
Thomas menatap kosong jalanan melalui jendela taksi. Sepanjang malam ia kalut, setelah mendengar kabar dari Arumi. Mamanya telah tiada, adiknya menjadi korban kekerasan, lalu Papanya entah ada di mana.
Dua tahun yang lalu ia kembali saat orang tua Arumi meninggal, semuanya terlihat baik baik saja. Mamanya mengantar ke bandara, memberi wejangan untuk rajin belajar, ga boleh pacaran dulu, tetap fokus, jangan telat makan, rajin minum vitamin, dan memeluknya dengan erat. Itulah kenangan terindah yang selalu ia kenang.
Thomas, memejamkan matanya. Mencoba meyakinkan itu semua bukan mimpi. Namun, saat membuka matanya semua masih tetap sama.
Tak lama taksi berhenti, setelah membayar, ia berjalan memasuki bandara, udara dingin menyeruak menembus hingga tulangnya. Daun daun mulai memerah dan berguguran.
Sambil membawa organizer kecil, berisi dokumen dan tiket miliknya. Setelah itu, Thomas mulai mengantre imigrasi.
Setelah satu setengah jam mengantre, akhirnya ia dapat memasuki ruang tunggu keberangkatan. Thomas duduk di bangku yang tersedia, sambil memeriksa ponselnya.
Arumi sengaja tak menceritakan bahwa Gisel dirudapaksa selain disiksa, supaya Thomas tidak terlalu khawatir. Ia hanya mengatakan bahkan Mamanya meninggal, Gisel menjadi korban siksa, dan Papanya menghilang.
Sekitar satu jam menunggu, akhirnya Thomas dapat duduk dalam pesawat yang akan membawanya menuju tanah air. Ia merasa lega, dan berdoa semua akan lancar. Ia mengabari Arumi, jika sudah berada dalam pesawat dan akan segera berangkat. Setelah itu ia mematikan ponselnya selama penerbangan.
****
Setelah selama lebih dari dua puluh empat jam perjalanan, pesawat akhirnya mendarat dengan selamat tiba di tanah air. Thomas menunggu antre bagasinya, setelah mendapatkan, ia segera bergegas untuk keluar dari bandara.
Tiba tiba.
BRUKK.....
Seseorang berlari ke arah Thomas dan menabraknya, lalu isi tasnya berhamburan.
"Aduh...!" Pekiknya sambil meringis, dan memunguti isi tas yang berserakan.
Thomas membantunya mengumpulkan barang barang kecil dari dalam tasnya yang berhamburan itu. Lalu ia menyerahkan pada gadis cantik yang telah menabraknya.
Mereka sama sama berdiri, lalu Thomas tersenyum padanya.
"Eh, terima kasih. Maaf telah menabrak. Aku sungguh tidak sengaja." Ucapnya tak enak.
"Ya tidak apa apa." Jawab Thomas.
"Terima kasih sekali lagi, aku permisi dulu." Ucapnya buru buru, sambil menyeret kopernya.
Thomas menghela napas dalam-dalam, lalu mengambil kopernya. Ketika ia mengangkat kopernya, ternyata ada sebuah ponsel terselip di bawahnya.
"Astaga.. Hei... Ponselmu!" Teriak Thomas sambil bergegas berusaha mengejar gadis yang menabraknya barusan.
Namun, terlambat. Gadis itu telah masuk ke sebuah mobil dan pergi. Thomas terengah-engah, dan mengatur napasnya kembali. Lalu menatap sejenak ponsel berwarna gold yang ada di tangannya. Ia menghela napas, lalu menyimpan dalam ranselnya.
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Thomas terdiam, lalu ia mundur untuk menyingkir. Pintu mobil terbuka.
"Thomas!!" Seru Arumi saat keluar dari mobil.
Thomas tercengang. Ia membalas pelukan sepupunya itu dan masih terkejut dengan yang dilihatnya.
"Kau Arumi? Sungguh!"
"Iya, aku Arumi. Sepupumu."
"Astaga Rumi... Aku benar benar terkejut, bagaimana bisa...?" Tanyanya.
"Sudah, ayo masuk. Ceritanya panjang. Kita pulang dulu." Ajak Arumi.
Thomas dan Arumi masuk ke mobil, dan Bejo pun membawa mereka pulang ke kediaman Tuan Haris.
Thomas yang masih belum hilang kagetnya, masih menatap Arumi dengan tak percaya.
"Kenapa denganmu Thomas?" Tanya Arumi yang merasa risih dengan tatapan Thomas.
"Bagaimana bisa?" Tanya Thomas penasaran.
"Aku menikah dengan Tuan Haris." Jawab Arumi sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
Thomas melotot tak percaya.
"Sungguh? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"
Arumi menepuk belum punggung tangan sepupunya itu.
"Om Dipo menyerahkanku pada Tuan Haris bersama perusahaannya yang kolaps untuk membayar hutang hutangnya." Arumi menceritakan pada Thomas.
"Astaga, Rumi. Aku benar benar tak percaya dengan semua ini." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita pulang dulu, supaya kamu bisa membersihkan tubuhmu. Setelah itu kita ke rumah sakit. Tante Anne disemayamkan di sana. Besok jadwal pemakamannya."
Thomas menganguk pasrah. "Baik. Aku menurutimu saja. Terima kasih untuk semuanya." Ucapnya.
"Sama sama." Jawab Arumi.
Mereka tiba di kediaman Tuan Haris.
"Thomas, aku sangat bersukacita atas kehilanganmu." Sapa Tuan Haris saat melihat Thomas dan Arumi tiba.
