
Bella segera kembali ketempat duduknya dengan nafas yang tak beraturan, Arum segera memberinya minum. Segera Bella mengambilnya dan meminumnya dengan sekali teguk. Sebenarnya dirinya belum puas, dia tahu sebenarnya perempuan penuh drama itu pasti bohongan pingsan. Masa iya dipelintir sedikit aja langsung pingsan.
Hanin dan Ayudia mengipas-ngipasi Bella dengan buku tebal mereka, agar emosi Bella cepat mereda nanti takutnya mereka semua yang berikutnya akan menjadi pelampiasan Bella yang bar bar ini.
Angga yang tidak tega dengan inisiatif berjalan kearah Tinah , Angga segera memangku Tinah dan mendudukannya dikursinya. memberikan minyak kayu putih kehidung Tinah dan mengipas-ngipas wajah Tinah.
Anak-anak yang lain tak memperdulikannya hanya acuh saja, membiarkan Angga menolong Tinah sendirian, bukannya mereka tak punya hati hanya saja ingin memberi pelajaran pada Tinah Agar tak mengulangi kesalahan yang sama.
Kalau terus diberi hati nanti dirinya akan melunjak dan akan melakukan kesalahan yang sama terus menerus. Nanti keenakan sama Tinahnya.
Arum yang melihat adegan itu hanya bisa menatapnya, tak bisa berkata apa-apa namun hatinya sangat sakit sekali. Kenapa Angga melakukan itu biasanya Angga hanya perhatikan padanya namun sekarang kenapa Angga peduli dengan Tinah.
Bella yang menatap wajah Arum yang sedang sedih karena melihat Angga yang perhatian dengan Tinah tersenyum menyeringai. Hemm sepertinya Arum menyukai Angga itu tak boleh terjadi Arum hanya boleh menjadi miliknya seorang.
Segera Bella memegang tangan Arum, namun mata Arum hanya fokus melihat kearah Tinah dan Angga, melihat akan ada apa lagi adegan apa lagi yang akan mereka tampilkan.
Lalu Arum sadar, dia tak boleh egois dirinya bersama Angga hanya seorang sahabat tak lebih, tak boleh dirinya ini marah pada Angga, itu tak berhak.
Tinah siuman dan tanpa diduga-duga Tinah memeluk Angga dengan erat, sambil menangis sesegukan. Menumpahkan semua tangisnya.
Arum yang melihat semua adegan itu segera mengambil tasnya, lalu berlari pergi keluar dari kelasnya. Angga yang melihat Arum pergi sangat panik dengan sedikit kasar melepaskan pelukan Tinah lalu mengejar Arum yang pergi entah kemana.
Bella, Hanin dan Ayudia pun sama pergi dari kelas tak lupa membawa tas mereka masing-masing. Khawatir dengan Arum yang tiba-tiba saja berlari seperti ini.
Sedangkan Arum sekarang sedang berlari terus menerus masuk kedalam kamar mandi yang ada diluar pos satpam yang memang disediakan dipos untuk satpam yang menggunakannya.
Namun Arum pergunakan untuk bersembunyi dari Angga serta teman-teman yang lain agar tak terkejar dirinya ini.
Angga sudah mencari kemana-kemana namun tak ada Arum lari kemana sebenarnya "sial,sial" kenapa dirinya ini ceroboh sekali sampai membuat Arum marah padanya. Padahalkan niat awal dirinya hanya ingin menolong Tinah yang pingsan tak ada maksud apa-apa.
Hanin dan kedua kawannya sudah ada dihadapan Angga "Mana Arum Angga "tanya Hanin dengan nafas ngos ngosan.
"Aku juga tidak tahu, aku kehilangan jejak Arum " ucap Angga dengan frustasi.
Sedangkan Arum sedang menangis dikamar mandi sambil memukul-mukul dadanya, entah kenapa sakit sekali hatinya ini, apa sebenarnya yang dirinya rasakan apa dirinya cemburu kepada Tinah.
