
"Lepaskan Farah, apalagi yang kau mau dariku, sudahi ini semua aku lelah diganggu oleh mu "
"Makannya lepaskan pak Bima, aku sudah bilangkan sudahi "
"Tak bisa aku tak bisa menyadahi hubunganku denyan pak Bima, "
"Kenapa hah, kau ini keras kepala sekali, jika kau ingin tenang dan tak diganggu olehku maka kau harus lepaskan pak Bima, aku tau kau sudah memberikan keperawanan mu untuk pak Bima tapi aku tak peduli lepaskan dia "
Wajah Sasa tiba tiba saja menjadi pucat tau darimana Farah tentang dirinya dan juga pak Bima
"Kau bicara apa Farah"
"Mengakulah aku tau kalian sudah tidur bersama jadi jangan remehkan aku "
Farah segera mendorong Sasa sampai terjatuh, "ini adalah peringatan terakhir, ayo teman teman kita tinggalkan dia "
Mereka semua segera pergi meninggalkan Sasa sendirian, dengan sekuat tenaga Sasa segera bangkit sambil memegang perutnya yang sakit. Tanpa menghiraukan apa apa lagi Sasa berjalan dengan tertatih tatih ke asrama.
**
"Jadi setelah tau tentang obat itu kita harus cari apa lagi Arum "
"Kita harus kerumah dokter Dimas dan menyelidikinya namun kita harus menyamar "
"Seperti pencuri "
"Ya seperti itu kak, kita harus melakukannya agar tau tentang Saidah dan yang terjadi sebenarnya. Namun sebelum itu kita harus pergi ketempat terakhir Putri Ayu meninggal "
"Baiklah kita akan pergi ketempat Putri Ayu dulu ya "
"Baiklah kak, aku setuju saja, kenapa kau tadi pergi siang pergi saat aku akan pergi dengan dokter kak "
"Kenapa tak suka, aku kan melakukan ini hanya untuk membantumu saja "
"Iya aku tau, tapi tetap saja aku tak suka "
"Hemm baiklah ayo pulang, ayo kita pulang " ajak Arum sambil memegang tangan kakak tingkat. Dan tanpa Arum sadari ada senyum merekah yang diberikan kakak tingkat itu saat tangannya dipegang oleh Arum
**
Sasa yang sudah sampai diasrama tak jadi masuk kedalam kamarnya, kalau dia sampai masuk yany ada dirinya bisa celaka karena ada Farah disana, Sasa segera berbelok dan mengetuk pintu kamar Arum.
"Kak Arum, apakah kau ada didalam " tok tok tok
Namun tak ada jawaban lagi "kak Arum kak Arum tolong buka pintunya "
Namun tetap saja tak ada jawaban dengan menahan sakit yang menjalar pada perutnya Sasa segera duduk sambil menyenderkan badannya pada pintu.
Tiba tiba saja ponselnya berdering dan ternyata itu adalah telfon dari pak Bima, dengan cepat Sasa segera mengangkatnya "Hallo pak Bima "
"Kau dimana, temui aku sekarang "
"Tapi pak perutku sakit, tolong aku kak, aku ada diluar kamar kak Arum. Tolong aku pak Bima "
"Tidak kau saja yang kemari, kau kan yang butuh, jika aku yang kemari aku akan mengantarmu ke rumah sakit tapi kalau tidak aku masa bodo saja, jadi sekarang cepat kemari, aku ada di gerbang sekolau menunggumu jangan lama "
Sambungan pun terputus, dengan tertatih tatih Sasa segera berjalan meskipun perutnya sakit, namun saat akan melangkah kearah tangga dirinya pusing, Sasa mencoba kuat dengan memegang pinggiran tanga dan tanpa Sasa sadari dirinya terjatuh terguling guling kebawah lantai dasar.
Darah bercucuran dari kepalanya, Sasa yang masih sedikit sadar memanggil nama Arum, dan setelah itu kedua bola matanya tertutup tanpa ada yang mengetahuinya.