
Arum sekarang pergi keluar sekolah untuk menemui bibinya yang sedang koma di rumah sakit namun hujan sangat deras yang membuat Arum hanya bisa diam menunggu sampai hujan reda..
Arum sudah menunggu disini hampir 1 jam dan ini adalah jam pulang para murid. Tiba tiba datang Sasa dan menyapa Arum.
"Bu apa perlu tumpangan, ayo akan aku antar, ibu mau pergi kemana di cuaca dingin seperti ini"
Arum hanya mengelengkan kepalanya saja, Sasa dengan cemberut segera pergi sambil di payungi oleh supirnya. Namun saat sudah masuk Sasa malah keluar lagi dan memberikan jas hujan pada Arum.
"pakailah bu " setelahnya Sasa langsung pergi meninggalkan Arum sendirian.
Arum akhirnya pergi mengunakan sepedanya dan memakai jas yang diberika oleh Sasa.
Saat sudah sampai rumah sakit Arum masuk dan menemui bibinya.
"Bi kapan bibi sembuh. Paman sudah sangat merindukan bibi dan kami semua pun sama sangat merindukan bibi"
Namun sama sekali tak ada jawaban dan membuat Arum akhirnya duduk dan merenung menatap kearah bibinya..
Pintu terbuka dan menampilkan dokter Andrian dan memberikan sebuah kue pada Arum.
"Rum ini aku bawakan kue untuk mu, semoga kau suka ya"
Arum segera berdiri tersenyum canggung dan mengambilnya "terimakasih, aku akan kekamar mandi dulu ya " setelah meletakan kue itu Arum pergi kekamar mandi.
Namun saat dirinya akan menganti pakaian dia mencium lagi wangi hantu yang tak berwujud itu, yang mengikutunya. Dengan berani Arum bertanya pada hantu itu.
"Apa yang kau mau dariku. Siapa sebenarnya kau, aku lelah di ikuti oleh mu terus"
"Akhirnya kau bisa juga berbicara denganku, jika lelah maka bantu aku "
"Apa yang kau mau dariku. Apa sebenarnya, aku bahkan tak bisa melihatmu"
"Kasus apa sih, kau bukan polisi"
"Kasus kematian pamanku yang dituduh telah membunuh Putri Ayu Ningsing, "
"Itu bukannya Putri yang memiliki gedung yang sekarang dijadikam sekolah khusus perempuan kan "
"Ya benar, gedung yang kau sekarang sedang tempati, bantu aku, aku ingin mencari keadilan untuk paman ku "
"Lalu aku harus menanggilmu apa, sedangkan aku tak bisa melihat wujud mu sama sekali "
"Panggil aku kakak tingkat "
"Heyy aku ini gurumu, kenapa aku harus menanggilmu kakak tingkat "
"Ya tetap saja, meskipun sekarang kau adalah guruku, aku lebih tua darimu, aku sekolah disini mundur dari 20 taun belakang, bangunan itu dulunya sekolah khusus pria namun sekarang setelah 20 taun berlalu sudah berbeda "
"Baiklah kakak, baiklah. Sudah aku mau menjaga bibiku dulu"
'Tapi bantu aku dulu. Ayolah aku sudah memperkenalkan diri bantu aku, apakah kau tak kasian dengan pamanku yang menjadi tersangka, mana mungkin dia membunuh Putri dia sangat menghormati putri, bahkan sudah mengabdi bertahun tahun"
Namun Arum acuh tak acuk, membiarkan yang katanya kakak tingkat itu mengoceh bebas. Arum segera masuk keruanganya dan masih ada dokter Adrian.
"Eh Arum makan ya, saya mau keruangan saya dulu, gak apa apakan kamu aku tinggalin"
"Iya gak apa apa kok dok, saya udah biasa nunggu bibi saya sendirian, jadi gak usah khawatir ya sama saya "
Arum lalu duduk dan memejamkan kedua matanya, dengan suara ocehan kakak tingkat yang tak mau berhenti, terus saja mengoceh tanpa henti