Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Laki laki tak bertanggung jawab


Setelah mendengar semua cerita Sasa Arum meminta pada setiap suster untuk lebih memperhatiakan Sasa lagi, karena ini sudah masalah serius, Farah sudah sangat keterlaluan.


Sekarang Arum dan Angga ada di kantin rumah sakit tadi Angga yang memaksannya untuk segera makan dan jangan membiarkan dirinya kelaparan.


Akhinya dengan berat hati Arum meninggalkan Sasa dan sekarang disini makan bersama Angga.


"Arum "


"Ya Angga ada apa "


"Kapan kau akan kembali "


"Entahlah aku kan disini kerja Angga, apakah kau akan pulang lagi "


"Iya aku tau, apa kau tak berencana mencari kerja yang dekat dengan rumah mu "


"Aku belum kefikiran Angga karena aku disini pun sudah nyaman dan senang saja gitu "


"Hemm begitu ya, sudah makan lagi makan lagi "


Arum mengangguk saja dan kembali fokus memakannya, namun pandangan Angga tak pernah lepas dari Arum, namun Angga segera sadar saat mendengar suara dering ponselnya.


"Hallo kenapa Bell, ada apa "


"Kamu lagi sama Arum boleh aku bicara "


"Tentu "


Angga memberikan ponselnya sambil mengatakan kalau ini Bella ingin berbicara dengannya, Arum mengambilnya dan segera menyapa Bella.


"Hallo Bell apa kabar "


Hallo Rum baik, aku kangen banget sama kamu, kamu kapan pulang kita udah lama gak ketemu ayo ketemu dong, kumpul sama yang lainnya juga "


"Iya ya kita udah lama nggak ketemu mungkin ada 2 tahun kita nggak ketemu , kamu juga kan Bell kerja malahan sekarang kita kan beda kota, kamu juga kan gak di Bandung lagi sekarang, maaf ya aku jadi jarang hubungin kamu . Bukannya aku gak peduli aku lagi sibuk banget fimana kabar anak-anak yang lain apa mereka baik-baik aja"


"Hemm bagus deh kalau kalian bisa bareng bareng lagi, oh ya udah dulu ya , kamu kerja yang semangat ya "


Setelah berpamitan dan sambungan terputus Arum memberikan kembali ponselnya pada Angga dan kembali makan lagi, karena dirinya harus cepat cepat membereskan makannya.


**


Sasa yang sedang menonton tv dikagetkan dengan seseorang yang masuk kedalam ruangannya, seketika air mata Sasa mengalir.


"Gimana apa pak Bima seneng aku keguguran, gimana sekarang Bapak seneng kan udah gak ada minta tanggung jawab lagi dan gak akan saya kejar-kejar lagi untuk tanggung jawab, saya udah bilang kan waktu saya akan turun ke bawah kalau saya pusing, tapi Bapak tidak mau menjemput saya dan malam menyuruh saya turun sendiri dan akhirnya kejadian seperti ini, kalau saja saya tidak menuruti Bapak dan diam saja di atas , mungkin saya tidak akan terjatuh dan menghilangkan anak ini. Bapak jahat jahat banget tau enggak sih Pak "


Pak Bima segera menghampiri dan memegang tangannya"Emang kamu aja yang sekarang lagi sakit, saya juga sakit digebukin sama bapak kamu dan anak buahnya itu, dia nyuruh saya tanggung jawab atas semua yang telah saya lakukan pada kamu, saya diancam oleh Ayah kamu jadi saya minta kamu bilang sama Ayah kamu kalau kamu tidak mau menikah dengan saya, saya tak sudi menikahi kamu dan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi denganmu "


Sasa segera melepaskan tangannya dan menatap pak Bima dengan rasa kecewa yang amat sangat kecewa, bahkan sangat sulit diartikan "baik saya akan bicara dengan ayah saya semuanya, Saya akan menyuruh ayah saya untuk tidak menghajar anda lagi dan meminta pertanggung jawaban pada anda, tapi ingat suatu saat anda harus membayarnya, saya juga gak mau ya nikah sama laki-laki kaya pak Bima yang gak punya rasa tanggung jawab, gak punya hati mungkin aja nanti yang bakal jadi istri bapak gak akan pernah sanggup untuk diam bersama Bapak, Untung saja Tuhan sudah menyadarkan saya bahwa Bapak bukan laki-laki baik untuk saya dan mulai sekarang saya tidak akan mengejar-ngejar Bapak lagi apa Lagi meminta sesuatu yang seharusnya tidak saya minta, saya malu dengan apa yang telah saya lakukan. Jadi silakan bapak keluar jangan ada di ruangan saya lagi "


"Baiklah bagus kalau kau sudah menyadari semuanya, aku senang aku tak usah tanggung jawab denganmu, jadi aku akan lebih leluasa dekat dengan perempuan lain lagi, tapi meskipun nanti aku menikah denganmu aku akan tetap leluasa mendekati perempuan manapun, karena aku tak ada cinta sedikitpun padamu, mungkin kalau kau ingin terus saja menikah denganku Aku akan bertanggung jawab tapi hidupnya tidak akan layak dan tak akan nyaman sampai kapanpun "


"Ya saya tahu, saya tahu bapak bukan laki-laki yang bisa cukup dengan satu perempuan , saya sadar dan saya cukup sadar untuk bisa pergi dari hidup Bapak. Karena saya tidak mau hidup dengan laki-laki seperti Bapak, saya ingin laki-laki yang hanya bisa setia pada satu perempuan saja tidak dengan banyak wanita "


"Sampai kiamat pun kau tidak akan menemukan laki-laki seperti itu, karena mustahil di dunia ini ada laki-laki yang seperti itu yang cukup satu perempuan "


Setelah meluapkan semua kekesalannya pak Bima keluar dan meninggalkan Sasa sendirian, suasana hati Sasamenjadi tidak tenang dan sangat sakit sekali.


Jadi begini ya rasanya disakiti oleh laki-laki, lebih sakit saat ayahnya membentak dirinya, dulu dirinya berpikir kalau Ayahnya membentuk itu hatinya sakit sekali.


Ternyata ini lebih sakit melebihi apapun yang pernah Sasa alami. Sasa segera menyusut air matanya takut nanti kak Arum datang dan malah memarahi pak Bima.


Bisa-bisa nanti kak Arum dicelakai pak Bima karena pak Bima itu orangnya nekat dan dia tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan Kak Arum.


Kak Arum adalah orang satu-satunya yang baik padannya setelah Ayahnya, yang mencintainya menyayanginya dan mengayomi nya.


"Ayo Sa kamu harus bangkit Kau pasti bisa kamu jangan terpuruk dan kamu Jangan terpaku dengan 1 laki-laki saja, kamu harus semangat sekolah dan kamu harus semangat buat banggain ayah kamu nanti dan juga Kak Arum pokoknya kamu jangan menyerah semuanya pasti akan baik-baik aja, semuanya akan baik-baik seperti semula lagi. Ayo Sa kamu bangkit bangkit bangkit"


Sasa mencoba menyemangati dirinya sendiri untuk bisa menjadi Sasa yang dulu Sasa yang tidak tergantung pada pak Bima.