
"Terima kasih telah datang ke acara malam ini. Saya senang dapat menjamu anda semua malam ini. Ini adalah bentuk terima kasih atas kerja sama kita selama ini. Silahkan menikmati semuanya." Pak Broto memulai membuka acara malam itu.
"Terima kasih pada temanku Haris. Untuk anggur kualitas terbaiknya." Lanjutnya sambil mengangkat gelas anggurnya mengarah pada Tuan Haris.
Tuan Haris membalas dengan mengangkat anggurnya dan meminumnya.
Arumi hanya menatapnya saja. Setelah itu semua bertepuk tangan.
Dentuman irama musik berbunyi, para gadis gadis berseliweran berjalan bak model mengelilingi pria pria yang datang tanpa pasangan ataupun terkadang menggoda yang membawa gandengan. Lalu muncul laki laki tampan dengan tubuh atletis menggoda wanita wanita dalam pesta itu.
"Gila...!!" Ucap Arumi refleks saat menyaksikan seorang wanita langsung menyambut pria muda bertubuh atletis yang datang dengan ciuman panasnya.
"Aku ingin kamu menjagaku dari gadis gadis cantik dan muda itu!" Perintah Tuan Haris sambil berbisik pada Arumi.
Arumi lalu melirik pada Will yang masih mengikuti.
"Kenapa ada Andin?" Tanya Arumi pada Will, saat Tuan Haris sedang berbincang dengan rekan bisnisnya.
"Dia salah satu gadis penghibur yang bekerja dengan Madam Fey."
"Siapa Madam Fey?" Tanya Arumi.
"Madam Fey, pemilik pusat kebugaran dan kecantikan dengan label Fey. Dia istri kedua Pak Broto. Dia juga pemilik beberapa tempat hiburan yang tersebar di beberapa kota dan negara." Terang Will.
Arumi melihat seorang gadis berlenggak lenggok di hadapan Tuan Haris dan menggodanya. Arumi hanya melihatnya, ingin mengetahui sejauh mana Tuan Haris dapat menahannya. Setelah ia menyaksikan sendiri aksi kuda kudaan yang dilakukan suaminya itu dengan Viona.
Gadis itu meraba raba tubuh Tuan Haris, dan menari sambil mendekatkan tubuhnya dengan tatapan menggoda. Tuan Haris melirik ke arah Arumi meminta bantuan, namun, ia pura pura tak melihat, dan menikmati minuman yang tersedia di sana. Arumi duduk di pojok bar sambil menatap kegilaan pesta malam itu.
Will yang duduk di sofa dekat Tuan Haris pun terkena godaan gadis gadis cantik, bukan satu atau dua, namun empat orang datang langsung menggodanya.
Will hanya diam saja saat godaan datang bertubi-tubi. Sedang Tuan Haris masih menikmati tarian menggoda dari seorang gadis.
Satu tangan menyentuh tubuh Tuan Haris, lalu mengelilinginya, dengan sentuhan akhir menyentuh bagian pribadi milik Tuan Haris.
Sekali lagi Tuan Haris melihat menatap tajam ke arah Arumi, isyarat meminta tolong.
Akhirnya Arumi mendekati gadis itu dan mendorong dengan lembut, lalu menarik tangan suaminya itu dan memeluknya.
"Maaf, ini suami saya." Ucapnya pada gadis itu, lalu ia meninggalkan mereka.
Arumi melihat beberapa pria yang mulai tergoda langsung ditarik oleh gadis masuk ke buah lorong remang remang, sepertinya berbentuk bilik atau kamar.
"Jika kamu tidak datang, aku akan ditarik gadis itu masuk ke sana!" Tuan Haris menunjuk dengan isyarat kepalanya.
"Ada apa di sana?"
"Kamu bisa menikmati sajian itu di sana secara privat. Mau satu atau dua atau bahkan bersama pasangannya juga bisa melakukan hal itu di sana. Tersedia banyak ruangan kamar di sana." Terang Tuan Haris.
Arumi mengangguk angguk sambil melayangkan pandangannya.
Ia melihat Andin berdiri di meja bar, yang penuh oleh tamu. Ia berjalan lenggak-lenggok bagai model catwalk di meja itu. Rumbai bulu bulu dimainkannya. Pria pria di bawahnya bersorak padanya, bahkan ada yang menyelipkan lembaran uang pada sepatunya, bahkan pada hotpant yang dikenakan.
Andin tetap tersenyum menggoda pada mereka, lalu ia berdiri membuka outer rumbai yang dikenakan, lalu melemparnya asal. Para pria itu bersorak, dan meja itu langsung ramai didatangi.
