Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Diskusi Pagi Hari


Pagi itu Arumi terbangun, ia ingin melatih otot tubuhnya kali itu. Ia turun ke ruangan menarinya di lantai bawah.


Tak sengaja ia melihat Thomas keluar dari kamar tempat Nina tidur selama tinggal di kediaman Tuan Haris.


Arumi mengerutkan keningnya sejenak. Ia mencoba mengingat kembali semalam setelah ia menemani Tuan Haris di kamar, ia melihat Thomas dan Nina berciuman di tepi kolam renang.


Arumi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah sepupunya itu. Ia menuju ke dapur untuk membuat secangkir kopi sebelum memulai pagi. Ia membuka ponselnya dan membaca berita hangat dan trending sambil menikmati secangkir kopi.


Dibaca perlahan berita demi berita, hingga sampai perseteruan Viona dan suaminya. Kini mereka telah menjalani sidang putusan untuk menenangkan hak asuh dan harta gono gini. Sangat jelas, mereka tak perlu dipusingkan oleh urusan anak, karena mereka telah dewasa dan dapat memilih hidup sendiri seperti saat ini, namun pembagian harta membuat mereka saling tuding dan mengaku memiliki hak atas properti yang mereka miliki saat ini.


Viona dan suaminya memiliki sebuah resort mewah di Amerika yang kini full dijalankan oleh Viona, saat membangun dulu, mereka patungan dan semua keuntungan dibagi dua.


Namun, kini Viona ingin keuntungan resort dibagi empat. Mereka berdua, ditambah anak anak mereka. Sang suami tidak setuju. Dengan alasan, Nina telah memiliki penghasilan sendiri, dan Dito telah mendapat warisan dari kakek neneknya. Suaminya beralasan resort itu untuk mengisi masa tuanya kelak setelah ia selesai dengan serangkaian tur dunia yang kini tengah ia jalani.


Pasangan itu saling tuding isu perselingkuhan, saling membeberkan bukti mengenai perselingkuhan masing masing. Namun, tidak ada nama Tuan Haris.


Padahal, Arumi jelas jelas pernah memergoki suaminya bersama Viona, dua hingga tiga kali saat di sana. Lalu cerita Tuan Haris mengenai hubungan mereka yang saling mencintai. Namun, selama itu suami Viona tidak pernah menyadari sosok pria yang sebenarnya tengah dekat dengan istrinya.


Arumi menghabiskan sisa kopinya, lalu mengambil sebotol air mineral dan membawanya masuk ke ruang latihannya.


Ia berlatih selama satu jam lebih, sebelum matahari mulai menampakkan diri pagi itu. Arumi menyeka keringat yang mengucur dari tubuhnya dengan handuk lalu membuka pintu ruangan itu.


Terlihat Gisel sedang berolahraga yoga di tepi kolam renang. Ia mendekati gadis itu.


"Tumben bangun pagi?" Sapa Arumi


"Kamu juga." Balas Gisel.


Ia sedang melakukan pose warrior. Gisel membuka kedua kakinya lebar. Lalu tubuh bertumpu pada tumit dan posisi jari mengarah keluar. Tekuk lutut kiri hingga posisi lutut tegak lurus diatas tumit kiri dan pertahankan kaki kanan tetap dalam posisi lurus. Tangan kanan ditaruh hingga di atas kepala dan regangkan tubuh sisi kanannya, lalu ia menarik napas perlahan. Lalu melakukan gerakan untuk posisi tubuh sebaliknya.


"Apakah kamu mau melanjutkan sekolah, Sel?" Tanya Arumi.


Gisel menghentikan gerakannya lalu menatap sepupunya.


"Tidak terlalu. Aku lebih senang bekerja." Jawab Gisel sambil menyeka keringatnya lalu duduk di bangku dekat kolam renang di samping Arumi.


"Kamu mau bekerja di sekolah menari?" Tanya Arumi.


Gisel mengerutkan keningnya lalu menatap Arumi tak yakin.


"Ya. Di sekolah ada lowongan sebagai petugas administrasi, butuh lulusan sekolah menengah atas. Jika kamu berminat, kamu bisa ajukan lamaran. Nanti aku akan rekomendasikan kamu ke personalia di sana." Arumi balas menatap Gisel untuk meyakinkan sepupunya itu.


"Akan aku coba. Terima kasih. Oya, apa Andin salah satu muridnya?" Tanya Gisel.


"Ya, ia salah satu gadis madam Fey, yang belajar menari denganku. Ada apa?"


"Aku sudah hampir dua bulan ini tak bertemu dengannya sejak kelulusan kami. Bela mulai sibuk mengurus kuliahnya. Aku masih paruh waktu di kafe itu. Hanya kadang Will mengajakku untuk menemani makan siang." Cerita Gisel.


"Wow... Sepertinya kamu dekat dengan Will?!" Tebak Arumi.


Gisel terbahak-bahak mendengar tebakan Arumi.


"Hati dan kepala Will hanya penuh dengan nama Nina, lagian tidak mungkin kami bersama." Tukas Gisel sambil menaikkan bahunya.


"Dia mengenalkanku pada Mark. Teman polisinya. Dia sudah, aku pikir tak salah jika aku mencoba dulu mengenalnya." Sambung Gisel.


"Aku senang kamu bisa bahagia kembali, bisa menikmati hidupmu, menghargai setiap hal yang kamu lakukan saat ini."


