Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Bima mulai lagi


"Rum ini buat kamu " ucap Bima sambil memberikan sebuah bungkusan.


Arum melihat kearah suaminya, dan Angga menganggukkan kepalanya, Arum dengan sungkan mengambilnya dan tersenyum samar "makasih "


"Sama sama, aku pulang dulu ya, Angga ayo aku duluan ya "


"Iya Bima "


Angga segera membawa istrinya masuk dan menutup pintunya "Rum muka kamu kenapa kok pucat sih "


"Emm aku baik baik aja kok, ini maksudnya Bima apa ya tiba tiba kasih makanan kayak gini "


"Katanya sih buat sambut tetangga baru, yaudah sayang terima aja gak apa apa "


"Kamu gak marah"


"Untuk saat ini engga, kamu beneran gak apa apa "


"Iya aku beneran gak apa apa kok Angga, aku baik baik aja "


Angga segera menganggukkan dan mengusap kepala istrinya "Yaudah aku mandi dulu ya "


Arum menganggukkan kepalanya setelah suaminya masuk kamar Arum kembali kedapur tak lupa makanan tadi dirinya simpan dimeja makan. Tenang saja untuk pakaian suaminya sudah dirinya siapkan.


Arum segera menyelesaikan masakannya, menatapnya dimeja makan dan semuanya siap, tak lama kemudian suaminya datang dan sudah terlihat segar.


"Kamu mau langsung makan Angga "


Angga segera duduk dan disusul oleh Arum, Arum segera melayani suaminya dan mereka langsung makan, baru juga Arum beberapa suap, dirinya sudah mual lagi, dengan cepat Arum segera berlari kearah kamar mandi dan memuntahkan makanannya yang baru saja ditelan tadi.


Angga yang khawatir mengikuti istrinya dan memijat tengkuknya "kamu kenapa Rum "


Arum menyeka mulutnya dan menatap suaminya "gak tau aku dari tadi siang muntah muntah terus, setiap udah di isi kayak gini "


"Yaudah ayo kita kedokter "


"Em gak usah Angga aku baik baik aja ini pasti karena aku kecapean deh, aku baik baik aja kok beneran deh "


"Yaudah gak apa apa, kita cek aja kedokter Rum, ayo sini aku bantu kamu duduk "


Angga memapah istrinya dan mendudukkannya dikursi meja makan, sedang kan Angga sendiri masuk kamar dan mengambil jaket untuk dirinya dan juga Arum.


Angga langsung memakaikan jaketnya pada sang istri dan memapahnya keluar rumah. "kamu kuat kan kalau naik motor Rum, atau kita naik taksi aja "


"Aku kuat kok Angga "


Angga membantu istrinya naik motor dan segera pergi dengan terburu buru, namun tetap memperhatikan istrinya, sedangkan Bima yang memang rumahnya tak jauh dari Angga dan Arum mengernyitkan dahinya.


"Mau ke mana mereka berdua kok kayaknya buru-buru banget sih, apa ada yang terjadi sama Arum dia juga mukanya tadi kelihatan pucat banget ikutin jangan ya tapi kalau diikutin nanti Angga curiga lagi tapi kalau nggak diikutin malah jadi penasaran dan khawatir udah deh ikutin aja deh "


Bima dengan cepat segera mengambil kunci motornya dan mengikuti kemana Arum dan Angga pergi, ini adalah hal tergila yang pernah dirinya lakukan mengikuti seorang suami istri dan baru kali ini juga dirinya tertarik pada seorang perempuan.


Ya maksudnya setertarik ini dulu memang seringlah tertarik dengan wanita-wanita cantik tapi tertarik pada Arum itu sangat berbeda ya rasanya pokoknya berbed, susah sekali untuk dijelaskan entah kenapa dengan hatinya ini. Dirinya pertama melihat Arum tiba-tiba jantungnya berdebar-debar tak karuan dan merasa kalau Arum itu pantas untuk menjadi pasangannya, pantas untuk dia bahagiakan.