Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Bukan hanya dia


Andrian


Arum sekarang sudah masuk ke dalam asrama namun ia mendengar suara orang menangis. Karena Arum yang penasaran dia mencari asal suara itu ternyata ada di dalam lemari. Dan kuncinya menggantung


"Apakah di sini ada orang atau hantu ya " gumam Arum


Arum yang penasaran dia segera membuka kuncinya dan tiba-tiba keluar Sasa yang sudah acak acakan dan tubuhnya mengeluarkan bau busuk karena telur busuk dan juga air yang disiramkan tadi.


"Sasa kamu kenapa. Kenapa kamu bisa kayak gini kenapa kamu ada di dalam almari "


"Kak tolong aku tolong Sasa udah capek kayak gini terus "


"Kamu ini kenapa Sa, ayo cerita sama kakak. Ya udah sekarang mending kita ke kamar Kakak dulu ya bersihin diri kamu dulu ya "


Sasa hanya bisa mengikuti kemana Arum membawanya. Saat sudah sampai di dalam kamar Arum segera membawa Sasa ke dalam kamar mandi, dan meninggalkannya sendirian.


Namun Arum selalu mengeceknya takut terjadi sesuatu kembali pada Sasa atau Sasa melakukan hal yang tidak dapat dipikirkan oleh dirinya.


Sasa sudah keluar dengan memakai handuk, tapi masih dengan menundukkan kepalanya.


"Ayo ini pakai dulu pakaian Kakak ya"


Sasa mengganggu dan memakai satu-persatu pakaian Arum, lalu Arum menundukan Sasa di meja riasnya, menyisir rambutnya perlahan-lahan dan sekarang beralih mengobati luka di wajah Sasa.


"Kamu ini sebenarnya kenapa. Kenapa kamu bisa sampai ada di dalam lemari apa yang terjadi. Coba ceritakan sama kakak semuanya biar kakak tau, dan kamu jangan kayak gini terus jangan diem, kalau kamu diam terus kakaknya jadi serba salah "


"Ini perbuatan Farah kak, Farah melemparkan aku telur busuk air yang entah apa itu bau sekali dan tepung , dia membully ku dengan teman-temannya Kak lalu memasukan ku kedalam lemari "


"Ya sudah kita besok ke ruangan kepala sekolah, apa kita ke Bu Wati kita ceritakan semuanya "


"Tidak jangan-jangan aku tidak mau sampai ini semua jadi masalah nantinya. Nanti aku akan lebih di bully lagi oleh mereka kak "


"Tapi kalau didiamkan seperti ini terus, yang ada kamu menderita. Harusnya kau dari dulu memberitahu kepada guru guru kalau kau diperlakukan tidak baik oleh mereka, jangan diam saja cobalah kau melawan besok kakaj akan antarkan kamu keruang kepala sekolah, tiidak mau tahu kamu harus bicara semuanya kamu jangan mengecewakan Kakak"


"Tetapi kak aku takut "


"Kamu nggak usah takut kan ada kakak di sini. Kenapa kamu harus takut jangan takut pokoknya kamu harus Lawan Mereka "


"Aku akan ceritain semuanya besok "


"Iya harus kayak gitu biar mereka itu jujur dan nggak main-main lagi sama kamu, udah cukup sampai disini mereka nyakitin kamu "


"Makasih kak "


"Iya sekarang kamu tidur ya "


"Apakah boleh aku memeluk kakak "


"Tentu kenapa tidak ayo tidur "


Arum segera membawa Sasa kearag tempat tidur lalu berbaring bersama sama, Arum dengan sayang mengusap ngusap kepala Sasa sampai tertidur.


Tiba tiba "Arum ayo "


"Besok saja lah kak "


"Kau sudah janji padaku, ayo "


Arum dengan perlahan segera melepaskan pelukan Sasa, lalu membenarkan selimbur Sasa.


"Tapi sebentarkan "


"Iya sebentar ayo "


Arum segera mengikuti langkah kakak tingkat itu dan tak lupa mengunci kamarnya dahulu.


Mereka berdua berjalan mengendap endap, maksudnya hanya Arum saja yang berjalan mengendap endap.


