Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Menceritakan kejadian yang sebenarnya


Angga segera memasuki uks. Segera dirinya membaringkan Arum dan Angga pergi mengecek terlebih dahulu apa tempat ini aman. Setelah merasa semuanya aman segera Angga mengunci dan menutup hordennya agar tak ada yang mengetahui keberadaan mereka berdua.


Sedangkan Arum sekarang sedang masuk kedimensi lain. Dimana dirinya melihat Lidya yang masih hidup, bersama kak Rey dan kak Tri. Mereka berdua sedang mengobrol ria dengan kak Rey yang setia menunggu dan mendengarkan semua celotehan dua sahabat itu.


Kak Rey hanya sesekali tersenyum, sama sekali tak menimpalinya. Melihat orang tersayangnya bagia. Dirinya juga sangat merasa bahagia. Bahagia itu simple gimana cara kita yang buatnya aja.


Namun tiba-tiba kak Lidya dipanggil oleh guru dan menyuruhnya untuk segera menemuinya sendiri. Tak boleh ada yang mengantarnya dengan hati tak tenang kak Lidya pergi menemui guru itu sendirian.


Sedangkan kak Rey dan kak Tri hanya diam menunggu. Awalnya kak Rey ingin ikut namun kak Lidya tak mengizinkannya karena kan memang dirinya dilarang untuk membawa siapa-siapa.


Dengan tergesa-gesa kak Lidya pergi keruangan guru dan menemuinya "selamat siang pak "


"Siang Lidya duduklah ada yang ingin aku bicarakan, eh tapi tidak jangan disini ayo ikut denganku "


Dengan was was ka Lidya mengikuti guru itu dan sampailah mereka dibelakang sekolah yang sangat sepi sekali tak ada orang sama sekali.


"Kenapa kesini pak "


"Ya agar tak ada orang yang mendengar percakapan kita "


"Maafkan bapak tak bisa lagi memberikanmu nilai yang bagus dan menjadikan mu juara pertama lagi disekolah "


"Kenapa pak, apa bapak masih kurang dengan apa yang saya beri. Bahkan keperawanan saya sudah saya beri pada bapak bahkan saya sudah mau menjadi parter *** bapak. Tolong saya pak jangan seperti ini saya sangat butuh presrasi ini. Saya harus masuk ke universitas itu pak dan mendapatkan beasiswanya. Saya harus bisa mengembalikan perusahan ayah saya "


"Tidak bisa Lidya saya tak bisa kembali melakukan ini. Saya tak bisa"


"Ya sudah kalau bapak tak bisa melakukan ini semua saya akan memberitahu pada seluruh guru dan kepala sekolah bahwa bapak bukanlah orang baik dan hanya memanfaatkan tubuh saya saja" Lidya segera pergi dari sana tapi belum juga melangkah gurunya sudah memegangnya dengan erat.


"Kalau itu yang kau mau, bermimpilah "


Guru itu segera menarik Lidya dan mendorongnya sampai Lidya terkapar dan guru itu mencekik Lidya sampai Lidya tak bisa bergerak sama sekali. Setelah mengecek pernafasan Lidya yang sudah tak bernafas lagi segera dirinya pergi tanpa menghiraukan dengan jenazah Lidya.


Tanpa dirinya sadari ada sebuah gantungan kunci yang terjatuh tepat di hadapan Lidya. Arum yang melihatnya sama sekali tak bisa menolong kak Lidya sama sekali dirinya hanya bisa melihat bagaimana orang itu dibunuh dan Arum tak menyangka sama sekali kalau pembunuhnya adalah gurunya sendiri.


Guru yang kelihatannya sangat baik, perhatian pada setiap murid. Lalu ternyata dirinya adalah seorang pembunuh. Arum tak habis fikir sama sekali dengan kejadian yang dirinya lihat ini.


Arum segera mengalihkan pandangannya. Kak Rey ada disana sedang mengintip dan sekarang Arum mengikuti kak Rey yang pergi begitu saja tanpa membantu pacarnya sendiri, yang dibunuh tepat didepan matanya. Tapi malah diam melihatnya saja..


