Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Makin tidak kondusif saja


Mereka sudah ada dirumah Arum, namun mereka bertiga hanya diam saja didepan rumah dan saling pandang, hawa dari rumah itu sudah sangat berbeda sekali, bahkan Ayu membererat pegangannya pada Hanin, ibunya Angga pun sekarang mulai merasakan yang aneh, begitu aneh sekali.


Angga mengambil kuncinya rumah dan Bismillahirohmanirohim ucap Angga dalam hati " Assalamualaikum" sambil membuka pintu dengan pelan tiba tiba saja.


" Waalaikumsalam" ada yang menjawab didalam rumah namun begitu pelan namun mereka bisa mendengar sampai sampai bulu kuduk mereka berdiri.


Angga langsung masuk memimpin dan menyalkan dulu tvnya dan menyetel lantunan murotal "jadi kita mau beres beres dimana dulu " tanya Angga pada keempat perempuan itu


"Kita mulai dari kamar aja ya, kita bagi tugas Arum sama ibu akan membereskan pakaian kedalam koper, dan__"


"Taante kita nggak mau pisah kita mau bareng-bareng aja kita di kamar Arum dulu aja ya kita beresin dulu pakaian Arum sama Angga semuanya dan barang-barang Arum yang ada di kamar Itu semuanya kita beresin dulu, kasur kita keluarin semuanya pokoknya setelah itu kita pindah ke ruangan lain pokoknya kita sama-sama terus ya tante aku nggak mau pisah-pisah ya tolong tante aku takut" ucap Ayudia


"Yaudah ayo ayo kita bareng bareng ya " ucap ibunya Angga


"Angga mau beresen yang lain ya "


Mereka mengangukan kepalanya dengan kompak lalu celinggak celingguk takut ada sesuatu dan Arum terlebih dahulu yang membuka pintu kamarnya, tiba tiba saja saat masuk kamar suasannya begitu dingin menusuk.


Arum mengedarkan pandangannya dan masuk kedalam kamar terlebih dahulu diikuti yang lainnya, sebelumnya Arum sudah menganjal pintunya agar tak tertutup. Arum mengambil koper dan membuka pintu lemari dann ada yang berlari kencang sampai sampai Arum mundur beberapa langkah.


"Ada ada Rum, ada apa di dalam ada sesuatu kah sampai-sampai kamu tiba-tiba aja mundur kayak gitu nggak ada yang aneh-aneh kan Rum kamu baik baik aja kan" tanya Ayudia makin ketakuta.


Arum mendekati Ayudia dan memegang tangannya " kamu nggak boleh takut Ayu yang ada mereka akan suka sama kamu dan malah lihatin wujudnya sama kamu, mereka akan suka dengan orang yang penakut mereka akan mendekati orang penakut jadi kamu harus terlihat berani dan jangan seperti ini terus"


Ayudia makin gelisah saja lalu menganggukan kepalanya entahlah dirinya tak bisa seperti itu, dirinya memang takut dan memang sangat takut dan tak bisa berpura pura tak takut atau pura pura berani.


Arum segera mengeluarkan pakainnya dan juga pakainnya Angga mereka dengan cepat memasukannya kedalam koper koper itu dengan cepat. Arum bangkit dan masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamar membereskan peralatan mandinya.


"Kenapa kamu mau pergi dari sini Lia sudah kamu bantu lalu sekarang aku pun ingin dibantu olehmu, tolong bantu aku aku tahu kamu bisa melihatmu bantu aku, aku butuh bantuanmu tolong aku, aku membutuhkan dirimu "


Arum yang mendengar suara itu hanya diam saja tak merespon Arum terus saja membereskan alat alatnya mandinya dan juga handuknya lalu keluar dari dalam kamar mandi.


"Tolong jangan acuhkan aku. Aku ingin kau bantu seperti Lia yang kau bantu aku juga ingin seperti Lia, tolong aku tolong aku minta tolong padamu, jangan diamkan aku "


Arum langsung duduk dan menyimpannya didalam koper lalu bangkit lagi membereskan nakas dan juga mengeluarkan isi isi dari dalam lemari kecil itu masih saja suara minta tolong bahkan sekarang wajah hantu itu ada dihadapan Arum, namun mata Arum terus saja fokus kedalam isi lemari, wajahnya begitu pucat dengan rambut panjang yang menjuntai. Namun sekarang dia belum memperlihatkan wujud yang sesungguhnya.


"Kau jangan acuhkan aku aku tahu betul kau bisa melihat kami semua, kau bisa melihat kami yang ada di sini hantu penasaran di sini, saat Lia mendatangimu kau langsung setuju untuk membantunya lalu aku kenapa aku harus memohon-mohon dulu seperti ini, tapi kau sama sekali tidak mau membantuku. Ayo bantu aku bantu aku, aku butuh bantuanmu. Aku butuh bantuan mu aku ingin pergi dari sini aku ingin keluar dari rumah ini, aku tidak mau terjebak terus-menerus di sini tolong aku, dengarkan kata-kataku aku tahu kau bisa mendengar semuanya aku tahu kau dari tadi mendengar semua kata-kata aku"


Saat melihat perubahan hantu itu yang begitu menyeramkan sangat menyeramkan melebihi dari Lia Arum sangat kaget sekali, dan ini memang benar benar seram untuknya jarang sekali yang menampakan wujudnya padanya.


