Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Sedikit Waktu


Leon melambaikan tangannya membalas Arumi saat keduanya memasuki masing masing apartemen mereka. Leon masuk ke lobi apartemen sambil terus menatap Arumi yang telah masuk ke lift.


Arumi memencet angka lima, dan menunggu beberapa saat.


Ting!


Ia telah tiba di lantai 5, pintu lift terbuka, dan ia segera melangkah keluar dari lift menuju unitnya.


Arumi mengetuk pintu kamar, dan Lia membukakan pintu.


Tercium aroma piza, Arumi melepas jaket, kupluk, dan syal yang melilit lehernya. Ia mencuci tangan,aku menuju meja.


"Wow... Bagaimana kalian memesan piza sebanyak ini?" Arumi terkejut, melihat tiga box piza dengan ukuran besar terletak di atas meja makan.


"Jeff tadi mampir, ia memberi kita makanan, supaya besok tidak perlu buru-buru mencari sarapan jika lapar." Sahut Olivia.


"Dia baik sekali. Meski pun terlihat cuek, tapi aku yakin, Jeff pasti pria yang baik dan perhatian." Sambung Olivia kembali.


Mereka berlima menikmati piza yang dibawakan oleh Jeff sambil bersenda gurau.


Di apartemen seberang, Jeff melangkah memasuki apartemen tempat tinggalnya. Ia merapatkan jaketnya, lalu menuju ke lift. Ia menuju ke lantai unit tempat tinggalnya. Lift naik menuju ke lantai lima.


Ting..!


Lift terbuka dan ia segera melangkah ke luar menuju unitnya.


Jeff membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali. Ia menggantung jaket tebal di rak di dekat pintu masuk. Ia melihat Leon baru selesai mandi, keluar dari toilet menuju ke kamarnya. Dito masih sibuk di dapur memasak sesuatu untuk dimakan.


Jeff meletakkan dua kotak piza di meja makan.


"Hai Jeff! Wah... Terima kasih piza nya." Dito segera membuka kotak piza itu dan mengambil sepotong.


Sambil membuat sesuatu di depan kompor, ia menikmati piza yang dibawa oleh Jeff.


"Kamu mengenal Arumi?" Tanya Jeff.


"Tentu saja, dia adalah sahabat kakakku."


"Nina?"


"Ya. Dia adalah koreografer tarian untuk tarian Nina yang mendunia saat ini." Ucap Dito, sambil meletakkan mi dalam mangkuk nya.


"Kamu mau?" Ia menawarkan pada Jeff.


"Silahkan. Aku hanya sedikit penasaran dengan Arumi." Gumam Jeff.


Leon menepuk bahu Jeff. Ia tersenyum simpul, lalu duduk menikmati mi instan buatannya.


Ia sengaja tak memberitahu Jeff tentang Arumi, karena Arumi yang memintanya, supaya dia dapat menikmati hidup seperti mahasiswa seperti yang lain.


Pada rekannya pun Arumi meminta bersikap biasa saja padanya. Dan tidak perlu berlebihan meskipun dia adalah istri Tuan Haris.


Arumi keluar dari kamar dengan mengenakan piyamanya, ia selesai membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya.


Arumi duduk sambil menikmati potongan piza yang dibawakan oleh Jeff.


Di apartemen seberang ia melihat Leon menatapnya dari jendela kamarnya, lalu ia melihat Jeff juga terlihat memperhatikan ke arah mereka.


***


Monica menutup pintu kamar, ia melepas jaketnya, lalu menuju dapur. Mamanya tersenyum menyambut kedatangan putrinya.


"Ayo sini, mama buatkan mac and cheese untukmu."


Monica menarik kursi lalu duduk sambil mencium aroma makanan dari piring yang telah disediakan oleh mamanya.


"Hhmm... Enak!" Pujinya sambil terus menyendok mac and cheese ke dalam mulutnya.


"Bagaimana harimu?" Tanya Mama.


"Baik. Biasa saja, Ma. Dan aku mendapat beberapa ilmu tentang tehnik menari yang baik dan benar. Serta pertolongan pertama saat cidera, seperti yang Leon lakukan padaku kemarin." Cerita Monica.