Mereka sekarang sudah ada didalam kuburan tua di belakang sekolah.


"Iya yang kau injak itu kolam renangnya "


"Akhh " teriak Arum.


"Kenapa Arum "


"Aku kaget ada hantu yang lewat "


"Ku kira ada apa "


Arum segera mencari dan melihat-lihat ke segala arah namun tiba-tiba saja penciumannya, mencium bau darah namun tidak hanya bau darah tapi suara tembakan yang menggema di telinganya.


"Kak Apakah putri Ayu meninggal karena ditembak"


"Tiak Putri Ayu meninggal karena dipukul, dan itu menggunakan cangkul pamanku, memakai tongkatnya itu loh makanya Pamanku yang yang dituduh membunuh Putri Ayu padahal waktu itu pamanku sedang pulang kampung. Kami sedang berkumpul tiba-tiba saja Pamanku ditangkap oleh Polisi, pamanku disalahkan begitu saja tanpa diselidiki dahulu mereka Langsung menembak mati Pamanku "


"Tapi di sini hanya ya ada suara tembakan dan bau darah. Apakah di sini ada yang mati selain Putri Ayu"


"Tidak disini tidak ada yang mati hanya Putri Ayu saja aku yakin "


"Apa kau yakin"


"Ya aku yakin Arum"


Namun tiba-tiba saja sekelebat muncul bayangan seorang laki-laki yang sedang mengelilingi kolam renang ini, dan tiba-tiba dari kejauhan ada yang menembak dan mengenai kepalanya dan orang itu terjatuh ke dalam air.


Namun Arum sama sekali tak bisa melihat wajah laki-laki itu siapa itu. Apakah kakak tingkat yang bersamanya apakah benar dia?


"Bagimana Arum kenapa kau melamun "


Arum segera sadar dan segera menghampiri kakak tingkat itu "kita cari bukti yang lainnya lagi, ayo kita pergi dari sini, ayo "


Hantu itu yang kebingungan segera pergi dan mengikuti Arum, entahlah ada apa dengan Arum ini.


"Kapan kita akan menyelidikinya lagi "


"Besok kita akan selidiki semuanya kak, aku akan menayakan dahulu obat apa yang disutikan pada Putri Ayu "


"Pada siapa "


"Pada dokter Andrian "


"Dokter ganjen itu "


"Iya siapa lagi "


"Aku tak setuju "


"Lalu harus pada siapa, tak ada lagi "


"Baiklah, " hantu itu tiba tiba saja pergi meninggalkan Arum.


Arum yang sudah mengantuk akhirnya masuk kedalam kamar dan kembali berbaring bersama Sasa.


**


Sedangkan Dea dari tadi gelisah terus menerus" ada apa dengan mu Dea "tanya Chika yang penasaran.


"Aku sangat khawatir dengan Sasa, kau lihat tempat tidurnya masih kosong, Kalau dia mati di dalam lemari bagaimana, nanti kita yang akan disalahkan. Harusnya kita melepaskannya saja kita sudah mengurusnya hampir 5 jam. Ayo mari kita lepaskan dia, kalau dia mati kita di penjara, ayo kita lepaskan " bujuk Sasa.


Farah segera mendatangi Dea lalu menjambak rambunya " jika dia mati di dalam lemari kau diam Dea, jangan bilang kepada siapa-siapa, kita hanya perlu pura-pura tidak tahu apa-apa. Kenapa kau sampai memikirkan itu . Bagus kan kalau dia sampai mati pak Bima akan menjadi milikku.Kau ini jangan Naif apa kau mau aku bully seperti dia mau " sambil melepaskan jambakannya


"Tidak "


" Ya sudah kalau kau tidak mau aku bully, maka diam dan Tenang lah jangan gelisah seperti ini. Kita lihat nanti pagi Apakah dia benar mati atau tidak. Sekarang waktunya tidur bukannya menghawatirkan orang yang tidak penting "


Farah segera pergi ke tempat tidurnya lalu menarik selimutnya dan tidur, yang lain juga sama melakukan apa yang sekarang Farah lakukan, Dea dia sama sekali tak bisa tidur dia memang memejamkan kedua bola matanya tapi pikirannya terus saja tertuju pada Sasa..