"Apakah kau ingin melihat aku dulu marah baru kau akan menjawab semua perkataanku. Aku ingin kau membantuku. Kenapa sulit sekali kamu mengucapkan sesuatu itu untukku, kenapa apakah aku tak pantas untuk kau bantu "


Arum langsung bertatapan dengan hantu itu"Aku tidak akan bisa membantu setiap hantu penasaran di sini kau mati karena kau ditumbalkan, kau ada pemiliknya jadi aku tidak akan pernah bisa melepaskan kau, kau akan tinggal di sini seterusnya aku takkan bisa melepaskanmu jadi tolong jangan menggangguku aku sedang ingin konsentrasi aku tak bisa membantumu, aku sudah katakan aku tidak akan bisa membantu lagi hantu siapapun dan dimanapun itu, mungkin Lia hanya kebetulan saja bisa aku bantu, aku punya kehidupan aku sendiri dan aku tidak terus-menerus mengurus urusan kalian, tolong jangan mempersulit hidupku, tolong "


Ketiga orang itu yang mendengar Arum berbicara sendiri langsung mengalihkan pandangannya pada Arum namun tak bisa berkomentar apa-apa, hanya bisa melihat wajah Arum yang merah seperti menahan amarah.


"Kenapa seperti itu. Kau pasti bisa membantuku aku ingin keluar dari sini, aku sakit sakit sekali aku tak bisa di sini terus menerus. Aku tidak mau iau pasti bisa membantuku aku yakin itu, kau pasti bisakan "


"Sudah aku katakan aku tidak bisa membantumu, kau jangan memaksa seperti itu. Aku bilang tidak ya tidak kau bisa minta bantuan pada orang lain. Aku bukan spesialis seperti dirimu dan aku hidup bukan untuk membantu kalian semua, aku punya kehidupan aku sudah bilang kan aku punya kehidupan jadi kita masing-masing saja, kita sudah beda alam kau sudah terlalu lama diam di sini dan kau juga sudah ada yang memegang, kau itu bukan hantu yang tersasar lalu diam di rumah ini, sudah aku tidak mau berbicara lagi denganmu tolong tinggalkan aku dan biarkan aku tenang. Jangan menggangguku terus-menerus"


Hantu itu yang marah akan melukai Arum namun Arum sama sekali tidak bisa dirinya sentuh, dengan cepat dia langsung menghilang dari kamar itu dan terdengarlah dari luar barang-barang yang terjatuh piring gelas semuanya terjatuh.


Mereka bertiga yang melihat Arum tadi berbicara sendirian mengalihkan pandangannya keluar kamar dan mendengar keributan itu di luar saat. Ibunya Angga akan mengeceknya namun Arum langsung memegang tangannya.


"Jangan Ibu pergi ke sana mereka bisa saja melukai Ibu. Dia sedang marah sudah Ibu diam saja di sini, kita bereskan saja dulu barang-barang yang di sini ya jangan terlalu memikirkan dia, "


"Kamu baik-baik ajakan Rum, kamu nggak apa-apa kan Ibu baru tahu kalau di sini interaksinya kayak gini banget. Sejak kapan kamu bisa lihat mereka sejak kapan, di rumah ini ibu sekarang percaya kalau apa yang tidak bisa ibu lihat memang ada di dunia ini"


"Dari dulu juga Arum udah bisa lihat yang kayak gini dan berinteraksi sama mereka. Tapi semenjak Arum pulang dari pekerjaan Arum yang dulu yang menjadi menjaga perpustakaan penglihatan Arum dan pendengaran Arum serta penciuman Arum makin tajam. Entahlah kenapa tapi Arum tidak bisa menyesali atas anugerah yang telah Allah berikan sama Arum. Arum hanya bisa menerimanya dan mempergunakannya dengan baik. Arum tidak bisa menolak untuk tidak mendapat Anugerah ini, ini sudah anugerah yang diberikan Allah sama Arum, meskipun Arum dengan sekuat tenaga menghilangkan ini, tapi tetap saja tak bisa"


Ibu Angga menganggukan kepalanya dan mendekati Arum lalu memeluk Arum dengan begitu erat, sedangkan Hanin dan juga Ayudia mereka mempercepat menyelesaikan pekerjaan mereka sungguh dirinya takut mendengar kegaduhan di luar kamar yang masih terdengar begitu nyaring.


Apa sebenarnya yang hantu itu inginkan, sampai-sampai marah pada Arum, dan membanting semua barang-barang yang ada di sana kalau dirinya yang ada di posisi Arum sudahlah tak akan pernah berani untuk pulang ke rumah dan tak akan pernah mau lagi pulang ke sini sampai kapanpun itu..


Meskipun hanya sekedar untuk mengambil barang-barang tidak akan dirinya mengambilnya. Lebih baik tinggalkan saja barang-barang itu toh bisa dibeli lagi kan. Jadi lebih baik menyelamatkan diri saja pergi sejauh jauhnya dan jangan mengigat kembali.


Suara itu makin kemari makin hilang dan hilang tak ada lagi suara berisik itu rumah hening sekali, bahkan murotal yang Angga nyalakan tadi pun tak terdengar lagi, Arum segera bangkin dan akan mengeceknya, saat Arum berjalan kearah luar ada hantu yang sedang berlari kearahnnya sambil memegang sesuatu, Arum dengan refleks segera menutup pintu kamar dengan kencang.


Ayudia makin takut saja dengan keadaan itu, bahkan dia sudah berkeringat dingin, Hanin mencoba untuk menguatkan sahabatnya, Hanin memeluk Ayudia dengan erat.


Sedangkan didepan pintu masih terdengar suara seperti gedoran pintu, namun sama sekali tak ada yang mau membukannya, mereka hanya diam sambil diam melihat kejadian itu. Arum juga tak melakukan apa apa.


Namun tiba tiba pintu terbuka ceklek "akhhhhhhhhh " teriak Hanin dan juga Ayudia.