
Arumi menatap tumpukan kertas dan map berisi laporan beberapa pekerjaan. Termasuk proyek yang Thomas kerjakan bersama team pilihan Tuan Haris.
Mereka salah satu divisi dari perusahaan di mana Arumi bekerja, dulu perusahaan itu milik Papanya. Dan hampir semua karyawan yang ada di sana adalah karyawan Papa dulunya. Arumi masih mengingat sebagian besar dari mereka, karena sejak kecil ia sering ikut papanya di kantor, meski hanya untuk sekedar bermain.
Lalu pukul 10 pagi itu, Arumi telah berada di ruang meeting bersama Thomas dan beberapa karyawan untuk membahas rencana pembuatan restoran dan tempat hiburan itu.
Usai meeting, Thomas masih menunggu Arumi yang masih membereskan beberapa perlengkapannya di ruang itu.
"Mau makan siang bareng?" Ajak Thomas.
"Dengan senang hati." Jawab Arumi tersenyum lebar.
Thomas masih seperti yang dulu, seperti seorang kakak yang perhatian padanya.
Thomas mengajak Arumi makan di sebuah tempat makan di dekat kantor mereka. Mereka duduk berhadapan sambil melihat daftar menu.
Arumi memilih menu gado gado, sedang Thomas memesan cah daging lada hitam.
"Rumi, menurutmu, apakah membiarkan Nina tampil di klub Madam Fey tidak membuat citranya buruk?" Thomas membuka percakapan.
"Maksudmu?"
"Nina bercerita padaku akan tampil di klub Madam Fey, kebetulan bersamaan dengan peluncuran produk baru dari perusahaan Tuan Haris di klub. Aku tahu dia hanya bernyanyi saja, dan tidak melakukan hal lain, namun, mendengar klub milik Madam Fey, pikiranku sudah yang buruk buruk saja, apalagi aku pernah masuk ke sana." Tutur Thomas.
Sebelum Arumi membalas penuturan Thomas, makanan pesanan mereka tiba.
"Terima kasih." Ucap Arumi pada pelayan yang mengantar makanan mereka. Pelayan itu tersenyum sambil mengangguk.
"Menurutku tidak masalah dia tampil di sana. Dia telah berusia lebih dari 21 tahun. Jika karirnya ingin terus berkembang, tidak ada salahnya mencoba hal baru. Lagian dia menyanyi di sana tidak sendiri. Ada manager, asisten, dan beberapa kru yang dia bawa." Sahut Arumi.
"Aku dengar dia akan menari juga di sana, aku takut ia akan dipegang pegang oleh lelaki hidung belang, dengan alasan menaruh uang pada dadanya." Ucap Thomas pelan.
Sontak Arumi tertawa kecil mendengar alasan Thomas.
"Jadi, ada apa dengan kalian sebenarnya?" Selidik Arumi.
Thomas menyadari ia telah membuka sedikit rahasia hubungannya dengan Nina yang terjalin selama beberapa hari ini.
Ia menghela napas sejenak lalu menatap Arumi.
"Aku mencintainya, Rumi. Dan dia pun mencintaiku. Tapi, kami masih ingin menikmati perasaan ini untuk kami sendiri. Aku tak ingin hubungan yang baru terjalin ini mengganggu karir dan pekerjaannya. Aku ingin kamu merahasiakan ini." Ucap Thomas sambil memegang punggung tangan Arumi.
Arumi menikmati gado gado ya sambil mengangguk.
"Jadi malam itu kalian tidur bersama?" Cecar Arumi.
"Malam apa?"
"Malam setelah kita dari klub Madam Fey." Arumi menaikkan alisnya meminta kejujuran Thomas.
Thomas terdiam. Ia hanya tersenyum. Lalu Arumi mengerti dari bahasa tubuh sepupunya itu.
"Kamu tak boleh menyakiti perasaannya. Nina adalah gadis yang baik. Jagalah dia. Jika aku tidak salah, kamulah yang menjadi lelaki pertama dalam hidupnya." Arumi berpesan pada Thomas.
"Ya. Aku mencintainya, tak mungkin aku berani menyakitinya. Aku berjanji padamu." Ucapnya.
"Aku percaya padamu Thomas." Arumi menatap mata Thomas.
"Lalu untuk pembangunan restoran dan klub sudah berjalan?" Sambung Arumi.
"Untuk pelaksanaannya, saat ini baru sepuluh persen. Tapi, aku yakin, akhir tahun akan selesai tepat waktu. Jadi dapat dipakai untuk event perayaan pergantian tahun, seperti yang diharapkan oleh Tuan Haris." Terang Thomas dengan optimis.
