boleh berpisah sama sekali ya harus selalu bersama-sama"
Segera mereka semua berpengangan satu sama lain, namun tiba-tiba "pak Lia ga ada " teriak salah satu murid.
"Apa coba kalian cek kembali, siapa tau ada Lia, Lia kau acungkan tangan"
Namun tak ada satupun yang mengacungkan tangannya sama sekali, hufff sudah kembali kehilangan satu muridnya bagaimana ini. Permainan macam apa ini sebenarnya merusak saja secepatnya harus segera ditangkap penjahat itu kalau dapat akan dia bunuh lihat saja tak akan dirinya lepaskan dengan begitu saja.
Lalu pak Yandi segera menyuruh mereks semua untuk melaksanakan perintah orang sakit itu untuk segera menyelatkan temannya entah yang mana antara Lia dan ketua kelas yang menghilang.
Dengan tergesa-gesa mereka segera berlari keruangan aula, dilantai sudah tertata sebuah kertas yang tertulis satu persatu huruf "teman kalian ini mempunyai dosa yang sangat besar kepada orang tuanya sekarang susunlah apa yang dia perbuat pada ibunya " ucap suara misterius itu.
Semua segera memikirkan apa kata kata yang cocok didepan hanya perlu 8 huruf saja. Namun itu cukup sulit. Karenakan mereka tak tau siapa sebenarnya korbannya ketua kelas atau Lia tapi kalau dari teriakannya itu seorang laki-laki pasti ketua kelas, tapi tetap saja mereka semuanya tak tau apa yang dilakukan ketua kelas pada ibunya dosanya apa sungguh tak tau sama sekali.
Sedangkan diatas sana ketua kelas sedang berteriak dengan histeris kedua matanya serta mulutnya ditutup, namun diatas badannya banyak lilin yang diletakkan disebuah kawat yang nantinya akan bercucuran keatas tubuh sang ketua kelas.
Dia sudah sangat kepanasan namun tak ada yang bisa dilakukan hanya bisa berteriak dan pasrah. Tangan dan kakinya ditali dengan sangat kuat,bahkan dia sudah tak berbusana sama sekali.
Teman-temannya yang dibawah sebenarnya mendengar teriakan-teriakan menyakitkan itu, namun sebisa mungkin mereka semua harus fokus mencari huruf-huruf yang benar. Agar temannya selamat dan mereka juga tak menjadi korban berikutnya pula.
Arum dan Angga dari tadi diam dipanggung membantu pak Yandi menyusun kata perkata yang masuk akal untuk mereka semua susun. Untuk urusan benar atau tidaknya kita lihat saja semoga saja benar dan bisa menyelatkannya.
Sedangkan orang itu hanya diam sambil mengawasi orang-orang yang sedang sibuk melakukan pencarian kata itu, Lihat saja akan dia balaskan sakit hatinya ini. Tak boleh ada siswa yang selamat semuanya harus mati ditangannya tak boleh ada yang lolos satu pun.
Nyawa harus dibalas kembali dengan nyawa enak saja kalau lolos begitu saja. Meskipun yang salah hanya satu orang tetap saja semuanya harus mati.
Mereka semua segera menyusun satu persatu hutuf itu namun belum juga selesai, sudah terjatuh mayat dari atas plafon dan itu adalah ketua kelas yang badannya dipenuhi oleh lelehan lilin. Kedua matanya dan mulutnya sudah full tertutup oleh lelehan lili. Coba kalian bayangkan penderitaan ketua kelas.
Pak Yandi segera menghampiri mayat itu jawabannya ada ditubuh mayat itu, sial sial dia sudah gagal untuk menyelamatkan kembali muridnya lantas pak Yandi terduduk meratapi nasibnya serta murid murid yang lain.
Dia harus segera menemukan dalang dari semua kejadian ini, kalau seperti ini terus semua yang ada disekolah akan mati satu persatu. Semua murid sudah histeris bahkan ada yang sampai pingsan takut akan semua kejadia ini.
Bu Tika segera menghampiri anak yang pingsan itu, dan meminta bantuan pada anak laki-laki untuk membopongnya kesisi aula. Segera dengan patuh mereka melakukan perintah gurunya.
Ya memang siapa juga kan yang mau mati sebelum waktunya tak akan ada yang mau, semua sudah menjadi sangat rumit sekali sampai-sampai melibatkan mereka semua yang tak tau apa-apa.
Kak Tri tiba-tiba datang langsung berlari menghampiri Arum dan langsung memeluk Arum dengan erat" kamu gapapa kan Lidya,eh maaf Rum "
"Aku gapapa kok kak " sekarang Arum menjadi lebih binggung kenapa kak Tri menyebut nama Lidya. Apakah yang bernama Lidya itu adalah sosok hantu yang menyerupainya bisa jadikan siapa tau kan.
"Lidya siapa kak " tanya Arum penasaran.
"Nanti juga kamu akan tahu Rum " ucap Kak Tri.
Segera kak Tri mengandeng Arum, teman-teman Arum hanya bisa melihatnya tanpa mau berkomentar toh apapun yang mereka tanyakan tak akan dijawab oleh kak Tri jadi percuma saja kan.
Angga kali ini tak mengikuti Arum karena sudah ada tatapan dari teman-temanya untuk tak mengikuti mereka, biarkan mereka pergi berdua saja. Angga segera berkumpul dengan teman-teman yang lainnya.
"Kita duduk disini aja Rum " kata ka Tri
"Baiklah kak. Apakah aku boleh tanya sesuatu kak "
"Ya tentu saja apa yang ingin kau ketahui Rum "
"Sebenarnya siapa hantu yang selalu ada dalam mimpiku dan mempunyai wajah yang sangat mirip denganku. Aku tahu, pasti kakak tahu sesuatu yang kami semua tak tau sama sekali tentang sekolah ini "
"Apakah kau akan berjanji tak akan memberitahunya kembali pada siapa pun itu, termasuk Angga sahabat kamu "
"Ya aku berjanji asalkan kakak jujur semuanya, siapa perempuan itu. Yang sekarang ada dibelakang kakak " ucap Arum yakin sambil menyeringai dengan misterius.
Kak Tri segera celingak-celinguk mencarinya namun dia tak bisa melihat hantu itu, dia tak bisa melihat sahabatnya Lidya kesayangannya.
"Baiklah, aku dan Lidya adalah sepasang sahabat yang tak bisa dipisahkan. Kau tahu kamar yang sekarang kamu pakai adalah kamarku bersama Lidya dan teman-teman yang lain. Dia adalah anak terpintar disekolah ini bahkan kesayangan guru-guru karena parasnya dan tentunya kepintarannya juga, dia belajar banting tulang hanya untuk bisa membantu orang tuanya agar dia bisa mengembalikan kembali perusahan orang tuanya yang sudah bangkrut itu cita-cita terbesarnya " cerita kak Tri sambil tersenyum senang.
"Lalu kenapa kak Lidya bisa mengangguku dan kenapa dia sudah tak ada tapi masih disini " tanya Arum dengan hati-hati.
Kak Tri lalu tersenyum dan menatap kembali mata Arum...