
"Terima kasih, sudah membantuku." Nina mengikat rambut panjangnya yang sebahu, menjadi ekor kuda. Ia lalu duduk di sebelah Thomas yang masih asik memakan produk yang selesai diiklankan oleh Nina.
"Jadi, ini semua kegiatanmu sehari-hari?"
Nina menjawab dengan anggukan.
"Jika tidak ada jadwal show, beginilah. Di rumah, aku memiliki sebuah ruangan khusus untuk syuting. Tiap sudut memiliki setting berbeda, supaya tempatnya ga gitu gitu saja." Nina menghela napas sejenak sambil menerawang.
"Oma bilang, aku di sini dulu sementara waktu, hingga masalah Mama dan Papa selesai. Dito juga mengatakan itu. Banyak wartawan yang menunggu di depan rumah saat ini, bahkan ketenangan Oma dan Opa terganggu. Aku khawatir sakit Opa akan kambuh lagi." Sambung Nina.
"Lalu sekarang bagaimana keadaan Opa?"
"Tuan Haris selalu bisa menenangkan Oma dan Opa. Seolah dia pengganti orang tuaku. Sejak kecil dia dan istrinya selalu mengajak Aku dan adikku bermain di rumah besarnya ini. Ruangan yang aku tempati saat ini, dulu adalah ruangan tempatku sering tidur dan bermain saat di sini. Mamaku benar benar beruntung memiliki sahabat sebaik Tante Emma." Nina tersenyum mengenang kisah masa kecilnya saat bersama Emma.
"Dulu, aku sering berkhayal, seandainya orang tuaku adalah Tuan Haris dan Emma, pasti hidupku lebih bahagia, setidaknya mendapatkan kasih sayang papa dan mama. Hhmmm... Hingga saat ini pun aku masih berharap." Nina menoleh ke arah Thomas yang sedari tadi menyimak celotehan gadis cantik itu.
Thomas tersenyum. "Kamu harus bersyukur dengan apa yang telah kamu peroleh saat ini. Baik hal yang baik maupun hal buruk sekali pun. Kamu memiliki anugrah suara yang bagus, hingga membuatmu populer dan terkenal, bahkan hanya dengan ucapanmu, orang akan percaya dan membeli produk yang kamu rekomendasikan.
Kamu memiliki Oma dan Opa yang sangat luar biasa baik, mengasuh dan membesarkan kamu dan adikmu, bahkan selalu mendukungmu. Lalu kerabat dan lingkungan juga sangat mendukung dirimu dan karirmu." Thomas menepuk bahu Nina.
"Untuk masalah orang tuamu, biarlah mereka yang mencoba menyelesaikan. Kamu cukup mendukung semua keputusan yang akan mereka buat. Jika memang perpisahan adalah yang terbaik, ya dukunglah mereka. Mungkin setelah mereka berpisah, bisa membuat Papa atau Mama bisa lebih dekat dengan kalian." Thomas menasihati Nina.
Nina tersenyum menatap Thomas. Sejak pertama berjumpa pemuda itu, ia selalu merasa nyaman, entah mengapa. Saat pertemuan kedua, saat melayat di pemakaman Mamanya Thomas, Nina selalu teringat dengan Thomas. Ia selalu berharap bisa bertemu kembali dengan pemuda itu. Hingga kemarin sewaktu dalam pesawat. Ia sebenarnya sudah melihat Thomas di bangku kelas ekonomi, dan sengaja menabraknya saat keluar. Nina selalu merindukan saat berdekatan dengan Thomas. Seperti saat ini.
Semesta seolah menjawab setiap doanya. Nina yang tak percaya akan lelaki, tak percaya akan cinta, namun saat berjumpa dengan Thomas, pandangannya berubah. Ia yakin Thomas adalah pria yang diciptakan untuk dirinya. Nina belum pernah jatuh cinta sebelumnya, Thomas adalah cinta pertamanya.
Mereka saling mengobrol dengan akrab setelah syuting. Si asisten yang memperhatikan Nina hanya senyum senyum sendiri melihat sang artis yang terlihat seperti orang yang sedang dimabuk cinta.
"Sepertinya artismu dekat dengan kakakku?" Tanya Gisel saat bertemu asisten Nina di dapur.
"Iya. Sepertinya. Baru kali ini aku melihat Nina terlihat berseri seri saat mengobrol dengan seorang pemuda. Biasanya dia akan terlihat cuek dan biasa saja." Ocehnya.
"Oya?" Gisel mengerutkan keningnya.
"Nina itu gadis yang dingin dengan lawan jenisnya. Dia agak pemilih juga saat berteman. Baru sejak berkenalan dengan Arumi, kamu, dan keluarga Tuan Haris, dia ramah dan baik seperti ini. Denganku dulu juga juteknya ampun ampun." Tutur si asisten sambil mengingat saat awal awal jadi asisten Nina.
