
"Selain bertemu dengan Sarah, kita bisa menyatukan kembali boneka kertas yang kita sobek tadi dan kembali ketempat awal tadi kita muncul untuk menyatukannya " ucap Tinah.
Segera mereka berempat mengambilnya namun saat Arum akan mengambilnya tak ada "kenapa Rum " tanya Angga.
"Yang aku ga ada Angga padahal aku tadi simpan disini kok. Didalam saku bersama buku kecil catatanku "
"Kamu jatuhin dimana kok teledor banget sih " tanya Tinah sewot.
"Sepertinya di daerah sini deh. Jangan marah dulu dong. Aku juga gak tau kenapa bisa jatuh"
Segera mereka berempat mencarinya dan memyenternya dengan sangat teliti, Tinah yang memang ingin Arum terjebak disini segera pura-pura menyobekan kertas lalu tersenyum licik. Tak akan ada lagi Arum s penganggu.
Angga yang tak jauh berada didekat Tinah, melihat Tinah menyobek kertas itu. "Lihat aku menemukannya"sambil memberikannya pada Arum.
"Terimakasih Tin , tapi aku harus mencari Hanin dulu, kalian tunggu dulu ya , aku hanya sebentar tak akan lama" segera setelah mengatakan itu Arum pergi sambil diikuti oleh Angga dibelakangnya.
"Aku gabisa tunggu, aku akan mencari Sarah saja Fer. Aku ingin segera pulang. Gak bisa kalau harus nunggu lagi "
"Jangan Tin, kita tunggu saja itu berbahaya. Bagaimana kalau Sarah lebih jahat dari orang yang membawa palu itu"
"Tidak, aku tak bisa diam seperti ini saja menunggu yang tak pasti " segera Tinah berlari meninggalkan Feri sendirian.
**
"Rum Arum dimana kamu "teriak Hanin yang sudah sangat ketakutan mencari Arum yang tak ketemu dari tadi. Kakinya sudah lelah berjalan. Ingin beristirahat tapi takut.
Dirinya sudah sangat takut sekali, sendirian dari tadi tak menemukan satu pun temannya, Ayudia saja tak ada. Segera Hanin menaiki satu persatu tangga dan ada Aldi yang sedang menyeringai padanya "Aldi kamu kenapa, kenapa banyak darah apa ada terjadi sesuatu dengan kamu "
"Hahaha kau tau, aku meliha Ayudia mati namun daging-dagingnya hidup. Aku ingin melihat apakah kau juga seperti Ayudia. Jika sama aku akan memfotonya juga. Ayo cepat kesini "
Hanin yang mendengar Ayudua mati segera menutup mulutnya tak percaya sahabatnya mati " pasti bohong, kamu bohongkan jangan main-main Aldi. Gak mungkin Ayudia mati"
"Mengapa aku harus bohong, ayo sekarang kamu aku bunuh , aku pun ingin melihat dangingmu mu yang berbicara, agar aku bisa merekamnya juga"
"Tidak tidak dasar kau gila. Sadar lah Aldi " Hanin segera berlari dengan terbirit-birit masuk kedalam ruangan, dan mengumpat paling belakang dibawah kolong meja.
"Dimana kamu Hanin, aku pasti akan menemukanmu jangan bersembunyi ayolah. Jangan membuatku pusing " sambil menyalakan senter ponselnya lalu menunduk untuk mencari Hanin.
Hanin yang ketakutan segera menutup kedua matanya, semoga saja Aldi tak menemukannya "jangan bersembunyi keluar lah Hanin, agar kamu cepat-cepat bertemu dengan sahabatmu Ayudia "
Saat Aldi sedang mencari Hanin datang orang pembawa palu, lalu segera mengayunkannya kekepala Aldi tanpa bisa Aldi menghindar karena membelakanginya.
Orang itu terus saja memalu kepala Aldi sampai sudah hancur tak berbentuk, Hanin yang menengoknya saja ingin muntah.
