Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Rahasia Viona


Arumi duduk, menunggu Viona yang mengajaknya untuk bertemu. Kini, Arumi telah menunggu sekitar lima menit di sana untuk menunggunya. Tak lama, sosok Viona terlihat setelah berlari menuju ke tempat Arumi.


"Maaf." Ucap Viona. Arumi membalas dengan anggukan.


Mereka memesan minuman untuk menemani mereka berbicara. Viona dan Arumi memasang kopi.


"Aku sangat berterima kasih sekali padamu Rumi. Selama ini kamu masih membimbing Nina, bahkan selalu memberikan saran yang baik untuk karirnya."


"Ya. Tidak masalah. Nina hanya memerlukan seorang teman bicara selama ini. Ia membutuhkan seorang teman yang bisa mengerti dan memahami dirinya." Ucap Arumi.


Tak lama pelayan datang membawa minuman pesanan mereka.


Viona menghela napas panjang sebelum ia mengatakan sesuatu.


"Aku telah berpisah dengan suamiku. Aku rasa aku ingin membagi salah satu rahasia terbesar dalam hidupku padamu." Viona mengambil cangkir kopi dan menyesapnya perlahan.


"Rahasia apa?" Tanya Arumi.


"Dito adalah putra Haris." Ucapnya setengah berbisik pada Arumi.


Arumi tersentak. Ia menghentikan kegiatannya yang hendak menyesap kopinya. Ia menatap Viona tak percaya.


"Bagaimana bisa? Atau kamu hanya menginginkan sebagian uang Tuan Haris setelah menceritakan semua omong kosong ini padaku." Ucap Arumi dengan sinis.


"Dengar, aku mengatakan ini tanpa bermaksud apa pun pada mu. Aku malu mengakui semua ini selama ini, aku takut dan aku membutuhkan seseorang orang menceritakan semua ini. Aku memilihmu!"


"Mengapa aku?"


"Aku yakin kamu adalah seorang yang dapat dipercaya. Sama seperti Nina mempercayaimu." Viona menatap Arumi dengan sungguh-sungguh.


Arumi hanya terdiam mendengar alasan Viona.


"Saat itu adalah pertama kali setelah kami sama sama telah menikah dan masing masing telah memiliki pasangan. Aku tiba di sebuah acara perjamuan, karena ada pengusaha yang mengundangku secara itu. Haris tiba bersama Emma. Aku pun sudah mempersiapkan diri, bahwa Haris telah menikah dengan Emma. Saat itu, Emma tengah hamil muda, jadi ia merasa tak enak badan. Emma lebih dahulu pulang dan tak mengikuti acara hingga selesai. Lalu Haris menghampiri aku. Kami berdua menuju ke rumah di tengah kebun anggur itu, dan menghabiskan malam kami di sana.


Aku tahu aku salah, harusnya aku menolaknya, harusnya aku tak terpesona dengannya.!" Ucap Viona dengan kesal.


Ia masih ingat bagaimana ia terbujuk dengan rayuan Haris malam itu untuk menuju ke rumah perkebunan.


Ia masih mengingat bagaimana Tuan Haris memperlakukannya, ia selalu bertekuk lutut di hadapan pria itu. Lalu terjebak dalam permainannya, menyerahkan dirinya untuk diperlakukan apa saja olehnya. Ia selalu terpesona dan terbius oleh pesona Tuan Haris.


"Aku mengetahui diriku hamil setelah kembali ke Amerika. Kebetulan, saat itu suamiku sedang libur dari tur panjangnya. Kami menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Itulah mengapa, ia tak pernah mempermasalahkan anak anak kami. Ia menyangka bahwa Dito adalah putranya juga, seperti Nina." Viona tersenyum kecut.


"Aku sangat terkejut saat Mamaku bercerita bahwa Nina dan Dito sering menginap di rumah Emma, bahkan Dito bersahabat dengan Leon, putra Emma dan Haris. Hingga saat ini." Viona menerawang, menatap jalanan dengan sendu.


"Apakah Tuan Haris mengetahui ini?" Tanya Arumi.


Viona menggeleng lemah. "Aku takut membuka semua rahasia ini. Bahkan orang tuaku pun tak mengetahuinya. Hanya aku, dan sekarang, kamu." Viona menoleh, menatap ke arah Arumi.


"Kamu yakin, benar benar putra Tuan Haris?" Tanya Arumi kemudian.


"Maksudku, bukannya aku sangsi, tapi, kenyataannya selama ini kamu yang memendam itu semua, lalu tiba-tiba bercerita padaku. Apakah tidak berakibat juga bagi Dito saat mengetahui kebenaran ini. Lalu tanggapan publik pada Tuan Haris dan dirimu. Terlebih saat itu Emma masih ada saat kalian melakukan perbuatan itu." Tandas Arumi menatap tajam ke arah Viona.


"Ya, aku tahu." Viona menghela napas panjang.