Arumi mengangguk angguk mendengarkan penjelasan Thomas.
Mereka menghabiskan makanan mereka, lalu Thomas menuju kasir untuk membayar.
Tak lama Thomas dan Arumi kembali lagi ke kantor mereka.
***
Will berjalan menuju kafe tempat Gisel bekerja, ia memesan kopi dan roti untuk mengganjal perutnya. Tuan Haris sedang berada di sekolah menari untuk membahas rencana pengembangan gedung sekolah itu.
"Ini kopi dan roti pesananmu." Gisel menyerahkan kantong belanjaan berisi pesanan Will setelah membayar.
"Sel, kamu Sabtu ada acara? Mark mengajakmu juga untuk ke rumahnya. Kami mengadakan acara barbeque di rumahnya untuk merayakan ulang tahunnya." Ucap Will.
Gisel terdiam, sejenak ia berpikir.
"Yang datang pasti teman polisinya dan keluarga. Aku tak enak Will." Gisel merasa sungkan.
"Tenanglah, ada aku. Kamu pergi dan pulang bersamaku." Will meyakinkan Gisel.
Gisel masih menatap Will tak yakin.
"Mark yang memintaku mengajakmu. Kalau kamu tak percaya, aku akan telpon dia sekarang."
"Tidak tidak usah. Ya ya, aku ikut. Kabari saja aku waktunya, supaya bisa bersiap siap." Gisel menjawab cepat karena tak enak pada Will.
"Oke. Aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti di rumah."
Gisel hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya ia berencana untuk melamar ke sekolah menari usai jam kerjanya. Ia telah mempersiapkan surat lamaran dan perlengkapannya yang dimasukkan dalam satu amplop cokelat besar.
Setelah ia menyelesaikan jam kerjanya, Adam menemui Gisel dan menyerahkan upahnya selama seminggu ini.
"Terima kasih, Kak." Ucap Gisel sambil menerima amplop pemberian Adam.
"Terima kasih juga telah membantu di sini."
"Aku permisi dulu, kak." Pamit Gisel. Adam menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.
Gisel memasukkan amplop upahnya ke dalam tas, lalu ia segera berlalu dari kafe itu.
Ia berjalan menuju sekolah menari, terlihat mobil Arumi ada di depan lobi, dan ia baru turun dari mobilnya.
Gisel segera berlari menghampiri Arumi.
"Rumi!" Panggil Gisel.
Arumi menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Gisel berhenti tepat di depan Arumi sambil terengah-engah. Sambil mengatur napasnya ia, mangambil amplop cokelat dari dalam tasnya.
"Aku ingin melamar pekerjaan itu. Yang kemarin kamu ceritakan padaku." Ucap Gisel terbata, karena masih mengatur napasnya.
"Akhirnya, kamu datang juga. Aku sudah menunggumu untuk melamar pekerjaan itu dari kemarin kemarin." Sahut Arumi.
"Maaf, kemarin aku masih lembur, di kafe ada pesanan partai besar, jadi aku membantu di kafe beberapa hari lalu. Baru semalam aku membuatnya."
"Aku bawa ya. Nanti aku sampaikan pada personalia." Jawab Arumi sambil menerima amplop cokelat itu.
"Gisel, kamu bisa pulang bersama Bejo saja."
Mata Gisel berbinar mendengar Arumi menawarinya untuk pulang bersama sopirnya yang masih menunggu.
"Terima kasih Rumi. Aku pulang dulu ya. Sampai nanti." Gisel berpamitan pada Arumi.
Arumi melangkah masuk sambil membawa surat lamaran Gisel ke personalia. Sedang kan Gisel segera masuk ke mobil Arumi dan pulang ke kediaman Tuan Haris.
TOK... TOK...TOK..
Arumi mengetuk pintu ruang personalia.
"Oh, Arumi, silahkan masuk." Sapa petugas di sana.
Arumi tersenyum sambil perlahan masuk ke ruangan dan duduk di depan petugas itu.
"Aku membawa surat lamaran Gisel. Ia akhirnya datang melamar pekerjaan administrasi di sini." Arumi menyerahkan amplop cokelat lamaran pekerjaan Gisel pada bagian personalia itu.
"Terima kasih. Aku akan segera menghubunginya langsung." Sahutnya.
"Sama sama. Aku permisi dulu."
Arumi meninggalkan ruang personalia lalu menuju kelasnya untuk mengajar.