Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Menjemput Thomas


Will dan Gisel berlarian perlahan menuju sisi jalan yang menurun. Mereka melihat tubuh Andra tergeletak penuh luka di sana.


"Andra... Ndra... Kamu bisa dengar aku?" Gisel menggoyang tubuh Andra.


"Tunggu! Sebaiknya kita tidak menyentuh apa apa di sini. Aku panggil pertolongan sebentar." Instruksi Will. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi tenaga medis dan polisi untuk membantu mereka.


"Berapa lama kita harus menunggu Will? Apa Andra masih hidup?" Gisel terlihat panik.


"Will berjongkok di dekat tubuh Andra dan memeriksa denyut nadinya. Sejenak dia terdiam meyakinkan instingnya.


"Denyut nadinya sangat lemah.." Ucap Will.


"Astaga..!!" Serunya saat mengetahui darah mengalir dari sisi perut Andra


"Dia tertembak." Will menatap Gisel, dan mengambil syal yang dikenakan gadis itu, lalu menutup luka tembak pada perut Andra untuk menghentikan pendarahan.


Gisel terlihat panik memperhatikan apa yang dilakukan oleh Will.


"Will?"


Will menghela napas panjang.


"Tolong kamu pegang bagian ini! Tahan supaya tidak banyak darah yang keluar. Semoga kita tidak terlambat menolongnya."


Gisel melakukan apa yang katakan Will, lalu Will mengambil ponselnya kembali dan menghubungi seseorang dengan tegas.


"Cepatlah, aku memerlukan bantuanmu!" Ucapnya sambil mengakhiri panggilannya. Lalu melihat ke atas ke arah jalan, karena terdengar sirine ambulan bergerak mendekat ke arah mereka.


Beberapa petugas medis menuruni sisi jalan mendekati mereka, setelah mendekat, mereka bergegas membuka peralatan medisnya lalu terlihat petugas yang lain membawa tandu untuk membawa tubuh Andra ke mobil ambulans.


Oksigen diletakkan di hidung Andra, beberapa petugas memeriksa keadaan tubuhnya. Luka tembak diberikan penanganan. Lalu tubuhnya diletakan di atas tandu, dikencangkan, supaya tidak goyang, lalu mereka membawa ke atas menuju ambulan. Will dan Gisel mengikuti petugas medis yang membawa tubuh Andra.


"Ada yang ikut?" Tanya salah satu petugas.


Will dan Gisel saling tatap, Gisel menggeleng karena sebenarnya mereka akan menjemput Thomas di bandara.


"Kami tidak ikut." Jawab Will. Petugas itu mengangguk, lalu berlalu masuk ke mobil.


Polisi terlihat memeriksa tempat kejadian, beberapa orang menyusuri jalan untuk mereka ulang kejadian.


Will menemui salah satu polisi di sana. Gisel mengambil ponselnya dan menghubungi Andin.


"Halo." Jawab Andin.


"Ndin, Andra kecelakaan, sekarang telah dibawa ke rumah sakit."


"Hah... Kapan? Dimana?"


"Barusan. Sekarang sedang dibawa menuju rumah sakit kota. Aku tidak bisa menemaninya. Aku sedang menjemput Thomas ini."


"Oke. Terima kasih, Sel."


Gisel menutup panggilan ponselnya. Ia mendekati Will. Gisel menatap lelaki yang sedang berbicara dengan Will.


"Kenalkan ini Mark, temanku yang sekarang bekerja di kepolisian kota." Will mengenalkan temannya.


Gisel menatap sejenak wajah Mark. Ia mengerutkan keningnya, teringat peristiwa satu setengah tahun silam, saat rumahnya di datangi oleh orang banyak, lalu ia menyaksikan sendiri Mamanya dirudapaksa lalu ditembak hingga mati karena melawan. Lalu yang menyedihkan, ia juga menjadi korban kebiadaban orang orang musuh Papanya itu. Pakaian satu per satu dilucuti, lalu mereka beramai-ramai menikmati dan menyiksa Gisel hingga ia tak dapat lagi merasakan apa apa. Yang lebih parah, Papanya kabur meninggalkan dirinya dan Mamanya tanpa kabar hingga saat ini.


Ia menatap Mark, lelaki itu yang menemukan dirinya dan menutupi tubuhnya yang telanjang waktu itu. Gisel masih ingat, lelaki itu yang menolongnya sebelum ia tak sadarkan diri.


"Gisel." Gisel mengulurkan tangannya pada Mark.


Mark menerima uluran tangan dan menjabatnya erat.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik. Terima kasih." Jawab Gisel.


Mereka saling menatap, lalu..


"Hmmm... Sebaiknya kita langsung ke bandara menjemput Thomas." Ucap Will menyadarkan Mark dan Gisel.


"Iya." Sahut Gisel tergagap dan tersipu malu.


Will tersenyum geli melihat Gisel salah tinggak di depan temannya itu.


"Kami pergi dulu." Will bergegas menuju mobilnya. Gisel menoleh kembali ke arah Mark yang ternyata masih menatapnya. Gisel tersenyum manis padanya kau bergegas mengikuti langkah Will sambil berlari kecil.


