Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Kembali


Setelah dua pekan kedatangan Madam Fey dan rombongan, Arumi memutuskan untuk kembali Indonesia, kali ini dia menggunakan identitas baru yang ia peroleh dari rekan bisnis Dom.


"Kamu benar benar ingin kembali ke sana?" Tanya Dom suatu malam setelah mereka berlatih tinju.


"Aku harus menghadapi kenyataan dan menolong orang orang yang aku sayangi." Ucap Arumi sambil menyeka keringat dengan handuk.


"Mungkin aku hanya seorang pengecut, tidak berani datang langsung dan menolong adikku." Ucap Dom lirih sambil tertunduk.


"Dengar, aku janji akan membawa Will padamu. Aku percaya dia masih punya hati nurani." Arumi meyakinkan Dom. Ia menepuk bahu Dom.


"Terima kasih untuk semuanya Dom, jika kejadian salah culik dulu tak terjadi, mungkin aku yang jatuh dalam pusaran Tuan Haris, dan entah aku masih hidup atau benar benar sudah mati."


"Aku dengar Nina akan melakukan tur lagi di Vegas bersama kekasihnya itu." Ucap Dom tiba tiba.


"Kamu ingin dia?"


Dom tersenyum dan mengangguk.


"Aku akan bantu kamu, sebelum pergi ke Indonesia." Sahut Arumi.


***


Nina dan kekasih barunya melenggang masuk ke sebuah klub mewah di Vegas usai melakukan mini konsernya. Kekasih baru Nina adalah seorang DJ. Mereka menari seirama dengan hentakan musik yang dimainkan di klub itu. Mereka bergoyang di lantai dansanya.


Nina dan kekasihnya menikmati musik dengan menggerakkan tubuh mereka, bergerak saling mendekat, dan berpelukan. Kekasihnya menciumi Nina saat mereka sedang bergoyang di lantai dansa klub itu. Lampu kelap-kelip khas dunia malam telah bermain. Nina dan kekasihnya bergabung dengan pengunjung lain di klub itu mencari kesenangan.


Setelah puas dan lelah bergoyang di lantai dansa, Nina dan sang kekasih duduk di sofa yang telah mereka pesan sebelumnya.


Dua orang gadis menghampiri dan menarik kekasih Nina. Lalu gadis gadis itu menggoda dan mengajak sang kekasih bergoyang kembali di lantai dansa.


Nina hanya menghela napas dan meneguk minumannya. Lalu menuju ke arah bar dan duduk di sana. Dom menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Aku traktir." Ucapnya sambil tersenyum.


Nina menatap Dom dan tersenyum.


"Astaga, tampan sekali, dan.... Tubuhnya benar-benar bagus!" Pekik Nina dalam hati.


Dom tahu, Nina sedang memperhatikan dirinya, dia pura pura tak peduli dan menikmati minumannya.


"Kamu sering kemari?" Nina memberanikan diri bertanya.


"Ya. Di saat sedang senggang saja." Ucapnya.


Nina melirik pada jari tangan Dom, dan tak melihat cincin di sana. Nina menoleh ke lantai dansa, di sana kekasihnya terlihat bersenang senang bersama gadis gadis tadi.


Mereka akhirnya saling mengobrol setelah itu, Dom memberi isyarat pada bartender untuk membuatkan racikan minuman lagi untuk Nina dan dirinya, namun itu tanda untuk menambahkan bubuk ajaib pada gelas Nina.


"Untuk gadis bersuara merdu yang cantik!" Ucap Dom sambil mengangkat gelasnya.


Nina tersenyum, dan meraih gelas yang baru di sajikan oleh bartender tadi, ia meneguknya hingga habis.


Dom tersenyum. Kini, ia tinggal menghitung detik demi detik, menunggu reaksi bubuk ajaib tadi.


"Kamu sangat tampan sekali! Tubuhmu sangat indah, dan aku yakin kamu m memiliki sesuatu di bawah sana yang sangat menggoda juga!" Bisik Nina yang mulai mabuk dan merancau tidak karuan.


Dom menyeringai, ia lalu memapah gadis itu keluar dari klub, langsung menuju ke kamar hotel di lokasi yang sama.


Dom menutup pintu kamar, lalu menaruh Nina ke atas kasur. Namun, Nina yang saat itu berada dalam pengaruh bubuk ajaib yang ternyata adalah perangsang, seketika merasakan tubuhnya sangat panas, dan ia langsung merayu Dom. Menarik Dom, untuk menemani di atas ranjang.


Nina melepas kemeja Dom dan melempar sembarangan, lalu aroma tubuh pria itu seakan membuatnya menggila. Dom menikmati semua perlakuan gadis itu.


Dom menikmati semua kebersamaan dengan Nina malam itu. Begitu pula dengan Nina yang mulai menggila bagai penunggang kuda saat menaiki tubuh Dom.


