
Arum membuka matanya, namun dirinya merasa aneh karena sekarang di hadapannya ada suaminya, ibunya ayahnya, ayah dan ibu mertuanya, serta neneknya yang sudah sangat tua ada di sini.
Ada apa ini sebenarnya, kenapa orang-orang berkumpul seperti ini dan juga ada Bima tentunya, entahlah kenapa dia bisa ada disini, tiba-tiba saja neneknya mengusap rambutnya.
"Ada apa denganmu kenapa kau tiba-tiba keguguran seperti ini Rum" Arum yang mendengar pertanyaan dari sang nenek bingung keguguran kenapa dirinya bisa keguguran, tadi dirinya hanya melihat sosok bermuka hancur dan entahlah kenapa bisa jadi keguguran seperti ini.
"Apa Arum keguguran kenapa, kenapa bisa" tanya Arum kembali karena memang dirinya begitu bingung kenapa tiba-tiba saja dirinya keguguran, dan suaminya langsung memegang tangannya dengan begitu erat dan raut wajahnya begitu sedih.
"Tadi saat mas pulang kamu udah tergeletak gitu aja di bawah tempat tidur banyak darah yang berceceran Rum kamu keguguran anak kita udah gak ada, saat mas tak mendengar suara kamu lagi tadi mas langsung cepat cepat pulang"
Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar, dirinya yakin dirinya tidak keguguran, kenapa bisa begini.
"Tidak ini tidak mungkin aku sama sekali tidak keguguran, aku tadi melihat kau pulang mas kau pulang dan langsung tertidur saat aku sedang membersihkan kamar mandi, lalu aku bergabung tidur denganmu tiba-tiba saja ada telepon dan itu ternyata dirimu lalu sosok itu berbalik dan ternyata itu bukan kamu, setelah itu dia mendekat ke arahku dan aku tidak sadar aku sama sekali tidak jatuh, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa lagi sungguh ".
Neneknya kembali mengusap rambutnya dengan begitu lembut "lebih baik sekarang kau pulang dulu ke rumah ibu dan ayahmu, biarkan rumahmu itu dibersihkan terlebih dahulu ya ingat selalu hati-hati Rum, di dunia ini manusia tidak ada yang benar-benar baik jadi kau harus selalu hati-hati dalam melakukan apapun, apalagi kalau memakan sesuatu kau harus hati hati jangan sembarangan makan "
Arum tidak bisa menjawab apa-apa dia hanya bisa terisak menangis sejadi-jadinya, anak yang sedang dirinya tunggu-tunggu bersama suaminya begitu saja meninggal, kenapa ini bisa terjadi kenapa, kenapa harus pada dirinya dan hantu itu maksudnya apa mengambil anaknya begitu saja.
Apakah dia yang mengambilnya, siapa yang telah melakukan ini padanya untuk apa hantu itu mengambil anaknya. Angga yang melihat istrinya menangis segera memeluknya dengan begitu erat dia harus bisa menguatkan istrinya.
Meskipun hatinya pun sama sama sakitnya, tapi dirinya harus bisa menguatkan sang istri sedangkan Bima yang sedang diam di pojokan hanya tersenyum samar dia senang anak Arum sudah tidak ada dan itu akan makin memudahkan dirinya.
**
Arum yang sudah sedikit tenang dan sekarang sudah kembali lagi ke rumahnya dikagetkan di gang rumah mereka banyak sekali orang.
"Mas ini kok orang-orang banyak banget ya, ada apa sih kayaknya sempit banget kita mau lewat susah deh"
Angga melongok sedikit dan melihat warung bakso teh Neneng begitu penuh "yang mas lihat itu warung teh Neneng warung baksonya penuh banget sayang, kayaknya banyak banget tuh pembelinya nggak mungkin kan orang-orang tiba-tiba diam di gang kayak gini pasti tuh beli baksonya teh Neneng l, itu lihat tuh teh Neneng juga lagi sibuk tuh "
Arum sedikit melongok dan melihatnya dan memang benar warung teh Neneng begitu padat dan banyak sekali orang yang membeli baksonya, Arum sedikit mengernyitkan keningnya selama dirinya selalu makan bakso di sana memang selalu sepi tapi kenapa sekarang tiba-tiba orang-orang menjadi banyak dan yah makan bakso teh Neneng.
Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh mungkin ini sudah rezekinya teh Neneng "Ya udah deh kita pulang aja ya mas aku mau istirahat "
"Kamu enggak mau beli bakso dulu "
Angga segera menjalankan kembali motornya dan permisi ke orang-orang yang memang menghalangi jalan itu setelah sampai rumah Angga langsung memapah istrinya masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja ada Bima menyapa mereka.
"Eh gimana keadaan Arum udah baik-baik aja kan" Angga yang melihat temannya tersenyum samar
"Iya ini udah agak baikan ya udah kita masuk dulu ya Bim"
"Iyaa iya sok "
Angga lalu menutup pintunya dan membawa istri ke dalam kamarnya tiba-tiba saja istrinya menangis, Angga yang tahu istrinya masih tidak bisa menerima atas kehilangan anaknya langsung memeluknya.
"Yang sabar ya, mungkin ini adalah sebuah ujian yang Allah berikan untuk kita, kita harus selalu sabar dan menerima semua ini kita berdoa saja agar Allah bisa memberikan kita kembali seorang anak "
"Iya mas aku nggak nyangka anak kita bisa ninggalin kita secepat itu dan hantu itu kenapa bawa anak aku, aku beneran enggak jatuh mas, aku nggak jatuh aku lihat sosok itu laki-laki yang persis banget sama kamu dan tiba-tiba wajahnya itu hancur saat dia nengok aku, saat kamu telepon aku dia berubah, dia berubah menjadi menyeramkan di sana aku enggak bisa lakuin apa-apa mas aku kaku aku enggak bisa lakuin apa-apa "
"Sudah sayang sudah jangan dibahas lagi, lebih baik kita pindah ke kamar tamu saja ya, kita jangan tidur di sini aku tidak mau ingatanmu kembali lagi pada sosok itu sudah ikhlaskan semuanya, ikhlaskan sayang"
Arum mengangguk saja dan suaminya membawa Arum ke kamar sebelah, kamar yang memang sengaja di kosongkan dan sudah ada perabotannya juga jadi mereka tak usah membeli lagi yang baru.
***
"Kayaknya sebentar lagi deh deketin arumnya lebih baik nanti aja deh, dia lagi terperuk anaknya meninggal padahal aku senang banget anaknya udah nggak ada itu akan lebih leluasa buat aku deketin dia ternyata apa yang aku mau terjadi juga ya "
"Apa yang terjadi apa yang kamu lakukan Bima"
Bima yang mendengar suara seseorang segera mengalihkan pandangannya dan melihat temannya ada di sana "apaan sih tiba-tiba datang gak ketuk pintu atau apa lo itu nggak sopan ya"
"Apa yang udah lo lakuin"
"Nggak ada lu nggak usah ikut campur apa yang udah gue lakuin "
"Pasti lo udah lakuin sesuatu kan sama keluarganya Angga please jangan kayak gini karena cinta lo berubah jangan kayak gini Bim itu nggak baik "
"Udahlah kamu enggak usah ikut campur kamu nggak ada urusan ya sama aku jadi pergi" ucapan Bima sambil menutup pintunya dan mendorong temannya itu untuk keluar rumah.