"Leon anak baik. Kamu menyukainya?" Tanya Mama seraya menggoda Monica.


Monica terkekeh mendengar pertanyaan mamanya barusan.


"Dia memang tampan, tapi sepertinya dia telah memiliki kekasih. Dia seorang penari, sepertinya..." Monica menggantung ucapannya barusan. Tiba tiba ingatannya tertuju pada sosok penari yang videonya ditunjukkan untuk latihan tugasnya bersama Leon tempo hari.


Sosok penari bertopeng, yang sukses membuat kakinya cidera karena gerakan sulit yang dibuatnya. Monica menebak, perempuan itu adalah sosok penari bertopeng itu.


"Bagaimana pekerjaan mama hari ini?" Tanya Monica mengalihkan pembicaraan.


"Mama seperti biasa. Tapi aku bertemu dengan orang baik yang memberi tips sangat banyak. Namanya Jeff. Dia manager baru perusahaan IT yang juga bekerja di klub malam yang terkenal itu."


"Apa yang mama lakukan?"


"Aku membantunya menata ulang ruang kerjanya. Lalu ia meminta Mama membuatkan kopi untuknya sore tadi. Ya sudah, mama melakukan perintahnya dengan baik, lalu dia terlihat puas dengan penataan ruang kerja yang mama lakukan. Lalu, dia memberi tips yang besar." Tutur Mama.


***


"Itu semua bohong, kan?" Teriak Nina sambil menggelengkan kepalanya.


"Maafkan, Mama, Nin. Mama hanya ingin berusaha memperbaiki hubungan kita selama ini. Mama sangat menyayangi kalian berdua. Saya ini, kalian berdua yang menjadi prioritas mama." Ucap Viona sambil menatap ke arah Nina.


"Kemana saja kalian selama ini? Kenapa saat aku dan Dito benar benar membutuhkan kasih sayang, kalian berdua sibuk sendiri, seolah kami berdua adalah beban. Lalu menyerahkan dengan mudah semua tanggung jawab yang seharusnya kalian pikul pada Oma dan Opa? Apa Mama tahu, saat aku dibuli dan diolok teman karena tak bisa menari seperti Mama. Lalu mereka dengan sengaja menjegal kakiku hingga cidera ringan. Saat itu Mama memaksaku ikut kelas menari yang aku tak suka. Aku lebih suka menyanyi. Lalu masa masa sulitku ikut audisi dan ikut kompetisi, dengan membawa embel-embel nama kalian. Berat rasanya, Ma. Rasanya semua kerja kerasku tak pernah dianggap orang lain, karena nama kalian. Aku benci kalian!" Nina berteriak, lalu berlalu meninggalkan Viona yang masih terpaku di tempatnya sambil menatap punggung Nina, yang saat ini telah masuk dalam kamarnya.


Viona masih terdiam. Lalu ia menoleh ke arah Sasa.


"Nyonya, maaf, aku benar benar benar tidak tahu, mengapa Nina menjadi seperti itu?" Ucap Sasa tak enak.


"Iya.sudahlah, temani saja Nina. Dia membutuhkanmu." Pinta Viona.


Namun, Sasa segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Sasa menghubungi Thomas, menceritakan kejadian yang menimpa Nina dan mamanya, yang berujung kegiatan acara hari ini menjadi kacau. Sasa meminta bantuan Thomas untuk membujuk Nina, supaya tetap profesional dalam bekerja


Opa saat ini duduk berhadapan dengan Viona, ia hanya dapat menatap tajam ke arah Viona.


Tak lama Thomas datang mengetuk pintu kamarnya. Ia perlahan memutar gagang pintu dan membuka pintu kamar Nina.


"Apa aku salah membenci mamaku? Seenaknya dia meninggalkan aku dan adikku, lalu sekarang dengan mudah mengatakan maaf dan ingin memperbaiki kesalahannya. Tidak semudah itu!" Ucap Nina.


Thomas hanya mendengar semua keluh kesah gadis cantik itu.


Thomas merasa bahwa Nina hanya perlu sedikit waktu untuk bisa memahami Mamanya .