"Hy ayo ikut aku, aku bisa bantu kakak keluar dari sini " ucap seorang anak kecil sambil mengengam tangan Hanin.
Hanin hanya mengangguk dan mengikuti anak kecil itu melewati orang pembawa palu yang masih asik menghancurkan kepala Aldi. Tanpa curiga sedikit pun pada anak kecil itu. Kalau di fikir dengan nalar. Mana ada anal kecil yang berani berkeliaran ditempat ini. Mustahil sekali ya.
"Baiklah, kamu kenapa ada disini. Terus sama siapa kamu disini. Apa kamy terjebak sama seperti kakak"
"Sudah jangan memikirkan aku, mending kakak tidur saja ya nanti kalau kak Arum ada aku akan membangunkan kakak. Kakak pasti cape mending tidur saja agar nanti saat bangun fit kembali dan gampang untuk lari lagi "
"Baiklah, kamu jangan kemana-mana ya. " Hanin segera menyenderkan kepalanya. Sedangkan anak itu tersenyum dengan senang. Masuk perangkap juga ternyata kakak ini
**
Angga dan Arum sedang berkeliling dan masuk kedalam ruangan cctv "ayo Rum ga ada Hanin disini kita cari ketempat lain aja ya"
"Sebentar Angga disini ruang control cctv aku ingin mengecek kematian Bella. Aku ingin tau saja "
"Untuk apa Rum, pasti Bella mati sama hantu-hantu itu. Ayolah "
"Tolong sebentar aku cuman pengen tau, cuman itu aja Angga gak lana kok "
Arum segera memundurkan rekaman cctv saat dirinya tadi ada didalam kamar mandi. Angga segera bergabung dan sama sama menonton rekaman ini.
Mereka berdua menonton dengan fokus, alangkah kagetnya saat Arum masuk kedalan kamar mandi itu lalu terdengan suara Bella yang meminta ampun.
"Tolong Rum jangan seperti ini, jangan bunuh aku. Kitakan sahabat tapi kenapa kamu kaya gini Rum. Masalah tadi bisa kita bicarakan baik-baik ya. Itu masalah sepele Rum. Aku keluar juga buat nyari temen-temrn yang lain " minta Bella.
"Kamu bohong, kamu jahat tau gak, aku ga percaya sama ucapan kamu ya. Dasar orang jahat ya kamu itu "
Segera Arum menarik tubuh Bella dan membuat leher Bella tercekik. Arum segera keluar dari dalam kamar mandi di ikuti anak kecil. Memakai baju merah dengan rambut panjang berponi.
Arum yang melihat rekaman itu mengelengkan kepalanya, dia sudah membunuh temannya sendiri, sahabatnya sendiri "ini ga mungkin kan Angga, aku ngebunuh Bella, tangan tangan ini kenapa jahat banget dan mulut aku. Kenapa bisa bicara kaya gitu " sambil mengangkat tangannya.
Arum lalu memukul-mukulkan tangannya keatas meja"stop Rum stop " namun Arum masih menangis histeris sambil memukul-mukulkan tangannya.
"Rum stop, jangan sakitin diri kamu sendiri " bentak Angga sambil memegang bahu Arum lalu memegang bahu Arum.
"Ini bukan salah kamu, itu salah hantu kecil itu yang mempengaruhi kamu. Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri. Kuat Rum kuat ayo kita cari yang lainnya kita selamatin yang lainnya Rum. Kamu jangan gini dong"
"Ayo, ayo aku gak mau Hanin juga ikut meninggalin aku gak mau kehilang sahabat-sabahat aku lagi"
"Tapi sebentar mana sobekan kertas kamu"minta Angga
"Untuk apa Angga"
"Sini biar aku yang memegangnya nanti takut hilang lagi, tenang aku akan menyimpannya baik-baik " tanpa curiga Arum memberikannya pada Angga.
Segera Arum mengusap air matanya lalu pergi bersama Angga mencari keberadaan Hanin. Mencari dengan hati-hati agar tak ketemu dengan orang pembawa palu itu.