"Terima kasih Tuan Haris." Jawab Thomas dengan sopan.
"Aku sudah mengatur untuk pemakaman besok. Arumi yang mengurus semuanya." Ucap Tuan Haris.
Thomas menganguk.
"Biarkan dia membersihkan dirinya dulu." Ujar Arumi pada Tuan Haris.
"Ya. Aku serahkan semuanya padamu." Ucap Tuan Haris pada Arumi.
"Baiklah. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan padaku."
Tuan Haris menganguk mendengar ucapan Arumi.
Ia menatap punggung Arumi yang sedang mengantar sepupunya ke kamar di samping rumah, yang biasa dipakai untuk tamu tamu yang datang untuk menginap. Tuan Haris merasa Arumi telah mampu menjalankan beberapa urusan rumah.
Ia juga telah mendengar laporan tentang pekerjaan Arumi di sekolah menarinya. Kelasnya selalu ramai dan peminat bertambah. Banyak acara yang telah diikuti oleh siswa kelas tari di sana, mulai dari kejuaraan, maupun acara acara hiburan lain. Ada permintaan juga dari beberapa penyanyi untuk menggunakan koreografi dari siswa kelas menari di sana. Sejak Arumi bekerja di sana, banyak yang terjadi.
Ciara, manager sekolah menari selalu memberi laporan pada Tuan Haris mengenai perkembangan di sana. Termasuk beberapa perubahan yang dilakukan oleh Arumi. Tuan Haris berencana memberikan tanggung jawab sekolah itu pada Arumi, maka, ia sengaja memberikan beberapa tugas tugas kecil untuk uji cobanya. Karena ia melihat Leon belum siap untuk hal itu.
***
"Thomas, jika telah selesai, nanti ke ruang makan, kita makan dulu, baru menuju rumah sakit." Ucap Arumi.
"Baiklah." Jawab Thomas, lalu ia menutup pintu kamar itu.
Thomas segera menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Ia masih tak percaya dengan semua yang telah dialaminya.
Ia memang beberapa kali melihat Papanya melakukan bisnis dengan orang yang tak pernah ia kenal atau lihat. Ia pun pernah tak sengaja mendengar Papanya berbicara di telpon mengenai senjata dan narkoba. Thomas tak ingin berpikir bahwa Papanya melakukan bisnis kotor itu. Ia menyangkalnya. Ia tak ingin berpikir bahwa Papanya terlibat dalam hal buruk itu.
Tapi sepertinya, ini semua akibat dari bisnis kotor Papanya. Meskipun Arumi belum bercerita, Thomas mulai bisa menebak penyebab semuanya.
Thomas mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Lalu ia berganti pakaian. Terdengar suara dering ponsel dan getaran dari dalam tas ranselnya.
Ia teringat akan gadis di bandara tadi, yang menjatuhkan ponselnya. Lalu ia mengambil ponsel itu dan menekan tombol jawab pada ponsel itu.
"Oh.. Ha- halo.. siapa di sana? Hai, tolong kembalikan ponsel itu padaku!" Suara gadis saat di bandara tadi terdengar, namun kali ini terdengar galak.
"Ya. Maaf ini siapa?" Tanya Thomas pura pura bingung.
"Heh, dengar! Ponsel yang ditanganmu itu milikku! Jadi tolong segera kembalikan!" Bentaknya.
"Bagaimana aku tau ini benar milikmu atau bukan?"
"Heh, itu benar benar milikku! Ponsel edisi terbatas, berwarna gold dengan nomor ponsel 012345678888, dan aku tak tau menjatuhkannya di mana karena sedang buru buru!" Ucapnya galak.
Thomas hanya senyum senyum geli mendengar gadis itu mengomel, terdengar lucu. Ia membayangkan ekspresi wajah gadis cantik itu saat sedang manyun.
"Heh, benarkan itu ponselku? Jadi tolong segera kembalikan padaku, jika tidak aku akan melaporkan pada polisi!" Ucapnya mengancam.
Thomas menghela napas panjang sebelum berbicara.
"Nona, aku akan mengembalikan padamu, namun tidak bisa segera. Saat ini aku sedang mempersiapkan pemakaman Mamaku." Thomas menjawab dengan nada serius.
"Ohh... Jadi kamu di mana? Nanti biar aku saja yang mengambil ke tempatmu." Ucap gadis itu melunak setelah Thomas mengatakan sedang berduka.
"Baiklah, pemakamannya besok, kamu bisa menemuiku di rumah sakit kota." Jawab Thomas.
"Maaf, jika boleh tau, siapa nama Mamamu?"
"Anne." Jawab Thomas.
Keduanya terdiam sesaat.
"Nyonya Anne, tantenya Arumi? Astaga! Lalu siapa kamu?" Tanya gadis di seberang sana terkejut.
"Aku putranya Anne, sepupu Arumi." Thomas menegaskan.
"Ya Tuhan! Aku turut berduka cita atas kehilanganmu. Besok saja aku ambil ponselku. Tolong jaga baik baik, karena untukku bekerja. Maaf atas salah paham ini."
" Terima kasih."
" Baiklah, sampai bertemu besok."
"Ya."
Gadis itu mematikan panggilan ponselnya setelah Thomas menjawabnya.
Thomas tersenyum setelah itu. Terlihat gambar gadis cantik itu menjadi background memenuhi layar. Ia menatap ponsel gold yang masih berada di tangannya. Lalu menyimpannya kembali dalam tas ransel miliknya.