
Siang saat jam makan siang, Arumi menuju studio tempat Nina dan kru menarinya sedang melakukan syuting. Kali ini Arumi membawa sendiri mobilnya. Bejo, sang supir sedang tidak enak badan.
Mereka telah melakukan syuting sejak pukul sembilan pagi. Ada tiga tempat lokasi syuting. Studio, di atap gedung, dan di area sekolah. Untuk di area sekolah, Nina memilih tempat di lapangan basket. Lokasi yang dipakai adalah sekolah tempat Dito dan Leon bersekolah.
Tadi pagi mereka telah melakukan syuting di sekolah. Nina telah mengganti dua kali kostum menari saat di sekolah.
Saat mereka sedang syuting, terjadi kehobohan di sekolah. Berhubung lapangan basket sekolah berupa lapangan indoor, jadi siswa yang menonton hanya dari sela pintu atau jendela saja, karena penjagaan di depan pintu sangat ketat.
Setelah selesai syuting, Nina menemui para penggemarnya dan melayani sesi foto dan tanda tangan. Nina memang terkenal ramah pada para penggemar. Tak pernah ada berita buruk tentang Nina. Pernah sekali ia marah pada wartawan, namun itu kesalahan wartawan yang memaksa wawancara sebelum acara dimulai.
Setelah itu Nina membatasi interview secara khusus dengan wartawan, kecuali diundang ke acara televisi. Nina hanya mau menerima interview secara langsung di luar studio setelah melalui managernya.
Terlihat banyak siswa yang antre foto di sekolah. Bela yang sangat mengidolakan Nina sangat senang, bahkan tangannya gemetar saat bersalaman dan makin terlihat saat mengarahkan ponselnya untuk berselfie bersama Nina, sehingga Nina membantunya mengambil gambarnya.
Bela sangat berterima kasih pada Nina. Andin dan Gisel hanya bisa terkikik melihat tingkah temannya itu. Leon, Dito, dan Bin hanya menatap kerumunan teman teman mereka dari kejauhan.
Untuk lokasi kedua setelah makan siang mereka melakukan di studio. Arumi melihat hasil syuting saat di sekolah tadi. Ia memperhatikan setiap detail gerakan dan kesesuaian dengan kostum mereka.
"Wow... Sepertinya sudah tidak memerlukan diriku lagi untuk selanjutnya. Kamu sudah terlihat seperti penari profesional. Tak sia sia kerja kerasmu selama ini giat berlatih menari selama satu tahun belakangan. Mungkin bisa bersaing dengan adikmu sendiri." Puji Arumi.
"Kamu selalu saja bisa membesarkan hati orang. Itulah yang membuatku merasa nyaman berlatih denganmu."
Selesai memantau syuting Nina, Arumi segera berlalu dari tempat itu.
Ponselnya berbunyi, panggilan dari Thomas.
"Halo sepupu..." Sapa Arumi dengan suara renyah.
"Hai, Rumi. Minggu depan aku akan wisuda, dan kemungkinan setelah itu aku akan kembali ke Indonesia."
"Oya? Selamat ya. Baiklah akan aku urus tiket untuk pulangmu besok. Jangan lupa oleh oleh buatku dari sana."
"Apa kabar Gisel? Apakah dia merepotkanmu?"
"Tidak. Dia sangat baik. Dia juga mulai dapat mengikuti sekolahnya dengan baik. Tenang saja, tidak perlu khawatir akan Gisel."
"Terima kasih sepupuku."
"Sama sama."
Arumi menutup panggilannya, dan fokus mengendarai mobilnya kembali.
Arumi berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Ia menunggu sambil memperhatikan jalanan. Tepat saya itu sebuah mobil yang ia kenal melintas di depan, ia memperhatikan sungguh sungguh arah laju mobil tersebut. Saat lampu berubah warna jadi hijau, segera ia membelok ke arah laju mobil tadi.
Meskipun beberapa mobil mengklakson, ia tak peduli, ia ingin tahu kemana perginya mobil itu.
Arumi menyusuri jalanan mencoba mengikuti arah mobil sedan mewah berwarna hitam tadi. Ya, itu adalah mobil pribadi Tuan Haris. Ia beberapa kali menggunakan mobil itu tanpa sopir. Entah ia pergi kemana.
