Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Terbuktikan


Sedangkan dialam sadar Arum dia kembali bertemu dengan perempuan cantik itu namun sekarang berbeda, dia tersenyum manis pada Arum dengan wajah yang bersinar juga.


"Makasih ya kamu udah bantu saya buat ketemu sama anak saya Lilis. Kalau tidak ada kamu mungkin saya tidak akan pernah bertemu dengan Lilis dan tidak tahu bagaimana keadaannya dan mungkin saja saya akan terus menjadi hantu bergentayangan di sini. Terima kasih atas bantuan kamu, kamu sudah mengabulkan apa permintaan saya terima kasih sekali lagi, saya sekarang tenang dan tidak ada lagi beban yang saya tanggung saya sudah melihat anak saya, saya senang dan saya bahagia bisa melihat dia kembali untuk yang terakhir kalinya"


Arum tersenyum pada perempuan itu " Iya sama-sama kamu yang tenang ya jangan lagi berkeliaran seperti itu semuanya sudah berakhir. Kamu sudah bukan manusia lagi kita semua sudah berbeda"


"Iya aku tahu kalau kita berbeda, sekali lagi aku berterima kasih atas kebaikanmu Arum, kalau kau tidak menempati rumah itu mungkin sampai kapanpun aku akan menjadi hantu gentayangan di sana dan menakuti setiap orang yang datang ke sana, terima kasih atas bantuan yang kau berikan padaku ingat nanti jika suatu saat suamimu sudah melakukan kekerasan lebih baik kau pergi jangan seperti aku yang diam dan menerima setiap perlakuan jahatnya padaku, jangan pernah apa yang terjadi padaku terjadi padamu"


Arum menganggukan kepalanya "terimakasih atas nasihat mu teh Lia "


Lia tersenyum lebar, lalu tiba tiba tubuh lia bercahaya perlahan lahan tubuh itu menghilang dan Arum langsung tersadar terduduk. Saat Arum melihat kesekitar ada Angga, ibu mertuanya dan pak ustad tak lupa Lilis dan juga ibu kontrakan.


"Alhamdullilah Rum kamu bangun " ucap Angga dengan khawatir sambil memeluk istrinya dengan erat, sungguh dirinya sangat takut, takut istrinya meninggalkannya untuk selamanya.


"Ini nak Arum minum dulu "


Arum segera mengambil air minum dari pak ustad yang sudah didoakan "kenapa hantu itu bisa memasuki menantu saya pak ustad "


"Karena Almarhum Lia sudah nempel diArum dan saat datang kemari dia melihat anaknya, apa lagi Arumnya sedang melamun makannya langsung masuk. Arum gak boleh banyak ngelamun ya, bebasin aja fikirannya"


Arum yang masih lemas hanya bisa menganggukan kepalanya tak lama kemudian pak ustad pamitan dan pergi dari sana, ibu kontrakan menatap kearah Arum dengan mata yang sendu.


"Sama sama bu, saya juga gak menyangka Lia adalah keluarga ibu, saya tadinya dengan Angga akan mencari keluarganya tapi tanpa kami ketahui ibu keluargannya "


"Iya saya juga tak menyangka jadi bagaimana apakah akan tetap tinggal dirumah itu atau mau pindah saja "


"Saya tetap pada pendirian saya sendiri. Saya dan istri saya akan pindah dari rumah itu Bu, maaf bukannya kami tidak mau lagi tinggal di sana tapi terlalu banyak gangguan yang terjadi kami sudah melakukan pengajian bahkan kami sering melakukan salat mengaji tapi mereka tidak ada henti-hentinya untuk mengganggu kami berdua, jadi untuk membuat kami lebih tenang , kami lebih baik pindah saja dari sana kami tidak mau lagi tinggal di sana dan ibu juga lebih baik lebih merawat lagi rumah itu dan juga sesekali ditinggali rumahnya bu agar tidak kosong tebengkalai seperti itu"


"Baiklah jika keputusan kalian memang sudah seperti itu, saya tidak akan memaksa kalian untuk tinggal disana lagi dan untuk masalah uang kontrakan saya akan mengembalikanya, tapi dengan dicicil ya karena uangnya pun sudah saya gunakan. Saya kira kalian akan benar-benar satu tahun di sana dan saya juga sekali lagi berterima kasih atas bantuan kalian tadi dan saya juga pasti akan terus merawat rumah itu"


Sekarang ibunya Angga yang mulai berbicara " kenapa nggak dari tadi aja kamu bilang kalau uangnya mau dibalikin kita kan gak usah debat kayak tadi, malu-maluin aja udah tua tapi debat kamu ini ya dari dulu sukanya tuh debat-debat aja kan kalau dari tadi gini enak kita nggak masalah mau dicicil berapapun tak apa saya mengerti potong saja, anak saya sudah tinggal di situ anggap saja 1 bulan potong saja tidak apa-apa"


"Iya maaf tadi saya terbawa emosi makanya saya begitu, karena memang saya juga tidak percaya kalau rumah itu ada hantunya dari dulu banyak orang yang berbicara kalau rumah itu angker dan selalu ada penampakan, tapi saya sama sekali tidak percaya dengan ucapan mereka semua makanya saat kalian tadi ke sini bilang alasannya itu saya begitu marah. Kenapa alasan keluar dari kontrakan adik saya hanya karena itu saja begitu, saya kira memang tidak ada ternyata berisi toh rumahnya"


"Iya saya mengerti tapi nanti kalau misalnya mau ada yang sewa lagi rumahnya lebih baik kamu ceritakan dulu saja semuanya, jadi nanti tidak akan rugi dua kali seperti ini lagi saya bukannya mau memberikan kamu nasihat cuman ya agar kamu tidak rugi lagi. Terima kasih atas kebaikan hati kamu yang akan mengembalikan uang kami ya sudah kami semua permisi dulu ya besok anak saya akan mengambil semua barang-barangnya, dan nanti besok juga kunci akan diberikan sama kamu"


"Iya sama sama, hati hati dijalannya "


Mereka bertiga segera pergi dari rumah itu, Angga dan juga Arum tenang ibunya akhirnya mengerti juga dan tak egois, untung saja semuanya tak bertele tele dan langsung saja pada intinya.


Ibu kontrakan bangkit dan beralih kefoto keluarga mereka, melihat adiknya dan tersenyum "kamu yang tenang ya dek, kamu harus iklas deh semuanya udah gak sama lagi, semuanya udah beda dek, nanti saat anakmu mencari calon suami aku akan lebih selektif memilihnya , aku tak akan gegabah seperti padamu waktu itu "