Cemburu dalam hal apa yang hatinya rasakan sebenarnya, masa iya cemburu sejak kapan dia cemburu seperti ini. Apa dirinya ini mencintai Angga ? padahalkan dia sudah menghilangkan rasa cintanya pada Angga.
Segera dirinya menempelkan telingan kedaun pintu kamar mandi, benar suarannya ada dikamar mandi "hey siapa didalam " ucap pak satpam.
Arum yang mendengar ada ketukan membuka pintunya dengan rambut yang menghalangi wajahnya "ahhh hantu " teriak pak satpam.
Arum celingak-celinguk saat pak satpam berteriak hantu, tapi yang Arum lihat tak ada hantu satu pun, segera Arum membenarkan rambutnya dan mencuci mukannya. Setelah penampilannya tak terlalu berantakan Arum segera keluar dan pulang dengan jalan kaki, sungguh dirinya lesu begini.
Pak satpan yang sedang berlari menabrak Angga. "bapak kenapa coba" tanya Angga sambil membantu berdiri pak satpam yang terjatuh.
"Anu, anu itu di kamar mandi ada hantu" jawab pak satpam dengan terbata-bata.
"Masa sih pak hantu disiang bolong, bapak ngelindur kali " kata Bella sambil menepak pundak pak satpam.
"Engga neng, beneran itu hantu bapak lihat sendiri. Tadikan bapak lagi makan neng, tiba-tiba ada suara yang nangis ya bapak cari atuh neng, ternyata ada dikamar mandi suaranya bapak ketuk keluar neng rambutnya teh panjang, ngehalangin mukannya hayu kalau eneng ga percaya mah lihat sendiri "jelas pak satpam sambil mengajak mereka untuk mengecekanya.
Segera mereka berlima berlari kesana, namun yang mereka lihat hanya pintu terbuka tak ada apa-apa, kosong kamar mandinya "tuh da nya bapak satpam mah gede bohong " ucap Hanin.
"Eh ari eneng, leres bapak mah teu ngabohong " mencoba untuk menyakinkan.
"Makannya bapak teh jangan ngalamun atuh kalau lagi jaga kaya gini teh kade weh didatangan ku penunggu " ucap Ayudia.
"Eh naha neng kalakah nyingsieunan ka bapak teh "
"Ih takut tau pak " ucap Bella sambil mengajak teman-temanya untuk berlari pulang kerumah, sedangkan Angg berlari kekelas untuk mengambil tasnya. Ingin segera menyusul Arum yang pasti sedang dijalan untuk pulang kerumahnya.
"Eh kenapa saya jadi sendir ini teh,neng,aa kamana atuh" teriak pak satpam. Dengan memberanikan diri pak satpam masuk kembali kepos dengan celigak-celinguk lalu memakan makananya dengan was-was. Takut nanti tiba-tiba ada penampakan kaya tadi lagi.
Arum masih berlari untuk segera sampai dijalan raya, mencari angkot untuk segera pulang, jangan sampai dirinya ini bertemy kembali dengan Angga bisa-bisa dirinya tak bisa kabur lagi. Dengan nafas yang sudah tak beraturan Arum segera masuk kedalam Angkot
Huff akhirnya lega juga, sudah ada didalam angkot kalau beginikan tak usah risau lagi dirinya ini. Arum segera menyenderkan badannya dan menutup semua kaca agar Angga tak bisa melihatnya.
Tapi kenapa dirinya ini geer banget. berharap Angga mencarinya, itu pasti tak mungkin toh Angga sekarang sudah mulai peduli dengan Tinah yang pasti Angga sekarang sedang mengantarkan Tinah kerumahnya.
Angga segera mengambil tasnya dengan tergesa-gesa namun Tinah tiba-tiba menghadangnya "Angga tolong anterin aku pulang " minta Tinah sambil memegang kepalanya.
Angga celigak celiguk sudah tak ada siapa-siapa ternyata disini tinggal dirinya dan Tinah saja, Angga lalu menatap Tinah dan memetang tangan Tinah yang ada dibahunya.