Para wanita hanya melirik pada show yang dilakukan oleh Andin. Ada lirikan biasa hingga tak suka. Andin memang terlihat paling menonjol diantara gadis gadis penghibur itu. Bahkan menurut cerita Will, Andin termasuk yang populer di antara gadis gadis Madam Fey.
Arumi mendekat untuk melihat aksi Andin. Ia bergerak meliuk di tiang yang ada di tengah meja bar itu. Ia tahu, Andin bukan penari, ia sepertinya hanya melihat cara menari dari video yang ditontonnya.
Arumi perlahan mendekati meja itu, dan naik ke atasnya menemani Andin. Sontak Andin terkejut dan melotot ke arah Arumi. Tak kalah terkejutnya dengan Andin Tuan Haris, Will, tamu undangan, bahkan sang tuan rumah pun ikut melongo menatap aksi Arumi.
Ia dengan balutan kostum sailor moon, merupakan tanda, bahwa ia merupakan tamu undangan wanita. Beberapa dari mereka mengenal Arumi, karena anaknya merupakan siswanya. Dan hampir semua tamu undangan mengenalnya sebagai istri Tuan Haris.
Arumi berjalan dengan anggunnya, lalu memegang tiang itu, dan mengangkat tubuhnya, memutar dan melakukan gerakan akrobat dengan menggunakan tiang itu. Saat Arumi yang melakukan terlihat seperti gerakan seni tari yang indah, bukan seperti penari striptis yang menggoda.
"Ikuti gerakanku!" Bisik Arumi sambil terus bergerak.
Andin yang cekatan langsung dapat belajar. Saat Andin, mulai menjadi tokohnya lagi, Arumi segera turun. Para tamu memberi tepuk tangan padanya.
"Sungguh, aku sangat terhormat, Anda menari di panggung itu." Sambut Madam Fey mendekati Arumi.
"Terima kasih. Aku hanya mengajarkan beberapa gerakan, supaya dia tidak cidera saat melakukan tarian di tiang itu." Sahut Arumi.
Tuan Haris mendekati mereka.
"Mengapa baru kamu bawa istrimu ke pestaku, Haris? Dulu Emma merupakan teman baikku, juga sering melakukan tarian itu di sana, tepat seperti itu. Bahkan dia dengan senang hati membawa siswanya untuk melakukan pertunjukan untuk pestaku."
"Itu Emma, bukan Arumi." Jawab Tuan Haris dengan tenang.
"Halo, Madam Fey. Kapan kapan saya bisa mengajarkan tarian juga untuk gadis gadis anda." Arumi menawarkan diri.
Madam Fey tertawa. "Aku akan menghubungimu. Lalu apakah benar kamu yang membuat koreografi tarian Nina?" Tanyanya.
"Ya." Jawab Arumi.
"Kamu memiliki reputasi yang baik. Kamu sangat mirip dengan Marta. Ia pasti sangat bangga padamu."
"Anda mengenal Mama?"
"Sangat baik."
Arumi tersenyum lebar saat mendengar pengakuan Madam Fey, yang mengenal dengan baik Mamanya.
"Sudahlah, aku ingin menikmati pesta dengan istriku." Tuan Haris merangkul pundak Arumi hendak membawanya menjauh dari Madam Fey.
"Selamat bersenang-senang!" Ucap Madam Fey, lalu ia berlalu menemui tamu yang lain.
Kini Andin terlihat hanya mengenakan celana pendek ketat dan kemben yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, pusar dan punggungnya. Lembaran demi lembaran telah terselip di dada, punggung dan di pinggangnya. Will menyelipkan beberapa lembar uang di pinggang Andin. Ia mengakhiri menarinya dengan membungkukkan tubuhnya, lalu turun meninggalkan meja itu.
Arumi menyaksikan sendiri, lalu mendekati asisten suaminya itu.
"Kamu menyukainya?" Tanya Arumi setengah menggoda.
"Aku hanya bersimpati padanya. Apalagi adiknya masih di rawat di rumah sakit." Jawab Will.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aku menemani Gisel mengunjungi di rumah sakit. Beberapa kali aku menemani Gisel juga ke rumah Andin."
Arumi menaikkan satu alisnya menyelidik.
"Hanya itu saja!" Tegas Will.
Hari makin malam, Tuan Haris mulai terlalu banyak minum, Will dan Arumi membantu memapahnya dan membawa ke dalam mobil, lalu kembali ke kediamannya.
"Aku pulang dulu. Selamat malam." Pamit Will.
"Terima kasih telah menemani, Will." Jawab Arumi.
Kini ia mengurus Tuan Haris dalam kamar. Ia membuka tuxedo, melepas sepatu dan kaos kakinya.
Melepas dasinya dan menaruh di atas tempat tidurnya.
"Temani aku, Rumi!" Panggil Tuan Haris sambil memegang pergelangan tangan Arumi.