
Akhirnya mereka semua sudah ada dirumah masing-masing, bahkan Arum tak memberitahu orang tuanya tentang kejadian yang dirinya hadapi di asrama itu. Takut mereka berdua malah jadi khawatir.
Arum segera memasukan kopernya kedalam kamar dan merebahkan dirinya diatas kasur. Namun seketika tertidur dengan lelap dan nyenyak. Tanpa pergi dahulu kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
**
Arum sekarang sudah ada disekolah dan melihat teman-temannya sudah ada namun hanya beberapa. "Kalian mau ga main boneka ini " tunjuk Tinah
"Boneka kertas Tin " tanya Hanin.
"Iya buat pertemanan kita selalu utuh, kalian hanya perlu menarik kertas ini dan menyimpannya gimana mau gak, meskipun ya aku ga punya temen. Tapi aku mohon sekali ini aja kalian mau"
"Boleh " ucap Hanin sambil menarik Arum yang baru datang.
Bisa dihitung ada 9 orang, Tinah, Arum, Bella, Ayudia,Hanin,Angga Feri,Aldi dan Nova.
"Kalian tau konon sekolah kita ini bekas rumah sakit, angker katanya sih itu juga, kalian juga harus mengucapkan sebuah matra. Karena disini pernah ada yang meninggal yaitu seorang anak kecil bersama ibunya. Ibunya suster dirumah sakit ini. Sampai sekarang mayat dari anaknya belum ditemuin entah kemana itu mayatnya " lanjut Tinah.
"Kamu tau dari mana Tin " tanya Ayudia.
"Ya banyak kok yang tau, malahan aku sedang menyelidiki semua ini, kalian semua harus mengucapkan sebuah mantra yaitu sarah sarah kami datang beberapa kali siap ya. Aman kok ga akan terjadi apa-apa" ucap Tinah sambil menatap satu persatu temanya.
Lalu mereka semua menganggukan kepalanya "Sarah Sarah kami datang, Sarah Sarah kami datang, Sarah Sarah kami datang, Sarah Sarah kami datang, Sarah Sarah kami datang, Sarah Sarah kami datang, Sarah Sarah kami datang, "lalu menarik setiap bagian yang sudah mereka pegang.
"Simpan baik-baik ya potonyan boneka itu, agar perteman kita selalu utuh seperti ini" kata Tinah.
Arum segera menyimpannya didalam buku kecilnya, yang ada foto dirinya dengan Angga. Menyelipkannya dengan aman supaya tak hilang.
Namun tiba-tiba kelas bergetar begitu saja Arum yang dekat dengan tembok segera mendekatkan dirinya kearah sana, sambil perpengangan erat. Tiba-tiba saja lampu mati dan menjadi gelap gulita "Angga " teriak Arum yang dekat dengan Angga.
"Rum sini " teriak Angga. Namun sangat sulit sekali. Angga segera mengapai tangan Arum dan menariknya, segera Angga memeluknya dengan etar dengan salah satunya memegang kepala Arum takut tertimpa sesuatu.
Lantai lantas roboh dan membuat mereka semua terperosok kebawah namun ini sangat gelap sekali "kita dimana ini " tanya Nova
Mereka semua terjatuh ditempat yang penuh buku, namun masih dengan keadaan yang baik-baik saja, tak ada yang luka sama sekali. Arum masih ada dipelukan Angga.
"Entahlah aku juga gak tau kita ada dimana " jawab Tinah dengan takut.
Bella segera menghampiri Angga dan Arum lalu melepaskan pelukan mereka berdua "ayo Rum sini sama aku " sambil menarik tangan Arum. Dengan sedikit kasar.
Angga hanya diam menatap Arum yang ditarik oleh Bella begitu saja. Tak mungkin dirinya akan berdebat dengan Bella karena masalah begini. Apalagi Bella sahabatnya Arum.
"Lalu bagaimana, apa yang harus kita lakukan tiba-tiba saja ada ditempat ini. Ini bukan kelas kita " ucap Nova.