"Selama ini, kalian saling mencintai, mengapa tidak mengakuinya?"


"Aku masih terikat dengan pernikahan dengan suamiku kemarin. Lalu sekarang, kamu dan Haris masih terikat. Aku tak ingin merusak reputasi dan citranya." Jawab Viona.


"Kamu masih mencintainya?" Tanya Arumi.


"Selalu." Sahut Viona dengan cepat.


Mereka menghabiskan waktu sore itu dengan mengobrol sekitar dua jam di kafe. Banyak hal yang telah diceritakan oleh Viona pada Arumi. Selain hubungan dengan Tuan Haris, ia juga menceritakan tentang mamanya Arumi, yang juga merupakan teman dekatnya.


Bahkan keluarga mama Arumi, yang ia tak pernah tahu, Viona ceritakan. Mamanya sempat menghubungi Viona menitipkan keponakannya supaya dapat masuk ke sekolah seni bergengsi itu. Selama itu Viona sering mengikuti sang keponakan Marta. Bahkan Marta yang membiayai sekolah dan kehidupan adiknya dan keponakannya, tanpa Arumi pernah mengenal sosok bibi dan sepupunya itu.


"Jika kamu ingin mengambil lisensi pengajar profesional, kamu bisa menghubungi aku. Aku akan membantumu. Program hanya sekitar tiga bulan. Dan aku rasa Haris akan mengijinkan kamu untuk mengikuti program itu." Viona menawarkan diri untuk membantu Arumi.


Arumi tersenyum. "Terima kasih. Maaf aku telah menuduhmu. Mungkin aku akan membicarakan ini dahulu pada Tuan Haris."


"Aku tahu, kamu tidak benar benar cinta pada Tuan Haris. Aku bisa merasakannya." Sahut Viona sambil mengedipkan sebelah matanya.


***


Viona menatap dirinya pada cermin yang ada dalam kamar mandi itu. Di belakangnya Tuan Haris tersenyum menatap ke arah cermin. Ia memeluk perempuan itu dari belakang, lalu menciumi lehernya sehingga membuat Viona menggeliat sambil memejamkan matanya.


Tuan Haris menyentuh lembut wajah, leher, lengan, lalu ia menarik tali pengikat kimono tidur berenda berwarna maroon yang dipakai Viona. Kini tubuh Viona hanya berbalut lingerie berwarna senada. Tua Haris melepas lingerie dengan satu gerakan, hingga tak sehelai benang pun menempel pada tubuh Viona.


Tuan Haris memainkan dengan lembut dua gunung kembar Viona, hingga membuat Viona mengeluarkan suara rintihan nikmat bergerak naik turun dan menggeliat. Tuan Haris mendorong tubuh Viona menyentuh cermin, lalu Tuan Haris mencium punggung Viona dengan lembut. Lalu Tuan Haris membalik tubuh Viona menciumi dan menikmati wajah, leher, dan dada dengan cara yang dapat membuat Viona merasakan kenikmatan duniawi.


Lalu tangan Haris memainkan bagian milik Viona, ia memasukkan jarinya ke lubang kenikmatan yang mulai basah itu.


Viona masih memejamkan matanya menikmati semuanya. Lalu ia mendorong Tuan Haris hingga terduduk pada sofa. Ia duduk tepat di atas pusaka milik Tuan Haris, dan memegang, lalu memasukkan dalam lubang miliknya, bergerak naik turun, hingga Tuan Haris mengerang sambil meremas rambut Viona karena menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Mereka berdua saling bergerak seirama, saling merengkuh nikmat duniawi bersama. Mereka sudah tak memikirkan apapun, hanya ingin saling menikmati dan mencapai puncak masing masing bersama.


"Viiooo.... Oh...!"


"Haarrriiss...oh...!"


Keduanya saling memanggil dan merintih. Tak lama tubuh mereka saling bertautan dan saling bergetar. Viona membusung dadanya saat merasakan ada sesuatu yang masuk dalam miliknya. Tuan Haris langsung menikmati suguhan gunung kembar itu bergantian. Lalu keduanya saling menautkan bibir mereka.


Hingga akhirnya mereka merasakan puncaknya bersama.


Napas dan peluh saling beradu, mereka terengah-engah setelahnya. Saling memeluk usai menyatukan milik dan hasrat duniawi.


Perlahan Tuan Haris menarik miliknya dari lubang Viona, lalu ia mencium kening perempuan itu.


Viona berjalan menuju kamar mandi, masih diikuti oleh Tuan Haris, lalu ia menutup pintu kamar mandi, mereka melanjutkan permainan mereka dalam kamar mandi di bawah kucuran air shower.


"Aku ingin selalu bersamamu, Viona!" Bisiknya.


Viona hanya tersenyum sambil memejamkan matanya menikmati setiap hentakan yang diberikan oleh lelaki itu pada tubuhnya.