
Saat Arum keluar dari kamar mandi, dia sudah melihat seorang bapak bapak sedang mengobrol dengan dokter dengan perlahan Arum mendekatinya.
"Bu Arum ya "
"Iya pak "
"Terimasih sudah mengantarkan anak saya, saya ayahnya Sasa, saya Broto "
"Iya pak "
"Kalau bu Arum mau pulang silahkan biar saya yang menjaga Sasa disini "
"Kalau saya disini menunggu juga apa bapak tak keberatan "
"Tidak aku tak keberatan, malahan aku senang ada teman yang bisa di ajak ngobrol , oh ya bu Arum apa boleh aku bertanya dengan mu "
"Boleh pak tentu boleh "
"Apakah kau tau tentang kehamilan Sasa "
Arum menjadi binggung apa perlu dirinya menjawabnya. Apa perlu dirinya jujur.
"Tolong katakan yang sejujur jujurnya bu Arum, ini demi anak saya "
"Iya saya tau pak, seminggu yang lalu Sasa baru saja memberitahu saya "
"Lalu apakah bu Arum tau siapa yang menghamili Sasa "
"Tentu pak, yang menghamili Sasa adalah pak Bima guru matematikannya, saya sudah meminta pertanggung jawabannya namun dia tak mau dan tak percaya kalau itu anaknya."
"Bima, apa dia guru baru "
"Saya kurang tau pak, soalnya saya pun baru disana "
"Baiklah terimasih atas informasinya, bu Arum saya tinggal sebentar dulu ya, saya tiba tiba ada keperluan saya titip Sasa ya bu "
"Baik pak saya akan menjaga Sasa "
Arum menghembuskan nafasnya lalu menatap kearah pintu IGD, masih tak percaya akan terjadi kecelakaan ini pada Sasa. Kenapa dirinya tak menjaga Sasa dengan benar coba.
Farah dan teman temannya sedang ada dikamar, sedang mengobrol ngobrol namun Novi tiba tiba menepuk bahu Farah.
"Apa sih Nov "
"Itu lihat deh, ditempat tidur Sasa siapa yang lagi duduk di tutupin kain putih "
"Mana oh iya siapa, apa ada anak baru " tanya Farah
"Tidak ada setauku, apa perlu kita menghampirinya, sejak kita ada didalam sini tapi tak ada yang masuk deh "jawab Chika
"jangan, jangan didekati, aku merasa tak enak hati ni, apa itu Sasa, apa dia meninggal dan bergentayangan pada kita, "
"Mana mungkin sih Farah, kalau Sasa mati pasti bakal ada yang kasih tau, udah yu kita samperin aja "
Farah segera mengangguk, mereka berempat segera berjalan kesana sambil berpengangan tangan, saat sudah ada dibelakang tempat tidur Sasa, Farah segera menyenggol Dea
"Cepat kau buka tutupnya itu " bisik Farah
"Tidak aku saja Farah aku takut, kau saja aku tak berani "
Farah dengan kesal segera melakukannya belum juga memegang kain putih itu tangannya sudah dipegang dan teman temannya yang lain malah sudah terlebih dahulu kabur dan meninggalkan Farah sendirian.
"Hey kenapa kalian meninggalkan ku juga hey sialan kalian "
Saat Farah akan berlari pula, tangannya masih digengam dan tak bisa dilepaskan, tiba tiba saja kain putih itu terbuka.
"Akhhh " teriak Farah
Dihadapannya Sasa yang belumuran darah sedang menatap pada dirinya, dengan mata merah, semerah darah.
"Farah kau harus bertanggung jawab, gara gara kau aku jadi seperti ini, kau harus tanggung jawab Farah kau harus terima akibatnya "
"Tidak tidak aku tidak melakukan apa apa, lepaskan aku lepaskan aku "
Namun bukannya melapaskannya hantu itu malah berdiri masih dengan memegang tangan Farah dan memeluk Farah dengan erat.
Farah yang sudah tak kuat pingsan juga, sungguh ini menakutkan sekali.