Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Mau jadi orang ketiga ya


"Rum apakah kita pindah rumah saja "


"Masa Angga baru juga kita satu hari di sana udah pindah aja. Ya udah kita coba bertahan aja di sana siapa tahu kalau kita terus ngaji dan salat mereka itu nggak ada dan nggak ganggu kita lagi, nanti juga kita adain pengajian aja ya, ibu kamu tuh udah cari rumah buat kita jangan sampai tiba-tiba dia sakit hati karena kita tiba-tiba pindah gitu aja "


"Ya kan Kita pindah juga ada alasannya Rum, rumah itu emang kayaknya bener-bener angker . Aku yang nggak bisa lihat aja lihat barang-barang tiba-tiba jatuh kayak gitu, nanti kalau kamu di rumah sendiri gimana aku kerja. Kamu sendiri gimana kalau mereka celakain kamu "


"Tenang aja nggak akan pernah kita itu lebih kuat, manusia itu lebih kuat dari pada hantu dan derajatnya pun lebih tinggi kita, jadi kamu tenang aja aku pasti akan baik-baik aja kok"


"Ya udah pokoknya kalau ada apa-apa nanti kamu harus selalu hubungin aku, pegangan dong di motor masa kayak gini aja kamu pegang bahu aku. Emangnya aku tukang ojek dari dulu kamu selalu kayak gini, kita kan sekarang udah nikah masa pegangannya masih di bahu terus, berubah dong Rum, kita belajar sama sama ya Rum "


Arum hanya tersenyum kecil dia bingung harus melakukan apa. Masa harus memeluk Angga sih namun tiba-tiba tangan Angga yang sebelah kiri memegang tangan Arum dan membelikan kedua tangan Arum untuk memeluk perutnya.


Meskipun masih canggung namun Arum tidak melepaskannya dia sadar dirinya dan juga Angga sudah menikah, jadi tidak ada batasan untuk mereka berdua.


Sedangkan Angga dia begitu senang, Arum memeluknya ya meskipun sedikit canggung yang terpenting Arum mau memeluk dirinya.


Akhirnya mereka sampai juga, Angga dan Arum turun dari motor dan Angga mengandeng tangan Arum dengan erat.


Saat mereka akan duduk tiba tiba ada yang menepuk bahu Angga, dan orang itu langsung memeluk Angga namun Angga langsung melepaskannya.


Angga tersenyum terpaksa "hemm iya, tolong jangan tiba tiba peluk ya bukan mukhirim dan aku juga udah nikah sama Arum jadi sewajarnya aja "


Wulan kaget namun dia mencoba untuk tak terlihat Wulan melihat kearah Arum dengan mata yang mendelik.


"Ohh jadi dari sahabatan akhirnya jadi nikah juga ya, boleh gabung gak aku sendirian "


Saat Angga akan menjawab Arum sudah menjawab "silahkan kalau mau gabung tak ada yang melarang, alhamdulilah kami menikah meskipun dulunya sahabat itu tak ada masalahkan, Allah yang sudah menjodohkan kami "


"Hemm ya kak Arum selamat ya "


Mereka langsung duduk Wulan malah mengambil tempat Arum dia duduk disamping Angga, namun Angga langsung bangkit dan duduk disamping sang istri masih dengan memegang tangan Arum.


Pelayan datang dan Arum segera memesan makana untuk dirinya dan untuk suaminya, namun Wulan malah berkomentar "kak Angga gak suka itu, gimana sih kamu ini sebagai istri gak tau apa selera suami sendiri "


Angga mengatur nafasnya supaya tak emosi "sudah saya akan memakan apa yang istri saya pesan tolong jangan banyak bicara ya, saya suka apa yang istri saya berikan "