
Bu Tika segera keluar dari ambulans lalu pergi keluar gerbang tanpa ada orang yang mengetahuinya. Melambaikan tangannya pada seseorang. Lalu berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya.
"Ektingmu bagus na " ucap Ayahnya Bu Tika.
"Terimasih ayah, akhirnya kita bisa membalaskan atas kematian Lidya adik ku satu-satunya itu "
"Iya na benar ibu pun sudah lega sekarang "
Segera mereka bertiga berjalan untuk pulang kerumahnya dan mengemasi barang mereka semua, lalu pergi jauh dari sini dan menganti indentitas mereka semua.
Kita kembali dulu ke rencana awal orang tua Lidya dan kakaknya Bu Tika. Jadi bu Tika juga terlibat karena ternyata dia adalah kakanya Lidya yang orang pada gak tahu.
Setahun sudah kematian Lidya. Bu Tika yang memang mengajar disana tak percaya adiknya bunuh diri. Tak ada yang tahu kalau Lidya adalah adiknya karena memang Lidya yang mau. Dia tak mau dianak emaskan karena kakaknya seorang guru disekolahannya.
Karena dirinya sangat ingin memecahkan semuanya atas kematian adiknya, dirinya selalu menelor Rey dan yang membuat Rey akhirnya seperti orang gila adalah dirinya.
Dia yakin, Rey pasti menyimpan sesuatu yang dirinya tak ketahui tentang kematian adiknya. Dari gelagat Rey yang selalu gugup saat bertemu dengannya sudah terlihat dia menyembuyikan hal yang besar.
Pada akhirnya Rey mengaku padanya bahwa dia adalah saksi mata dari kematian Lidya, malam-malam sekali Rey menemuinya diruang guru.
"Bu apakah saya boleh berbica " ucap Rey yang sudah ada dihadapan bu Tika sambil menundukan kepalanya.
"Boleh ada apa " jawab Bu Tika penasaran.
"Saya ingin jujur, tentang kematian Lidya bu " ya Rey mengetahui kalau bu Tika adalah kakaknya Lidya karena ya alasan kalau Rey itu pacarnya Lidya. Namun Tri tak tau sama sekali.
"Memangnya kamu tahu apa tentang kematian Lidya Rey " tanya bu Tika dengan seringai liciknya. Akhirnya terornya tak sia-sia juga.
"Begini bu, saya melihat Lidya dibunuh dan saya tak menolongnya "
"Siapa pembunuhnya, kenapa kamu tak menolong pacarmu sendiri. Bukannya kamu sudah berjanji pada orang tua saya kalau kamu akan selalu menjaga Lidya "
"Maafkan saya bu maaf bukan maksud saya tak ingin menolong Lidya. Saya kecewa pada dia "
"Kecewa karena apa Rey, apa sampai kamu tega membiarkan adik ku dibunuh begitu saja " marah bu Tika sambil mengebarak menjanya
"Lidya sudah memberikan keperawannya pada pak Yandi, bermain gila dengan pak Yandi, yang pada kakhirnya di bunuh oleh pak Yandi juga bu, maafkan saya bu "
Bu Tika segera menarik tangan Rey lalu melukainya dengan kater yang memang selalu ada dimejanya.
Bu Tika bahkan membuat goresan yang cukup banyak. Dengan sekuat tenaga Rey menarik tangannya lalu mendorong bu Tika sampai terjatuh dan lari begitu saja melarikan diri dari bu Tika.
Bu Tika yang sudah sangat marah sekali, segera bangkit lalu mengacak-ngacak mejanya. Melempar semua barang yang ada dihadapannya.
Sialan Rey, sialan seharusnya tadi dirinya membunuh saja Rey. Dasar laki-laki semuanya tak ada yang bisa dipegang janjinya. Hanya bisa berucap namun tak menepati janjinya.
"Ahhh Rey, kau sudah mebuat adikku mati " teriak Bu Tika
**
Rey yang kesakitan terus saja berlari, sambi sesekali melihat kebelakang takut bu Tika mengejarnya. Bisa mati konyol dirinya.
Padahalkan niatnya baik ingin memberitahu tentang kematian Lidya. Tapi kenapa pada akhirnya malah dirinya yang dilukai seperti ini.
Rey segera masuk, lalu mengunci kamarnya dan segera mengambil kotak p3k untuk mengobari lukannya yang parah ini.
"Kenapa Rey " tiba-tiba saja ada suara perempuan dikamar Rey.
Rey segera memberhentikan kegiatannya dan mendengarkan suara itu. "Rey kenapa " kembali suara itu kembali.
"Si siap itu " jawab Rey terbata-bata.
"Kau tak mengenaliku Rey "
"Hah siapa kau pergi jangan ganggu aku Lidya. Kita sudah beda alam tak seharusnya kalu bergentayangan seperti ini " teriak Rey.
"Buka pintunya Rey, buka aku ingin masuk " sambil mengedor-ngedor pintu kamar Rey.
"Rey Rey sayang buka-buka pintunya "
"Tidak "teriak Rey sambil menutup telinganya namum suara ketokan itu berubah menjadi gedoran.
Didalam kamar Rey sudah seperti orang gila, tersenyum lalu kembali takut lagi, lalu menjambak-jambak rambutnya dan yang paling parah menjedotkan jidatnya kearah tembok berkali-kali.
Saking tak mau mendengar suara itu lagi, suara Lidya yang selama ini menganganggunya.