Arumi mengingatkan itu jalan menuju luar kota ke arah perkebunan anggur milik Tuan Haris. Arumi melajukan mobil ke arah perkebunan di pinggiran kota.
Ini pertama kali ia menyetir jauh hampir ke luar kota. Jalanan ke arah sana sangat lenggang. Kanan kirinya ada perkebunan sayur dan buah juga. Paling akhir dan paling luas adalah milik Tuan Haris.
Arumi melayangkan tatapannya ke sekeliling, namun, ia tak melihat mobil Tuan Haris.
Karena jam makan siang telah selesai saat itu. Rumah singgah pada pekerja tampak sepi, karena mereka bekerja semua. Rumah produksi tampak ramai pekerja, namun ia tak melihat Tuan Haris di sana.
Arumi teringat rumah pribadi yang terletak agak jauh dari rumah produksi dan pekerja kebun. Ia kembali menuju mobilnya, dan menuju dalam perkebunan. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan sangat pelan, hingga terlihat rumah pribadi yang tak terlalu besar itu.
Di depan rumah terparkir mobil sedan mewah berwarna hitam milik Tuan Haris. Arumi menghentikan mobilnya agak jauh dari rumah itu supaya tidak ketahuan Tuan Haris.
Arumi perlahan mengendap endap berjalan menuju rumah itu. Suasana tampak sepi, ia menuju pintu depan rumah. Saat hendak mengetuk, terdengar suara dari dalam.
"Harrriiisss.... Oh... Enak sekali.... Oh....!" Terdengar suara perempuan berteriak merasakan nikmat.
Terdengar erangan Tuan Haris setelahnya, lalu keduanya saling berteriak bersama sama.
Arumi mengintip ke dalam rumah dari jendela yang terbuka. Terlihat dengan jelas dengan mata kepalanya sendiri Tuan Haris dan seorang perempuan sedang berbagi peluh dan saliva. Tubuh mereka saling berhimpitan dan bergumul. Saat itu ia melihat Tuan Haris dan perempuan itu melakukan di sofa, lalu kini suaminya telah membopong perempuan itu masuk ke dalam kamar.
Arumi membulatkan bola matanya dan menutup mulutnya dengan tangan saat melihat jelas perempuan itu. Itu adalah Viona. Mama dari Nina dan Dito, sekaligus penari itu.
"Ya Ampun. Tuan Haris..." Arumi mengatur napasnya menenangkan dirinya saat menyaksikan semuanya. Suaminya bersama perempuan lain, yang tak lain orang tua dari teman anaknya. Dan yang ia tahu Viona adalah sahabat dari mendiang istri Tuan Haris.
"Mengapa dia menikahiku, bukan dengan perempuan itu? Apakah ini baru terjadi setelah istri meninggal atau sudah lama? Siapa sebenarnya Viona?" Pertanyaan pertanyaan muncul di kepala Arumi.
Masih terdengar suara suara erangan dan teriakan kenikmatan dari dalam rumah itu. Arumi segera berlalu meninggalkan rumah itu menuju mobilnya.
Ia langsung menuju kampusnya karena hampir terlambat.
****
Arumi menyeka peluh yang membasahi tubuhnya dengan handuk. Lalu ia mengganti pakaiannya, dan segera keluar dari ruangan ganti menuju parkiran mobil.
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Arumi segera melajukan mobil kembali ke rumah.
Mobil Tuan Haris masih belum ada di garasi. Suaminya belum kembali dari bersama perempuan itu.
Arumi menuju lantai atas ke kamarnya. Ketika hendak menutup pintu, seseorang menahan dari luar.
Leon segera memeluk Arumi dari belakang sambil menutup pintu kamar kembali.
"Aku merindukanmu!" Bisiknya di telinga Arumi.
Arumi membalikkan tubuhnya dan menatap Leon.
"Aku juga. Dan kamu juga akan pergi dalam waktu yang lama sebentar lagi."
"Aku mencintaimu Rumi." Ucap Leon bersungguh sungguh.
Arumi hanya balas menatapnya. Lalu mereka menautkan bibir mereka menyatukan perasaan masing-masing.