Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Kejadian di Sekolah


Gisel memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran. Namun, Bela teman sebangkunya, menyikutnya, memberi isyarat, Leon berjalan di koridor melalui kelas mereka.


"Tuh Leon!" Bisik Bela.


"Terus?"


"Aku dengar ia dihukum harus membersihkan ruang gudang garam gara kemarin." Lanjut Bela.


"Loh, bukannya Andra yang memulainya?"


"Kamu kan tau, Papanya Andra donatur sekolah kita ini. Kepala sekolah tetap memilih Leon yang bersalah."


"Bukannya Tuan Haris, ketua dewan kota ini?"


"Namun, ia jarang datang untuk menjemput saat ada masalah di sekolah. Eh, Arumi itu sepupumu, bukan.."


"Bela... Gisel... Jika kalian tidak memperhatikan Ibu menerangkan pelajaran, sebaiknya kalian berdua duduk di depan saja untuk mengobrol!" Bentak Bu guru saat mengetahui Bela dan Gisel mengobrol.


"Ti- tidak Bu.." Jawab Gisel sambil menendang sepatu Bela.


Bu Guru masih menatap tajam pada mereka. Lalu melanjutkan menjelaskan pelajaran.


Ketika bel tanda istirahat berbunyi, siswa siswa itu berteriak.


"Baik, kalian harus mengerjakan, halaman 54 itu, dan besok, Ini harap kita dapat membahasnya." Pesan Bu Guru. Lalu ia meninggalkan ruangan kelas itu.


"Yuk ke kantin, aku lapar!" Ajak Bela, Gisel menganguk.


Saat mereka menuju kantin, mereka bertemu Andin, teman satu genk, namun saat ini mereka beda kelas. Andin satu kelas dengan Leon.


Leon, Bin, dan Dito, sedang meminum teh botol di sudut kantin, sambil makan gorengan.


"Jadi kapan kita bisa latihan?" Tanya Dito.


"Ya sudah besok Sabtu kalian datang ke rumah, kita latihan bersama di rumahku." Jawab Leon.


"Kamu sudah balik ke rumah?" Tanya Bin dengan heran.


Selama enam bulan terakhir, Leon menghabiskan tidurnya di rumah penampungan dinas sosial, terkadang menginap di rumah Bin.


"Kamu tau, aku tak ingin mencoreng wajah Papaku. Apalagi kalo Dinas Sosial tau siapa aku, bisa bisa aku bakal dihukum sekolah di luar negeri, menuruti Papaku." Jawab Leon sambil menggigit bakwannya.


"Yang kemarin Ibu dirimu?" Tanya Dito.


"Cantik, masih muda, pandai sekali Papamu mencari istri." Ucap Bin.


Leon hanya mengangguk, dan menaikkan bahunya dengan cuek. Tanpa menjawab pertanyaan temannya itu.


Gisel hanya menatap Leon dari kejauhan. Ia tak ingin makan saat itu, ia teringat keadaan Mamanya di rumah. Ia takut Papanya, saat pulang akan menyiksanya kembali.


Gisel, Andin, dan Bela kembali ke kelasnya setelah istirahat di kantin. Saat melewati tangga mereka berpapasan dengan Andra dan gengnya. Andra tersenyum bagai menyeringai. Ia mendekati Gisel dan mendorong ke tembok.


Gisel dengan sekuat tenaga mendorong Andra.


"Apa Lo? Minggir!" Bentak Gisel sambil mendorong Andra.


"Hhmm.. Gadis lacur, jangan aku tak tau perbuatanmu bersama Alan tempo hari." Ejek Andra.


"Apa urusanmu?" Bentak Gisel sambil menatap tajam Andra.


Andra mengunci tubuh Gisel, lalu tangan satunya meraba raba tubuh Gisel. Andin dan Bela mendorong dan memukul anak buah Andra yang memegangi mereka.


"Diam! Apa kamu juga mau meladeni kami?" Bentak Andra pada Andin dan Bela.


Andin terlihat menciut, namun Bela langsung menampar pipi Andra.


Plak...


"Astaga Bela! Dasar gila kamu!" Bentak Gisel, yang langsung berlari menuruni anak tangga menolong Bela. Andin mengikuti temannya itu.