Kenapa tak berbicara padanya, pasti dirinya akan membantu tentang permasalah keuangan Lidya. Tak perlu harus menjual tubuhnya hanya untuk sebuh nilai. Sebenarnya dia ini dianggap sebagai pacarnya atau tidak sih. Rasanya ingin menanyakan semua ini pada Lidya namun itu mustahil.


Ya dirinya tadi mengikuti kemana Lidya dan pak guru pergi ternyata malah kesini, kebelakang sekolah dirinya sangat kaget mendengar semua ucapan yang dilontarkan Lidya. Ternyata selama ini dirinya diduakan dan itu bersama gurunya bahkan mereka berdua sampai melakukan hal yang tak senonoh.


Dirinya saja tak berani untuk memegang Lidya. Sungguh dirinya menjaga kehormatan Lidya. Bahkan selama pacaran tak pernah dirinya mencium Lidya. Bahkan untuk pegangan tangan dia engan melakukannya kalau bukan Lidya sendiri yang memaksa.


Bodoh sekali dirinya ini mencintai pelacur licik seperti Lidya. Lalu cintanya ini tak dianggap apa-apa oleh Lidya. Jadi selama ini dirinya berjuang sendiri kenapa dirinya harus mencintai orang yang salah. Orang yang memang tak pantas untuk dipertahankan dan dicintai.


Kenapa dirinya tadi tak mau menolong sama sekali Lidya. Karena dirinya sudah sangat kecewa dengan Lidya tak sudi dirinya menyelamatkan orang yang sudah berkhianat padanya. Meskipun dirinya sangat menyayangi Lidya tetap saja rasa kecewa itu lebih besar.


Jadi suatu saat jangan menyalahkan aku yang diam saja, kalian kalau ada diposisiku pasti akan melakukan itu. Tak mungkinkan kalian menolong Lidya ??


Hatinya sekarang hancur sehancurnya, akan dirinya simpan rahasia ini rapat-rapat tentang kematian Lidya yang dibunuh oleh pak guru. Dirinya harus biasa-biasa saja jangan terlihat sudah mengetahuinya. Mungkin akan lebih baik bersandiwara kalau dirinya sedang kehilangan.


Sekarang berpindah kembali kepada kak Tri yang ditinggal sendirian, dirinya sudah gelisah kenapa sahabatnya ini tak kembali-kembali dan ini sudah hampir 2 jam lamanya. Apakah selama ini berbicara dengan guru.


Dengan tergesa-gesa dirinya mencari kebaradaan sahabatnya namun tak ketemu sama sekali, kemana sahabatnya Lidya "Rey mana Lidya "


"Entahlah aku pun sekarang sedang mencarinya Tri. Kenapa ya lama sekali"


"Iya entahlah kenapa bisa selama ini "


"Mending sekarang kamu tunggu saja dikamar sebentar lagi juga pasti Lidya kembali biar aku yang mencarinya Tri "


"Baiklah tolong cari dia sampai ketemu ya Rey "


Rey hanya mengangguk dan pergi begitu saja. Yang sebenarnya dirinya akan pergi kekamar dan tidur. Untuk apa mencari Lidya yang sekarang sudah mati dibelakang sekolah. Biarkan saja dia ditemukan orang lain. Tak mau dirinya harus terseret-seret.


Sekarang dirinya hanya cukup menunggu kabar kematian Lidya yang sudah menghianatinya sudah mengecewakannya. Permainan yang bagus ternyata. Sungguh harus diberi piala Lidya ini.


Malam pun tiba, pak Guru yang tak mau ketahuan segera kembali lagi ke belakang sekolah menggunakan jas hujan dan sarung tangan. Supaya cap jarinya tak tertempel ditubuh Lidya.


Dia sangat takut, takut mayat itu sudah tak ada namun syukurlah masih ada sekarang tinggal mematipulasi kematian Lidya. Murid tercantiknya dan bodoh yang ingin saja dimanfaatkan oleh dirinya.? Padahalkan dirinya cuman ingin mencicipi tubuh Lidya saja. Setelah merasa bosan ya ini timbalannya.