Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Kesedihan kak Tri


Sekarang semuanya sudah Terbongkar bahwa pembunuhan ini dalangnya adalah orang tua Lidya yang ingin balas dendam atas kematian anaknya.


Teror-teror itu sudah tak ada, semuanya kembali seperti sedia kala. Namun tak dapat dipungkiri banyak korba berjatuhan dan akan mengakibatkan troma pada anak-anak yang lainnya.


Bu Tika yang baru sadar dari keterkejutannya segera menghampiri Arum yang baru sadar dan sekarang sedang dipeluk oleh Angga dan kak Tri. Bu Tika segera bergabung memeluk mereka semua. Akhirnya semuanya berakhir dan tak mengakibatkan banyaknya lagi korban berjatuhan.


Segera mereka berempat bangkit "Arum kamu kuat " tanya bu Tika


"Aku kuat bu " jawab Arum dengan suara paraunya.


"Naiklah kepungungku Rum, aku tahu kamu lelah ayo cepat " minta Angga. Yang sudah berjongkok agar Arum segera naik kepungungnya.


"Tapi luka kamu Angga "


"Tak usah memikirkan itu, ayo cepat naik "


Arum yang tak ingin membantah Angga segera naik dan Angga segera bangkit sambil mengendong Arum , untuk menemui murid yang lain yang sedang menunggu didalam kelas.


Memberitahu mereka bahwa semuanya sudah selesai, mereka sudah selamat dan tak akan terjadi lagi teror yang menyeramkan.


Arum hanya bisa menyenderkan kepalanya, lelah energinya sudah terkuras dengan habis, sekarang hanya bisa diam dan menikmari kebebasan ini.


Awalnya dirinya berfikir kalau dirinya tak akan selamat, namun ternyata salah. Banyak orang yang selamat dan dirinya berterimakasih kepada kak Lidya yang telah menyadarkan orang tunya untuk segera memberhentikan semua ini.


**


"Sudah Hanin , Tinah jangan bertengar tolong " teriak Ayudia sambil menangis.


"Kalian ini tak tau kondisi sekali bagaimana kalau pembunuh itu datang kesini, bagaimana kalau Arum tak selamat dan Angga tolong kalian jangan egois seperti ini " teriak Ayudia kembali.


Lalu Hanin dan Tinah berhenti bertengkar, Hanin yang melihat sahabatnya menangis segera menghampirinya lalu memeluknya dan menguatkan Ayudia yang mengingat saudaranya yang sedang ada diluar, yang pasti sedang dalam bahaya.


Sama dirinya pun khawatir dengan Arum dan Angga namun dirinya enggan untuk menampakannya kepada teman-temannya. Bukan karena apa-apa hanya saja agar mereka juga tak khawatir.


Tiba-tiba tok tok tok. Mereka semuanya yang mendengar ada suara ketukan segera diam, takut jika itu pembunuhnya. Namun tok tok kembali terdengar suara ketukan itu.


Mereka semua memundurkan dirinya, takut jika nanti saat membuka pintu penjahat itu akan membunuh mereka semua. Belum siap mereka semua untuk mati. Tapi mana ada orang yang siap mati itu sangat mustahil.


Bella yang mencoba untuk berani segera kesana, Hani sudah memengang tangannya dan mengelengkan kepalanya lalu Bella segera melepasnya dan melihat dari lubang pintu.


Angga yang mengerti segera menurunkan Arum dengan hati "kamu kenapa Rum, kamu ga terlukakan " tanya Bella yang khawatir dengan keadaan Arum


"Aku baik - baik aja Bella " jawab Arum lalu Bella segera memeluk Arum dengan erat. Hanih dan Ayudia pun segera ikut memeluk Arum.


Tinah yang melihatnya hanya tersenyum kecut, kenapa coba harus selamat "anak tuh ga mati-mati " ucap Tinah dengan pelan.


Namun tiba-tiba bulu kuduk Tinah merinding, apalagi ini, apa hantu itu akan menghantuinya lagi karena menympahi Arum mati.


Arum ini ga manusia ga hantu semua ngebela dia, apa hanya dirinya saja yang benci sama Arum "kamu iri kali " tiba-tiba saja ada suara berbisik di telinga Tinah.


Segera Tinah mengedarkan pandangannya namun dipinggirnya tak ada orang sama sekali, siapa itu. Ist menakutkan sekali sekolah ini.


Tri yang melihat itu menjadi sedih, dirinya tak bisa sama sekali melakukan itu. Sahabatnya satu-satunya Lidya sudah tak ada.


Segera dirinya pergi memisahkan diri. Pergi ketaman sekolah, duduk sendirian disana. Dari kejauhan Tri sudah melihat mobil polisi dan beberapa ambulans. Siapa yang melaporkan ini.


Tri yang melihat itu hanya diam duduk tanpa menemui mereka, dirinya sekarang ingin diam seperti ini. Semua sudah terbongkar. Tak menyangka dirinya ternyata sahabatnya itu dibunuh.


"Lidya apakah aku boleh, meminta tuhan untuk mencabut nyawaku ini, aku rasanya ingin selalu bersama mu. Maafkan aku tak bisa menolongmu. Aku sahabat yang tak berguna untukmu "


Polisi dan tenaga medis segera mengefakuasi semua korban dan mengeluarkan semua murid yang selamat dan guru-gurunya juga. Angga pun sekarang sudah diobati.


Arum yang tak melihat kak Tri segera mencarinya. Tanpa sengetahuan teman-temanya yang lain. Ada yang perlu dirinya bicarakan pada kak Tri banyak. Kak Tri harus mengetahui semuanya tentang kematian ka Lidya.


Arum celingak-celinguk dan melihat kak Tri yang sedang melamun duduk sendirian ditaman. Arum dengan perlahan menghampiri kak Tri lalu memegang tangan kak Tri.


Segera Tri mengalihkan pandangannya lalu mengusap air matanya dam ternyum pada Arum.


"Kenapa Rum "tanya ka Tri.


"Aku tahu, kehilang seorang sahabat itu sangat menyakitkan namun kakak harus kuat menerima semua ini, semua takdir yang sudah digariskan oleh Allah. Aku tahu ini berat tapi aku yakin kakak bisa menghadapi semuanya. Selalu doakan kak Lidya, dimana pun kakak berada, kak Lidya akan selalu ada disini " tunjuk Arum kedalam hati kak Tri.


Seketika air mata Tri mengalir dan menangis dengan pilu. Mengingat semua kenangannya bersama sahabatnya. Semua terbayang satu persatu. Bahkan untuk pertemuan yang tadi dirinya belum puas. Rasanya ingin selalu ada disamping Lidya.


Arum segera memeluk ka Tri untuk membuanya kembali tenang. Menguatkan kembali kak Tri yang sedang terpuruk dan butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahnya.