
"Arumi....!!" Ucap Dipo saat mengetahui gadis yang ditangkap oleh anak buahnya adalah keponakannya.
"Paman??" Arumi terbelalak mengetahui orang yang menculiknya.
Dipo bergegas memberi isyarat pada dua anak buahnya untuk keluar dari kamar tempat Arumi disekap, lalu menutup dan mengunci pintu kamar itu kembali.
"Paman.... Buka pintunya!!! Apa salahku?... Toloooong....!" Teriak Arumi sambil menggedor-gedor pintu.
Tak ada yang mendengarnya, hingga akhirnya ia putus asa dan terduduk di lantai bersandar di pintu.
Ia menatap sekelilingnya, berpikir mencari jalan keluar dari ruangan itu. Ia melihat ada sebuah celah, jendela pada dinding di ujung ruangan. Jendela itu lebih mirip ventilasi.
Arumi berdiri, dan berjalan menuju ke arah meja yang ada di sudut ruangan. Ia mendorong sedikit meja itu. Lalu ia naik ke meja itu, dan mengintip ke jendela itu.
Arumi melihat ke luar. Sangat sepi sekali. Arumi hanya dapat melihat halaman rumah lain, namun agak jauh. Ia menebak saat ini dirinya disekap di sebuah ruang bawah tanah. Hembusan angin terasa sangat dingin menerpa wajah Arumi, membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk menerobos jendela itu.
Ia menyapu pandangannya pada ruangan yang hampir kosong itu. Hanya berisi rak dan ada sebuah mesin cuci, entah masih berfungsi atau tidak. Lalu sebuah kursi tempatnya diikat tadi. Ada sebuah meja dan besar dan kecil, yang kecil, adalah yang tadi di sudut ruangan di bawah jendela.
Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu gantung berwarna putih sekitar 5 Watt, terlihat tidak terlalu terang, juga tidak gelap sekali.
Arumi tak habis pikir mengapa dia ada di tempat itu. Lalu ada masalah apa, sehingga dia harus ditangkap oleh pria pria itu.
Arumi melihat ada sebungkus roti di meja yang besar di sisi yang lain. Lalu ia mendekati meja panjang itu. Roti itu dibawa oleh salah satu pria bertubuh edar dan bertato tadi saat ia masuk setelah dari kamar mandi.
Perut Arumi mulai berbunyi, menandakan cacing cacing di dalam perutnya kelaparan. Ia mengambil roti itu, lalu membukanya. Ia menciumi roti tersebut sebelum dimakan, untuk memastikan tidak ada obat tidur atau racun di roti itu.
Arumi memakan roti itu. Satu gigitan, dua gigitan, tiga gigitan, hingga dia melahap habis roti lapis itu. Ia bersendawa usai menelan roti lapis itu.
Ia melayangkan pandangannya mencari kran air untuk minum, karena haus. Ia melihat ada kran di dekat mesin cuci, lalu Arumi menuju ke tempat itu. Ia memutar kran itu, dan ternyata keluar airnya.
Arumi meminum air tersebut, menghilangkan dahaganya. Lalu mendekati pintu, mencoba mencuri dengar apa yang terjadi di luar ruangan itu.
Tapi baru beberapa detik ia menempelkan wajahnya di pintu.
BRAAKK
Pintu terbuka dan Arumi terdorong hingga ke dinding di belakangnya.
"Aduh..!" pekik Arumi.
"Astaga!" Suara Dipo terkejut.
"Apa yang kamu lakukan di situ?" Tanya Dipo yang melihat Arumi terjerembab di belakang pintu.
Arumi mengelus jidatnya, sambil berpegangan untuk berdiri.
"Ayo, ikut!" Ucap Dipo sambil berjalan menuju anak tangga ke ruang utama rumah itu. Arumi mengikuti Dipo sambil melihat kanan dan kiri tempat yang ia lewati
Kini dia telah berada di dalam rumah itu. Rumah bercat putih, khas luar negeri. Ada sofa dan meja makan di dapur. Di depan televisi ada sofa lagi.
"Ini di mana?" Arumi memberanikan diri bertanya.
"Kamu ada di sebuah daerah. Jangan coba coba untuk melarikan diri! Aku telah berbaik hati melepasnya seperti ini." Ucap Dipo dengan tatapan tajam. Dia lalu menuju ke lemari es, dan membukanya. Ia mengambil sebotol bir, lalu duduk di meja dapur.
Ia membuka tutup botol minuman itu, dan meneguknya sedikit, lalu menatap Arumi yang masih berdiri tegak dan diam di tempatnya semula.
"Duduklah!" Dipo berujar sambil memberi isyarat pada Arumi untuk duduk pada sofa yang ada di sampingnya.
Arumi bergeser dari menurunkan tubuhnya untuk duduk di sofa. Lalu iamembalas tatapan Dipo.
"Mengapa aku di sini?" Arumi kembali bertanya.
"Seharusnya ini menjadi hal yang mudah." Dipo menerawang sambil tersenyum kecut.
"Bukan kamu, tapi Nina." Sambung Dipo sambil menghela napas berat dan menatap ke arah Arumi.
Spontan, Arumi tertawa terbahak bahak mendengar pengakuan dari Dipo. Ia lalu menggeleng geleng kepala dan masih terus tergelak.
Dipo hanya terdiam melihat keponakannya menertawakannya.
"Bisnis. Yang menyerangnya adalah orang orang Marco. Dan sebagian dari mereka bukan orang biasa, ada dari pejabat yang terlibat juga. Termasuk Haris. Viona adalah kelemahan Marco dan Haris." Dipo membuka suaranpada akhirnya.
"Mengapa Nina, bukan Viona."
"Bos menginginkan Nina. Lagi pula, jika Nina, makan Viona pasti akan tetap mencarinya dan mau melakukan segala cara untuk mendapatkannya kembali."
"Nina artis besar. Apa tidak sangat beresiko?"
Dipo tertawa mendengar pertanyaan Arumi.
"Justru itu. Popularitas akan meningkatkan jumlah nilai tawarnya! Tapi, gara gara pesuruh pesuruh bodoh itu, gagal semua rencananya!" Keluh Dipo dengan geram.
Sekali lagi Arumi tergelak kembali. Dipo pun hanya bisa tersenyum kecut menatap keponakannya. Dia pun sedang memikirkan rencana selanjutnya setelah kesalahan fatal yang telah anak buahnya perbuatan.
Arumi berdiri menuju ke arah lari es, lalu membukanya.
"Paman, aku lapar. Tak adakah sesuatu yang bisa untuk dimakan?" Tanya Arumi saat melongok ke arah kulkas yang ternyata hanya terisi minuman.
"Brett...!!" Teriak Dipo memanggil anak buahnya.
"Antar dia ke mini market di ujung jalan!" Perintah Dipo pada Brett.
"Dan pastikan jangan sampai kabur!" Pesannya sambil menoleh ke arah Arumi dengan tatapan tajam.
Brett mengangguk mengerti, lalu membimbing Arumi untuk naik ke mobil bersamanya.
Arumi duduk di samping Brett yang mengemudikan mobil tanpa menatap Arumi. Dari tato di lengannya, Arumi dapat mengenali, dia yang menembak ke arah Leon.
Arumi melempar pandangan ke luar jendela, berharap Leon baik baik saja dan Tuan Haris dapat menemukan dirinya.
Kini dia berada di tempat yang antah berantah, ponselnya pun telah jatuh saat dia berlari bersama Leon di taman kemarin. Tak ada satu pun nomor yang dapat ia ingat untuk dihubungi. Arumi hanya dapat menghela napas dalam-dalam meratapi nasibnya yang belum jelas saat ini.
Brett berhenti di depan sebuah mini market, lalu turun dan membukakan pintu untuk Arumi.
"Jangan mencoba untuk kabur!" Ucapnya sambil memberi isyarat menodongkan pistol ke arah Arumi.
Arumi turun dari mobil, dan berjalan masuk ke mini market itu. Ia mengambil beberapa makanan instan, cemilan, dan minuman soda. Lalu ia menuju ke kasir, masih dalam pengawasan Brett yang mengikutinya dari belakang.
Si kasir mulai menghitung belanjaan Arumi, lalu menyebutkan totalnya sambil menatap Arumi.
Ia menaruh telunjuknya di depan wajah Arumi, seakan mengingat sesuatu.
"Aku ingat denganmu!" Ucapnya dengan tersenyum. Brett langsung tegang dan menaruh ujung pistol di punggung Arumi.
Arumi menghela napas. " Benarkah?" Tanyanya dengan sesantai mungkin.
"Kamu penari yang menari untuk Nina, kan? Adikku sangat mengidolakanmu."
"Oh, iya. Terima kasih." Jawab Arumi.
Brett langsung menaruh selembar uang untuk membayar belanjaan Arumi, dan langsung mendorong tubuh Arumi.
"Hei, kembaliannya!" Teriak kasir itu.
Namun, Brett tak mempedulikannya, dan langsung mendorong tubuh Arumi masuk ke dalam mobil sambil melempar kantong belanjaan ke jok belakang dengan kasar.
"Hei, itu makanan! Kamu harus menghargainya." Protes Arumi.
"Aku tidak mau gagal lagi. Dengar itu!" Dengus Brett.
Arumi tersenyum mengejek Brett.
"Karena kalian salah menangkap orang?" Ejek Arumi sambil tergelak.
Brett hanya bisa mendengus dengan kesal, dia tak terima dengan ejekan Arumi, namun, kenyataannya dia memang menangkap orang yang salah.
BERSAMBUNG......