Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Ternyata dia


"Siapa kalian ada di dalam ruangan anakku, kenapa kalian main masuk masuk saja, anak ku belum bisa ditengok, apa yang akan kalian lakukan, apa kalian ingin mencelakai anak ku "marah Ayah Sasa


"Tidak tidak kami tidak ingin melukai anak om, kami ke sini untuk menengok Sasa, kata Bu Arum dia kritis Jadi kami semua kemari untuk melihat keadaan Sasa, kami teman baik Sasa kok om"ucap Dea dengan sungguh-sungguh


"Teman baik aku rasa anakku tidak mempunyai teman baik Dia selalu sendiri di sekolah dan aku mengawasi siapa saja temennya anak ku hanya Bu Arum yang berteman dengan anak ku, lalu kalian siapa aku tak mengenal kalian sama sekali, keluar kalian dari sini "


Dengan gugup Novi segera maju dan mendekati ayahnya Sasa. Berdiri dengan serba salah.


"Mungkin saja Sasa tidak menceritakan kami om, makanya om gak tahu kita itu selama ini tuh deket banget sama Sasa, Sasa itu pendiam banget ya Om, kita aja kalau ngobrol sama dia tuh susah banget, kita tuh sedih banget ngelihat Sasa kayak gini, maaf ya om kita tiba-tiba aja masuk, tanpa bicara sama suster atau dokter gitu , ya udah kita pamit dulu keluar ya om maaf Kita udah ganggu"


Novi segera mengajak kedua temannya, untuk segera keluar dari ruangan Sasa dan terbirit-birit masuk ruangan Farah. Farah sudah senang melihat teman-temannya kembali keruangannya pasti sudah berhasil.


"Bagaimana apakah kau sudah membunuhnya gimana seru nggak bunuh orang, aku pengen tau ceritanya, ayo ceritakan "tanya Farah dengan semriwingan.


"Apaan sih kamu gila Farah, bunuh orang itu yang ada kita tuh kayak orang gila, kita sama sekali enggak bisa bunuh dia ayahnya datang kalau kita ke tangkep basah gimana. Untung aja tadi Novi punya alasan jadi kita bisa keluar kamu mikir ke sana nggak " jawab Chika dengan marah.


"Kau berani memarahiku, aku hanya mengatakan itu tapi kau berkata seperti aku ini penjahat, kau ini sebenarnya temanku apa bukan sih. Kalian bertiga keluar dari ruangan ku jangan ada yang menungguku satupun orang, aku tak sudi kalian di sini kalian tuh bukan temanku kalian hanya pesuruh bagiku" Farah langsung menutup mulutnya dengan tangannya dirinya keceplosan berkata seperti itu.


"Oh begitu ya ternyata selama ini kita ini cuman pesuruh kamu aja gitu Farah, kita sia-sia yah temenan sama orang kaya kamu, nggak tahu diri dan juga keterlaluan banget pokoknya kita harus pergi dari sini, kita nggak usah temenin dia lagi, kita pulang biarin dia di sini sendirian dan kita aduin sama kepala sekolah, apa aja yang Farah lakuin sama Sasa kita sekarang bilang sama kepala sekolah, selama ini kita cuman dianggap sampah "marah Novi


"Iya bener ayo kita pergi saja dari sini, percuma kita dulu berteman dengan dia , ternyata dia selama ini menganggap kita hanya seorang pembantu . Lebih baik dari dulu kita berteman dengan Sasa dia lebih baik dan lebih menganggap kita sebagai teman, kita salah memilih teman selama ini kita hanya dijadikan budak saja ,ayo kita pulang jangan biarkan perempuan ini membuat kita susah kembali "marah Dea juga


"Jangan-jangan aku hanya pura-pura saja kalian tuh yang gak bisa diajak bercanda sedikit gitu, jangan dong aku cuma bercanda udah sini tungguin aku di sini jangan kemana-mana ya aku butuh kalian bertiga Aku nggak bisa hidup tanpa kalian bertiga "


"Tidak sudi " jawab Chika sambil menarik Dea dan juga Novi dari ruangan Farah, sedangkan Farah dia berteriak-teriak histeris karena ditinggalkan temannya,


Namun mereka semua tak menghiraukan itu, lebih baik mereka sekarang pergi dan mengatakan semuanya pada kepala sekolah, kalau semua ini terjadi gara-gara Farah, Farah sangat keterlaluan dan menyebalkan sekali.