Dia cerita awalnya hanya disuruh-suruh buat bawa bawa tas atau beli kopi, atau makanan. Gisel terbahak mendengar curhatan si asisten itu.
"Ya sudah, duduk saja sama aku di sini. Kita ngobrol saja, selagi dia tidak butuh kamu." Saran Gisel sambil menumpangkan teko ke kompor.
"Kopi pakai krimer." Jawabnya.
"Bolehkan tahu namamu?" Tanya Gisel, sambil menyiapkan dua buah mug untuk kopi mereka.
"Namaku Sasa, kalo nama dari orang tua Salmah. Cuma semenjak berkarir di bidang asisten artis, namaku jadi Sasa." Sahut Sasa.
Gisel tertawa sambil meletakkan mug di depannya dan miliknya diletakkan di pegangnya sambil duduk di hadapan Sasa.
"Sudah lama ikut Nina?"
"Aku dulu ikut Mamanya, lalu setelah Nyonya terlalu sibuk dengan jadwal mengajar, dia menawarkan aku pada putrinya."
"Hebat dong! Sudah pernah ke luar negeri." Puji Gisel.
Sasa hanya terkekeh. "Yang ada bingung. Aku ga bisa bahasa Inggris. Yes no saja bisanya. Mana aku ga kuat dingin, pas musim dingin selalu jadi momok buatku. Aku ikut Nyonya selama dua tahun, selama dia tur menari keliling Eropa dan Amerika. Lalu balik ke Indonesia, mengabdi pada Nina, sekitar enam tahun yang lalu. Satu tahun pertama, aku hanya jadi babu." Sasa mengehela napas sambil tersenyum kecut.
"Lalu setelah itu, dia mulai menganggap aku ada dan berpotensi membantunya. Hingga managernya saja, jika ada apa apa selalu menghubungi aku." Sasa menceritakan karirnya sebagai asisten Nina panjang lebar.
"Kamu menikah?"
Sasa menggeleng. "Tapi, aku memiliki seorang putri yang sangat cantik." Matanya menerawang seolah mengingat sesuatu. Gisel mendelik lalu mengerutkan keningnya.
"Aku dihamili oleh kekasihku. Lalu ia meninggalkan aku begitu saja. Aku dikucilkan dan diusir dari kampung." Saat bercerita, mata Sasa berkaca-kaca. Gisel mengambil tisu dan memberikan padanya.
Sasa menyeka matanya, lalu menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kisahnya.
"Ayahku menghubungi Kakakku yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit kota, menceritakan semuanya. Lalu aku yang belum lulus sekolah saat itu, harus pergi dari sana sendiri dalam keadaan hamil. Ayah dan Ibu sedih melepas kepergianku saat itu. Tapi, itu mungkin jalan satu-satunya menyelamatkanku, sebelum aku dihukum pasung karena adat di sana. Di saat gadis yang hamil di luar nikah, akan dihukum pasung sampai ada yang mau menikahinya. Saat itu kekasihku tak mau bertanggung jawab. Kamu tahu, yang menghamiliku adalah anak kepala desa di sana." Sasa tersenyum sinis.
"Brengsek!!" Makinya kemudian.
"Aku tiba di kota, disambut kakakku. Lalu aku tinggal bersamanya hingga aku melahirkan seorang putri. Beruntung, Suami Kakakku baik sekali. Ia mengijinkan aku tinggal di rumah mereka selama itu. Lalu saat aku bingung akan kehidupanku dan anakku, Kakak ipar ku menyarankan untuk mengambil keponakannya sebagai anak mereka. Terlebih mereka juga belum memiliki anak selama itu. Aku sedih, sekaligus senang. Tapi aku yakin, kakakku akan mengurus anakku dengan baik." Sasa menyesap kopinya.
"Lalu aku bertemu dengan Nyonya Viona, di kedai kopi tempat aku bekerja. Dia mencari asisten untuk membantu selama ia tur dunia. Aku mendaftar, lalu ia mengajakku mengobrol langsung di kafe itu. Lalu malamnya ia menghubungiku, mengabari besok datang ke rumahnya. Lalu dia yang membantu mengurus segala surat dan dokumentasi, lalu tidak ada seminggu, aku telah ikut dengannya."
Gisel menatap Sasa, ia tak menyangka sistem Nina memiliki kehidupan yang keras juga.
"Tapi, kamu adalah gadis yang tangguh. Setelah kejadian buruk itu. Aku yakin kamu pasti sangat terpuruk. Tapi, kamu benar-benar bisa bangkit kembali dan bisa ceria seperti saat ini." Imbuh Sasa melayangkan senyum manisnya pada Gisel.