Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Penutup


Satu tahun berlalu...


Will telah hidup bahagia bersama Gisel di kediaman Dom. Mereka tinggal di dekat pantai dan menjalani kehidupan seperti keluarga lainnya.


Will dan Gisel mempunyai kedai tempat makan di daerah pantai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Leon dan Arumi kini, hidup bersama. Saat ini mereka mempersiapkan pernikahan mereka.


Malam, sebelum hari pernikahan mereka, Arumi dan Leon diminta untuk datang ke rumah walikota.


"Selamat malam anak anakku." Sambut walikota saat melihat Leon dan Arumi datang.


"Ada apa, Bapak meminta kami berdua untuk datang?" Tanya Leon.


"Kami ingin memberi ucapan selamat kepada kalian berdua." Suara berat yang saat Arumi kenal. Dia menatap ke arah ambang pintu.


"Papa, Mama?" Pekik Arumi saat mengetahui itu adalah orang tuanya.


Arumi langsung menghambur memeluk papa dan mamanya penuh dengan kerinduan.


"Bagaimana bisa?" Tanya Arumi.


Papa dan Mama menjelaskan bahwa mereka bekerja sebagai mata mata, dan untuk menjaga keselamatan Arumi, mereka harus melakukan pembakaran rumah, karena Tuan Marco mulai mencurigai papa dan mama Arumi.


Papa dan Mama tak menyangka Tuan Haris akan berbuat seperti itu pada Arumi.


Namun, kini, Arumi merasa sangat bahagia, karena besok adalah hari pernikahannya dengan orang yang benar benar dia cintai selama ini. Begitu juga dengan Leon. Mereka berjanji di depan orang tua Arumi, bahwa mereka akan saling setia. Leon juga berjanji akan menjaga Arumi dan membahagiakannya.


"Bagaimana bisa?" Tanya Arumi sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Kami tidak meninggal. Kami sengaja membakar rumah kita, supaya Marco dan gengnya tidak menemukan bukti tentang kami." Ucap Barra, papa Arumi.


"Kami bekerja pada negara, untuk mengungkapkan beberapa kejahatan yang merebak saat ini. Dimulai dengan obat terlarang, narkoba, lalu senjata ilegal, lalu perdagangan manusia. Bukan hanya dalam negeri, namun ternyata merupakan suatu jaringan. Marco mulai curiga pada Papamu. Namun, dia selalu tak memiliki bukti. Hingga Haris bekerja sama dengan papamu, dan Haris mulai menaruh curiga pada kami." Cerita Martha.


"Dia menikahimu untuk memancing kami datang." Imbuh Mama Arumi.


"Aku telah memperingatkan Dipo supaya menjauh dari Marco, namun, dia tak pernah mendengar. Bahkan melakukan kerjasama juga, yang membuat kami hampir ketahuan. Namun, mamamu yang memiliki rencana ini. Selama ini kami tak pernah menceritakan ini pada orang lain." Ucap Papa Arumi.


"Bagaimana dengan Tuan Haris?" Tanya Arumi.


"Maksudku, apa dia juga terlibat sejauh Tuan Marco selama ini?" Ucap Arumi kemudian.


"Pada mulanya tidak. Namun, sejak dia bertemu dengan Viona, dan berhubung kembali dengan Tuan Marco, Haris mulai tergoda dengan harta dan kekuasaan yang dijanjikan oleh Tuan Marco. Apalagi setelah menjadi ketua, dengan mudahnya mendapatkan proyek dan usahanya sangat lancar. Aku juga tak menyangka perusahaan milikku digunakan sebagai kedok untuk bisnis kotornya selama ini." Ucap Barra dengan geram.


"Kamu tahu, saat kamu menikah dengan Haris, mamamu hampir membuka kedoknya. Dia sangat marah padaku, melibatkan kamu dalam pekerjaan kami. Namun, kami tak bisa apa-apa. Banyak hal lain yang harus kami selesaikan selama ini, hingga membawa kami pada bukti yang mengarah pada Marco dan Haris. Kamu tahu, Elen adalah korban Haris. Itulah yang membuat kami sangat cemas dan khawatir padamu. Namun, ternyata selama ini ada Leon yang berasa di sisimu. Aku tahu Leon berbeda dengan Haris." Sambung Barra menerangkan.