**


"Apa yang kau lihat Arum apakah kau melihat orang itu yang jatuh di sana setelah Putri Ayu"


Arum lalu melihat ke arah semak-semak ada orang yang memakai baju hitam, sedang memegang pistol panjang sekali, Arum juga tidak tahu itu pistol apa namun tiba-tiba saja orang itu yang baju hitam itu menembakkan pistolnya ke arah laki-laki itu.


Sampai laki-laki itu tenggelam kebawah. Arum mencoba melihat lebih dekat lagi dan dan ternyata benar orang itu adalah kakak tingkat yang sekarang ada di hadapannya, jadi orang yang meninggal setelah Putri Ayu itu adalah kakak tingkat ini.


Jadi selama ini yang Arum selalu Lihat mayat di sini adalah maka kakak tingkat yang selama ini ikut dengannya, kenapa dirinya tak bisa menyadarinya.


Jadi selama ini Arum memecahkan kasus kakak tingkat bukan kasus Putri Ayu dan siapa sebenarnya yang membunuh Putri Ayu, tapi malah memecahkan kasus pembunuhan kakak tingkat.


Yang sekarang mengikutinya, Arum segera berlari mengikuti orang yang menembak kakak tingkat dan saat Arum melihat wajahnya sungguh Arum tak menyangka kalau orang itu yang membunuh kakak tingkat,


Apakah dia Ayah dari Saidah selingkuhan Putri Ayu bisa jadi itu dia tidak ada yang tau.


"Arum sadarlah Arum "


Arum segera sadar dan melihat ke arah kakak tingkat wajah Arum berubah menjadi pucat pasi"Ada apa denganmu Arum siapa yang tertembak itu siapa"


"Kau kakak, kau korban yang ditembak dan kau pasti tidak akan menyangka kalau yang menembak kau itu adalah dokter Dimas apakah kau sebelumnya ada hubungan atau masalah dengan dia sampai dia membunuhmu"


"Apa jadi selama ini aku memecahkan kasus ku sendiri, pembunuhan ku sendiri aku dibunuh oleh Pak Dimas apa kau yakin Arum "


"Tentu aku yakin seyakin-yakinnya itu kau, aku melihat jelas wajahmu tapi tidak pucat seperti saat ini, sungguh aku sangat tak menyangka ternyata itu kau, kita memecahkan kan apa yang seharusnya tidak kita pecahkan, tapi syukurlah aku bisa tahu kematian mu karena apa, kenapa kau bisa bergentayangan seperti ini"


"Aku rasanya tak bersemangat lagi. Aku pergi dulu ya, aku ingin menenangkan diriku sebentar. Jangan mencariku Arum segeralah istirahat dan jangan membuat dirimu lelah, jangan ke rumah sakit lagi ya, nanti ada saatnya aku akan menemuimu kembali, berbicara denganmu kembali. Hari ini aku tak bisa berbicara apa-apa lagi"


Arum yang melihat kakak tingkat itu sedih sungguh tak menyangka bahwa akan seperti ini, ternyata benar apa yang dia lihat dulu memang benar kakak tingkat itu, apa dirinya salah bicara atau apa ya sampai dia pergi.


arum segera berjalan meninggalkan tempat itu dengan lesu, apakah ini salah dirinya, salah karena bisa melihat tentang kematian kakak tingkat itu, apakah salah dirinya ini tau ah pusing lebih baik pergi saja ke kamarnya dan nanti pagi akan pergi lagi ke rumah sakit.