Dom memberikan banyak tanda bibirnya mulai dari leher, dada, perut, paha. Ia seolah tak ingin melewatkan seluruh bagian tubuh gadis itu.


Nina menggeliat bagai cacing kepanasan, lalu membusungkan dadanya. Dom yang sangat terobsesi dengan Nina langsung menikmati gunung kembar gadis itu. Puncaknya yang berwarna pink dinikmati sangat rakus, bagai bayi yang kelaparan, ia memberi tanda di bagian itu saat menikmatinya.


Nina mencakar punggung Dom karena menahan rasa nikmat yang tiada Tara akibat reaksi perbuatan Dom.


"Aaahhh... Tidakkah!" Teriak Nina.


"Lepaskanlah..!" Bisik Dom perlahan. Lalu ia perlahan menciumi perut dan langsung ke bagian bawah. Tangannya menyusuri tiap jengkal kaki Nina, lalu naik ke paha,dan melebar bagian itu. Nina menjambak rambut Dom secara refleks, meminta pria itu memainkan miliknya yang sudah terasa sangat gatal dan penuh.


Dom membenamkan kepalanya di sana, Nina terus berteriak meminta terus dan terus, hingga akhirnya dia melepaskan semuanya, cairan keluar dari miliknya, napasnya tersengal-sengal. Dom menyeringai puas melihat Nina.


Dom dan Nina melakukan berbagai macam gaya malam itu untuk menghabiskan waktu. Nina tak henti hentinya meneriakkan kata terus dan mau lagi. Nina benar benar dalam pengaruh bubuk ajaib malam itu, ia tanpa malu dan ragu menggerakkan pinggulnya berada di atas pria yang baru pertama ia temui. Nina dan Dom merapatkan tubuh mereka dan menyatukan semua hasrat menuju ke puncak, lalu mereka melakukan pelepasan bersama.


Setelah itu mereka melakukan lagi dengan gaya yang berbeda. Hingga Nina terlihat lelah dan mulai tergeletak dalam pelukan Dom usai melakukan pelepasan yang kesekian.


Dom mengenakan pakaiannya kembali, lalu Dom menutupi tubuh Nina dengan selimut dan meninggalkannya dalam kamar hotel.


Hotel dan klub itu adalah milik Dom, ia dengan mudah mendapatkan akses untuk keluar dan masuk.


Setelah menutup pintu kamar, Dom melihat Arumi yang tersenyum ke arahnya.


"Aku menikmatinya!" Ucap Dom dengan puas.


"Kekasih dan asistennya juga telah aku bereskan." Ucap Arumi


"Kamu memang yang terbaik." Puji Dom.


Arumi tertawa mendengar ucapan Dom.


***


Arumi menghirup napas dalam-dalam saat turun dari pesawat. Aroma tanah air seakan memberi semangat baru untuknya. Kini dia kembali lagi ke tanah kelahirannya, dengan menggunakan nama baru Audi yang berarti kekuatan. Ia ingin menjadi sosok baru untuk merebut kembali perusahaan milik keluarganya, dan menolong saudaranya yang tersisa.


Arumi yang baru bernama Audi, kembali bersama beberapa gadis penari yang telah ia latih untuk pertunjukan di klub malam yang baru dibuat oleh Madam Fey.


Klub tersebut masih di tempat yang lama, namun Pak Broto dan Madam Fey telah merenovasi menjadi sesuatu yang baru. Klub itu mulai beroperasi malam ini.


"Selamat datang kembali di rumah Rumi!" Sambut Madam Fey dan Pak Broto pada Arumi.


"Terima kasih Madam Fey dan Pak Broto." Jawab Arumi.


"Kini namaku adalah Audi." Sambung Arumi sambil memeluk dua orang tadi yang telah dianggap sebagai keluarganya.


"Iya, iya. Kami akan membiasakan diri memanggilmu Audi." Pak Broto menegaskan pada dirinya sendiri.


"Bolehkah aku pergi jalan jalan?"


"Tentu, sayangku. Tapi, tetap hati hati, ya!" Pesan Madam Fey.


Arumi mengangguk mengerti.


Hal yang pertama ia datangi adalah makam kedua orang tuanya dan bibinya. Ia berdoa sejenak, lalu ia melihat di sisi lain pemakaman. Ia menatap makam dirinya sendiri dan tersenyum kecut. "Arumi telah benar tiada. Selamat tinggal Rumi!". Di kejauhan, Arumi meihat Will di sana sedang menatapnya di sudut yang lain.


Saat itu, Arumi mengenakan pakaian tertutup, dengan jaket, Arumi sengaja memakai masker, kepala ditutup hoodie jaket, dan mengenakan kacamata hitam. Arumi lalu bergegas meninggalkan tempat itu menuju mobilnya.


Will mengejarnya, namun Arumi telah melakukan mobil meninggalkan area pemakaman itu.