"Aku masih mengingat memori kejadian itu, Rumi. Tak pernah lupa! Para bajing*n itu menyeret tubuhku, melucuti setiap helai tubuhku, lalu mereka meraba dan menyentuh tubuhku seolah aku ini sebuah mainan. Aku masih ingat bagaimana mereka bergilir memakai diriku dengan paksa tanpa ampun. Aku tak bisa bernapas dibuatnya. Terlebih saat Mama mencoba melawan mereka karena hendak menolongku. Dan suara pistol itu selalu aku kenang. Aku masih mengingat dengan rupanya!" Gisel bercerita penuh emosi, terdengar berkali kali ia menggeram.


"Kamu tahu, saat penjahat itu mengacung pistol pada Mama, Papaku malah bersembunyi dan melarikan diri. Ia tak mempedulikan kami!" Gisel menundukkan wajahnya.


Arumi mendekat dan memeluk sepupunya itu.


Gisel menatap ke arah Arumi lalu mengangguk.


***


Nina membuka matanya perlahan, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Bagian bawah tubuhnya terasa tak nyaman. Ia menggeliat, menatap sisi sampingnya yang telah kosong. Thomas telah keluar dari kamarnya, ia menatap ke arah jendelanya, di luar sudah terlihat terang. Nina menghela napas. Ia memaksa dirinya untuk bangun dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ia teringat semua yang telah ia lakukan bersama Thomas semalam. Entahlah dia merasa menikmati setiap sentuhan dari Thomas. Ia menatap tubuhnya yang telanjang pada cermin di dalam kamar mandi. Masih terasa setiap kecupan dan belaian dari pemuda itu pada tubuhnya.


Ia menyukai Thomas, merelakan tubuhnya, bahkan keperawanannya ia serahkan pada Thomas. Nina seolah tahu dibutakan oleh rasa cintanya pada pemuda itu.


Ia membuka seluruh sprei dan mengganti dengan yang baru. Dan meletakkan di ruang laundry bersama dengan beberapa pakaiannya.


Ia keluar dari kamarnya setelah mandi dan cantik kembali. Ia mendengar suara Sasa telah mengetuk pintu dan memanggil namanya.


"Astaga, kamu ini. Kenapa lama sekali?" Keluh Sasa.


"Aku sakit perut." Sahut Nina berbohong.


"Kamu tidak apa apa kan?" Selidik Sasa. Karena tidak biasanya Nina agak malas malasan.


Nina menggelengkan kepalanya.


"Aku mendapat tawaran menyanyi di klub Madam Fey. Kira kira aku ambil atau tidak ya?" Tanya Nina pada asistennya itu.


"Kamu tahu, klub Madam Fey itu seperti apa?" Tanya Sasa.


Nina menganguk.


" Jika kamu menyanyi di tempat seperti itu, siap siap saja ada gosip atau berita miring tentang kamu, Ladies!" Sambung Sasa.


"Tapi aku juga penasaran, untuk tampil di tempat seperti itu. Aku nanti akan coba tanya Arumi. Dia yang sering ke sana." Nina tersenyum sambil berlalu menuju ruang tengah kediaman Tuan Haris.


Biasanya pagi seperti ini keluarga Tuan Haris berkumpul untuk sarapan atau sekedar berbincang berdiskusi berbagai hal.


Nina bergabung duduk di salah satu kursi di ruang makan itu, duduk di samping Arumi yang tengah mengutak-atik tab nya setelah berbincang dengan Tuan Haris.


"Rumi, bisakah aku meminta saran padamu?" Nina langsung pada intinya. Arumi langsung menoleh ke arahnya.


Nina menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Madam Fey. Surat penawaran untuk menyanyi di klub miliknya.


Arumi membaca sejenak pesan tersebut.


"Aku rasa tidak ada salahnya kamu bertemu Madam Fey, untuk menanyakan sendiri penampilan seperti apa yang akan diadakan di klubnya. Tapi sepertinya akan digabungkan dengan penampilan dari tarian gadis gadis yang berbakat menari itu. Karena beberapa kali Madam Fey memintaku untuk mengajar menari beberapa gadisnya yang berbakat menari." Terang Arumi.


"Jadi, jika aku tampil di sana, aku akan aman dari berita miring." Gumam Nina.


"Hai, kamu hanya menyanyi di klub. Menghibur para tamu di sana, untuk mengiringi penari klub itu. Jika kamu hanya melakukan tugasmu dengan baik, dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh, aku jamin, kamu akan aman. Lagian, masuk ke klub itu harus menyerahkan semua gadget, tidak ada ponsel saat berada dalam klub itu." Tandas Arumi.


Nina menganguk angguk mengerti, lalu menoleh ke arah asistennya itu.


"Tolong sampaikan pada managerku untuk mengurus semuanya dan mengatur ulang jadwalku." Instruksi Nina pada Sasa.


Sasa menganguk dan sibuk dengan ponselnya untuk mengurus segala jadwal Nina untuk bertemu dengan Madam Fey.


Thomas baru datang dan mengambil tempat di kursi sebelah Nina.


Nina melirik ke arah Thomas yang tersenyum padanya. Mereka berdua saling tatap untuk sesaat.


Kejadian itu menjadi perhatian Will seketika yang ada di sana. Ia menyadari jika telah terjadi sesuatu antara Nina dan Thomas.