"Kamu beruntung!" Ucap Will sambil menyetir mobilnya.


"Beruntung?"


"Mark jarang tersenyum dengan perempuan."


"Dia lebih parah. Dia terlalu galak menurutku." Will melirik ke arah Gisel.


"Setiap polisi harus memiliki tampang galak mungkin, supaya orang segan bahkan takut pada mereka. Eh, kamu berteman dengannya kan?"


"Ya, dari sekolah menengah pertama hingga lulus sekolah polisi." Cerita Will.


"Kamu...?" Gisel mengerutkan keningnya terkejut mendengar Will lulusan polisi.


"Kenapa malah jadi ajudan Tuan Haris. Bukannya jika jadi polisi akan dapat jabatan dan penghasilan tinggi?"


"Di sana bukan tempatku. Tapi aku bersyukur bisa banyak belajar di sana, sehingga dapat membantu Tuan Haris."


Gisel menganguk mengerti, Will terus fokus menyetir.


"Siapa yang berani melakukan itu pada Andra? Anak pejabat kota dengan pimpinan tinggi." Gumam Gisel.


"Aku tak tahu. Temanku sedang menyelidikinya." Tukas Will.


"Aku telah menghubungi Andin. Semoga Andra selamat." Ucap Gisel, lalu melihat jalanan dari jendela mobil.


Will membelokkan mobil ke arah bandara. Kini mereka telah memasuki kawasan bandara internasional.


***


Thomas membereskan laptopnya dan memasukkan dalam tas ranselnya, karena penerbangan akan segera sampai ke tujuan. Ia menghabiskan sisa air mineralnya. Ia memasukkan buku yang ia baca tadi kedalam tas ransel juga, lalu mengubah posisi kursi supaya dapat duduk dengan tegak. Thomas sengaja membeli tiket penerbangan ekonomi, karena tidak ingin terlalu membebani Arumi yang membayar semuanya, meski jika dia mau meminta lebih, sepupunya pasti memberikannya. Ini sudah cukup menurut Thomas.


Saat pesawat mulai mendarat dan berhenti, Thomas mulai mengambil ranselnya dan mulai antre untuk keluar dari pesawat.


BRUUUKKK...


Seseorang mendorongnya dan membuat tubuhnya jatuh. Thomas mencoba berdiri dan membalikkan tubuhnya. Tepat di belakang sosok itu ada lagi.


"Kamu...!" Ucap mereka berbarengan.


"Ma-maaf aku terburu-buru." Ucap Nina, Thomas membantunya untuk bangkit berdiri.


"Terima kasih." Sambung Nina sambil membersihkan tangannya yang sedikit kotor ke celananya.


"Kamu baru datang dari Amerika?" Tanya Nina yang berjalan di sebelah Thomas.


"Ya. Kamu dari sana juga?" Thomas tanya balik.


"Aku ada pekerjaan di sana, pemotretan salah satu brand."


"Kamu hebat! Aku sering melihat wajahmu di papan reklame dan majalah." Puji Thomas.


"Apalagi Mama dan Papamu adalah orang ternama juga. Aku salah satu penggemar Papamu. Dia idolaku. Terkadang lirik lagu yang ia buat itu menyentuh dan menginspirasiku."


Nina tersenyum sinis mendengarnya.


"Ada yang salah?" Thomas heran.


"Tidak. Dia bisa menginspirasi orang, tapi tidak untuk anak anaknya." Keluh Nina.


"Sudahlah, aku tak ingin ucapanku ini didengar infotainment. Ayo kita ambil bagasi." Ajak Nina berjalan mendahului Thomas.


Thomas mengikuti artis itu dari belakang sambil tersenyum.


Mereka menunggu tas mereka, beberapa orang yang mengenali Nina ada yang meminta foto, dan lagi lagi Thomas menjadi juru fotonya.


Setelah mendapatkan tas mereka, Thomas dan Nina menuju pintu kedatangan. Gisel terlihat berlari dari kejauhan menghampiri Thomas dan Nina. Will mengikuti di belakang Gisel.


"Gisel adikku." Thomas memeluk adiknya itu untuk sesaat, lalu melepasnya.


"Setahun tak melihatmu, kamu terlihat makin cantik." Puji Thomas.


"Jangan menggodaku. Aku belum punya kekasih! Hai Nina, kalian satu penerbangan?" Tanya Gisel.


"Ya." Jawab Nina sambil tersenyum.


"Aku duluan ya, itu managerku sudah datang." Nina melambaikan tangan pada Thomas dan Gisel, lalu bergegas menemui managernya.


Will terlihat menghela napas sedikit kecewa. Gisel melirik ke arahnya.


"Sudah, kita pulang. Perempuan bukan cuma Nina. Aku juga perempuan." Gisel mengerlingkan mata menggoda Will.


Will dengan gemas mengacak-acak rambut Gisel.


"Hai... Yang boleh seperti itu hanya Thomas!" Protes Gisel sebal.


Thomas dan Will hanya tertawa melihat Gisel yang kesal.