"Iya benar ini bukan kelas kita, kenapa kita bisa kesini coba " jawab Tinah.
"Sudah sekarang kita harus mencari jalan keluar. Agar bisa pergi dari sini. Gak mungkin kan kita diem kaya gini aja" ucap Arum menengahi.
"Ini tuh gara-gara Tinah ngajak-ngajak permainan yang gak guna. Jadikan kejebak kaya gini. Gelap juga lagi. Kita gak tau disini ada apa aja " timpal Aldi menyalahkan Tinah.
"Udah udah jangan saling menyalahkan. Yang seharusnya kita lakuakn sekarang adalah bekerja sama untuk keluar dari tempat ini. Jangan egois kita masuk sama-sama kedalam sini lantas keluar pun harus sama-sama " lerai Arum.
"Iya bener apa kata Arum, kita harus tenang jangan pake emosi. Tinah juga gak tau kan bakal kejadian kaya gini " ucap Nova membela Tinah.
Segera setelah selesai perdebatan itu, mereka semua pergi dengan saling berpegangan tangan. Nova yang memimpin karena memegang sebuah senter yang tadi dia temukan. untung saja.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki otomatis mereka semua berhenti "apa ada orang disini Bell " tanya Arum berbisik.
"Gak tau Rum, kayanya ada deh. Sebenernya kita dimana sih ini kaya rumah sakit tau "
"Aku juga gak tau Bell, iya bener kaya rumah sakit gini. Apa ini rumah sakit yang diceritain Tinah tadi "
"Bisa jadi Rum, tapikan udah dibangun sekolah apa kita masuk kedalam dunia gaib Rum "
"Kayanya gitu sih, gara-gara kita manggil sosok Sarah "
Nova yang berani segera berjalan mengeceknya sambil membawa senter dan mengarahnya kearah depan. Menengok kearah pintu "ayo sini temen-teme ga ada siapa-siapa ternyata aman" baru saja Nova selesai berbicara tiba-tiba "**** " darah mengenai wajah Hanin.
"Ahhkkkk "teriak mereka semua. Nova mati dengan kepala yang di palu oleh sesosok laki-laki kurus namun membawa palu besar.
Mereka semua lantas lari dan memisahkan diri, namun Arum masih mengikuti Bella yang berlari ingin kelantai atas. Mereka semua terbirit-birit berlari.
Sampai Arum tiba-tiba terjatuh tersandung dengan mayat yang sekarang wajahnya berhadap hadapan dengan Arum. Sampai buku catatannya terjatuh dan Arum tak menyadarinya.
Sedangkan Bella sudah naik ketangga"Rum cepet Rum " teriak Bella.Yang takut akan kehadian orang yang membawa palu. Belum siap dirinya untuk mati dengan sia-sia.
Arum segera berdiri namun kaki kananya sakit sekali sampai susah untuk digerakakan. Sedangkam orang yang membawa palu sudah terdengar mengusur palunya. Mendekat kearah mereka.
"Tolong Bell, jangan tingalin aku, kaki aku Bell sakit. Kayanya terkilir " teriak Arum meminta tolong.
Bella jadi serba salah antara naik atau menolong Arum, pada akhirnya Bella memilih menolong Arum "sebentar Rum, aku tak mungkin meninggalkan mu sendirian "
Dengan sekuat tenaga, Bella memapah Arum mencari ruangan yang aman. Untuk persembunyian mereka berdua. Bella segera membuka pintu sebuah kamar pasien lalu masuk dan mendudukan Arum di tempat tidur.
"Sebentar aku akan mencari dulu perban ya dan obat yang lainnya" ucap Bella
"Dimana Bell, jangan keluar aku gamau ditingalin sendirian"
"Engga kok disekitan sini aku mencarinya Rum, aku gak akan tinggalin kamu " Bella segera membuka satu persatu lemarinya dan untung saja ada.
"Sini Rum kakinya biar aku obati "