"Tentang pemukiman padat yang terbakar juga ternyata ulah Haris juga. Menyebabkan puluhan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Lalu anak anak banyak yang menjadi korban. Aku sangat menolak hal tersebut." Geram Mama Arumi.


"Maaf. Maafkan papaku. Sungguh aku tak tahu dengan semua bisnisnya. Hanya satu keinginanmu meneruskan sekolah tari milik mamaku." Ucap Leon.


"Kamu memang sangat mirip dengan Emma. Dia pasti sangat bangga memilikimu." Puji Martha sambil menepuk pundak Leon.


"Terima kasih, Tante."


Martha tertawa kecil mendengar ucapan Leon. Membuat Leon bingung menatap ke arah Arumi.


"Tante? Kamu harus mulai membiasakan diri memanggilku Mama. Besok kalian akan menikah." Sahut Martha.


"Dan kamu bisa memanggilku papa." Imbuh Barra.


Mereka tertawa bersama sama.


TOK.. TOK...


"Apa kamu sudah siap untuk pernikahanmu besok?" Tanya Bob.


"Tentu, Paman." Jawab Leon.


"Kebun anggur itu akhirnya menjadi milik keluarga kita lagi, Leon." Celetuk Bob.


Leon hanya mengerutkan keningnya.


"Kebun yang luas itu adalah milik mamamu. Setelah menikah, kebun itu masuk dalam daftar aset milik Haris. Selama itu Haris telah mengeruk semuanya! Yang lebih parahnya, dia memberi obat obatan terlarang pada proses penyembuhan Emma." Cerita Bob.


"Ya. Aku pun baru mengetahuinya akhir akhir ini, Paman." Ucap Leon.


*


*


Esok pagi, menjelaskan pesta pernikahan Leon dan Arumi. Arumi mematut dirinya di depan cermin. Melihat dirinya sendiri. Dia akan menikah dengan Leon. Kalo ini mereka menikah untuk selamanya.


Tuan Haris telah melepaskan Arumi, dengan keterangan meninggal dunia, dan menikah dengan wanita lain.


Kini Arumi dan Leon telah resmi menikah. Mereka menikah secara sederhana dan hanya dihadiri orang terdekat saja.


Lalu mereka meninggalkan kota itu menuju tempat lain untuk menjalani kehidupan baru mereka dan melupakan masa lalu.


Leon meminta Dito untuk meneruskan sekolah tari itu. Dan semua urusan perusahaan papanya diserahkan pada negara.


Leon tak ingin memikirkan apapun lagi saat ini. Dia ingin memulai hidup baru dengan tenang bersama Arumi di tempat lain.


Suatu malam, pintu rumah mereka diketuk. Ternyata Barra dan Martha yang datang mengunjungi Arumi dan Leon.


"Aoakah kalian ingin bergabung dengan kami?" Tanya Martha pada Arumi dan Leon.


"Bergabung bersama kalian?" Tanya Leon dan Arumi bersamaan.


"Hah??" Teriak Arumi dan Leon.


Arumi dan Leon memutuskan untuk menolak tawaran orang tua Arumi. Leon dan Arumi ingin melanjutkan hidup mereka dengan tenang.


Barra dan Martha menghormati keputusan anak dan menantunya itu. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka dengan profesional.


Arumi dan Leon melanjutkan hidup sebagai petani di sebuah desa. Mereka hidup dengan tenang dan damai. Beberapa kali Will dan Gisel datang berkunjung. Juga dengan Thomas.


Thomas memilih ikut bekerja dengan Barra dan Martha.


"Aku bahagia bisa bersamamu Rumi."


"Aku pun demikian."


"Maaf, karena dulu tak bisa membelamu atas perlakuan papaku."


"Dengarkan aku, Leon. Kamu tidak salah. Kita bisa seperti ini dengan perjuangan panjang. Aku tak ingin berpisah lagi darimu. Aku ingin kita bisa menikmati hari hari kita hingga masa tua kita bersama." Ucap Arumi.


Leon merangkul pundak Arumi.


Mereka duduk di bukit di lahan milik mereka, menatap langit yang mulai berwarna jingga. Menatap matahari tenggelam perlahan dan sangat indah.


-TAMAT-


Terima kasih telah mengikuti kisah ini.