Teman teman segera berdatangan mengerubungi Bela, Andin, dan Gisel. Andra dan gengnya segera berlalu tanpa peduli apapun.


"Bel.. Bela... Sadar Bel!" Gisel memeluk Bela dan menepuk nepuk wajah temannya itu dengan lembut.


Tak lama guru datang untuk menolong Bela.


Gisel menemani Bela selama ia tak sadarkan diri di ruang UKS. Bayangan Gisel tentang keadaan Mamanya, lalu kini sahabatnya. Membuat tubuhnya menggigil, ketakutan. Ia berusaha menguatkan hatinya untuk menjalani semuanya.


"Sel..." Panggil Bela yang mulai membuka matanya.


"Bela... Gimana? Mau apa?" Tanya Gisel.


"Aku haus." Ucapnya.


Gisel membantu Bela untuk meminum. Bibirnya pecah karena pukulan Andra, lalu tubuhnya banyak luka lecet.


"Sungguh kejam sekali dia! Dasar!" Umpat Gisel pada Andra.


"Iya.." ucap Bela sambil menahan rasa sakit karena jatuh dari tangga.


Gisel menemani Bela menuju ke klinik yang jaraknya tak jauh dari sekolah.


Ia menunggu Bela selama di periksa dan di obati luka lukanya. Gisel juga menghubungi, Mamanya Bela, jika Bela sedang berada di Klinik. Namun, ia tak berani mengatakan yang sebenarnya melalui telpon.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Mama Gisel datang ke klinik. Ia berlari kecil menuju ruang IGD, tempat Bela menjalani perawatan.


"Ya, Tuhan Bela... Apa yang terjadi? Gisel, ceritakan apa yang telah terjadi pada Bela?" Tanya Mamanya Bela dengan penuh amarah.


Gisel menceritakan kejadian di sekolah pada Mama Bela. Kemudian Mamanya Bela terlihat marah. Ia tidak terima dengan apa yang telah Andra lakukan. Pada Bela putrinya.


"Dasar anak bedebah! Jangan pikir Bapaknya donatur sekolah bisa seenaknya saja. Lihat, akan aku balas apa yang telah ia lakukan pada putriku!" Gumamnya.


"Gisel, terima kasih banyak atas pertolonganmu pada Bela. Jika ada masalah lagi, jangan segan-segan menghubungi Tante ya. Kamu mau bareng bersama kami, pulangnya?" Mamanya Bela menawarkan diri, namun Gisel menolah.


Ia beralasan akan mencari pesanan Mamanya dulu sebelum pulang.


Kemudian Mamanya membawa Bela pulang, dan mereka berpisah.


Gisel menuju sebuah kafe di sudut kota, ia memesan es kopi di sana.


"Halo, kamu sepupunya Arumi, bukan?" Tanya Adam, pemilik cafe itu.


"I-iya, kakak siapa?" Tanya Gisel heran.


"Dulu Arumi kerja di sini, sekarang dia sudah jadi istri pejabat.. yah.. lupakan sajalah.. Ini pesananmu." Ucapnya sambil menyerahkan pesanan es kopi Gisel.


"Kak, jika butuh pegawai, saya juga bisa, namun sepulang jam sekolah." Ucap Gisel sambil tersenyum manis.


Adam terdiam sejenak. Ia menatap lama pada Gisel.


"Baiklah, jika kamu bisa, silahkan datang besok. Weekend, kami membutuhkan tenaga bantuan. Kamu bisa bergabung bersama kami di sini." Ucap Adam.


"Wah. Beneran kak?" Tanya Gisel tak percaya.


"Ya, sungguh! Kamu bisa bekerja di sini. Lagian posisi Arumi, juga belum ada yang menggantikannya." Jawab Adam kemudian.


"Terima kasih." Jawab Gisel sambil meninggalkan cafe itu.


"Hai, namamu siapa?"


"Gisel." Gisel mengulurkan tangannya dan so sambut jabat tangan oleh Adam.


Adam menghela napas lega, setelah akhirnya ia mendapatkan pegawai pengganti Arumi.