
Arumi terus berteriak, mengetuk hitungan dan berkeliling memeriksa gerakan anak anak didiknya. Kompetisi tinggal menghitung hari lagi.
Ini adalah sesi terakhirnya, setelah ini akan ada rombongan Leon dan teman temannya.
Selesai sesinya, anak anak itu pergi satu persatu berpamitan meninggalkan Arumi yang masih berada di kelas itu.
Ia meneguk minuman dari botolnya. Lalu menatap wajahnya sendiri dalam cermin. Keringat membasahi tubuhnya, ia mengelap dengan handuk putihnya.
Wajahnya terlihat letih, namun ia berusaha untuk semangat selalu, terutama saat mengajar siswanya
Leon dan teman temannya masuk dalam ruangan, saat itu Arumi sedang berlatih suatu gerakan.
Leon dan teman temannya berlatih dengan keras. Setiap ada yang kurang benar atau tidak sesuai dengan standar gerakan menari Arumi, maka sebuah pukulan akan diberikan oleh Arumi.
Gerakan demi gerakan mereka lakukan sesuatu pesan Arumi.
Leon dan teman temannya berlatih dengan keras menyiapkan beberapa battle untuk mengisi kekosongan waktu.
Sekitar dua jam mereka berlatih. Arumi sangat kagum dengan semangat Leon dan teman temannya berlatih. Mereka tak pernah mengeluh, meski terkadang Arumi bentak ataupun tegur.
Arumi memberikan tepuk tangan pada mereka semua. Sebagai penutup latihan. Mereka menari bersama dengan Arumi. Arumi meliukkan tubuhnya seirama dengan lagu, bersama Leon dan teman temannya, lalu mereka melakukan tos usai menari. Peluh membasahi semua yang ada di ruangan itu. Namun wajah mereka terlihat senang.
Suara riuh mereka membahas sesi latihan tadi. Beberapa kali Arumi memberi saran, dan sesekali memuji mereka tentang latihan malam itu. Terutama Dito, telah banyak kemajuan dalam kemampuan menarinya, improvisasi gerakan menari dan tidak monoton. Untuk yang lainnya, Arumi berpesan untuk tetap mempertahankan stamina dan kualitas gerakan mereka yang sudah baik.
"Jika ada yang kurang paham, kalian bisa tanyakan pada saya?" Ucap Arumi sambil memandangi satu per satu anak anak itu.
"Miss, apakah pernah merasa takut saat berada di panggung?" Tanya seorang teman Leon.
Arumi tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Dulu aku pernah merasakan takut saat penampilan pertamaku di panggung kejuaraan tingkat kota. Setelah itu aku tidak merasakannya. Bahkan saat penampilanku di kejuaraan internasional, aku juga tidak merasa takut ataupun gugup. Aku berusaha menaklukkan ketakutanku sendiri. Kuncinya adalah diri kalian sendiri! Jika kalian merasa yakin dan mampu, maka itu yang akan terjadi, jangan pernah berpikir untuk kemenangan, tapi menarilah dari hati kalian. Setiap gerakan yang kalian lakukan, buatlah itu bernyawa! Berilah cerita di setiap tarian kalian dan buatlah semua yang menyaksikan seolah turut dalam tarian kalian."
Selesai Arumi menceritakan pengalamannya, mereka terdiam dan dengan takjub menatap Arumi.
Leon memberikan tepuk tangan untuk Arumi, disusul oleh teman temannya yang lain.
"Kami ingin Miss Rumi menjadi pelatih kami!" Pinta Bin.
"Aku hanya bisa membantu kalian sementara." Ucap Arumi menolak dengan halus permintaan Bin.
"Miss, aku sangat menginginkan anda untuk melatih kami!" Ucap seseorang yang lain.
"Ya, aku pun sama!" Sahut Dito.
Leon dan teman temannya yang lain menyahut Ya dan meminta Arumi untuk menjadi pelatih selama lomba berlangsung.
Mereka menatap Arumi dengan tatapan memohon. Arumi tak tega saat melihatnya. Ia teringat akan Ella, pelatih menarinya dahulu, yang kini telah pindah ke kota lain.
Arumi akhirnya menganguk setuju, disambut sorak Sorai dan tepuk tangan mereka semua.
"Kami akan cantumkan namamu sebagai pelatih kami." Tukas Leon seraya tersenyum lebar.
Setelah selebrasi menyambut Arumi sebagai pelatih mereka, satu persatu meninggalkan tempat latihan itu.
"Aku senang akhirnya kamu bersedia." Ucap Leon.
Leon hanya tertawa.
"Mulanya, namun mereka ternyata sangat antusias menanggapi ideku itu."
"Dan aku tidak mau jika hanya gratis melatih kalian!" Tatap Arumi tajam.
"Tenang! Aku sudah membicarakan semua dengan yang lain. Kami akan memberikan bayaran untukmu selama kompetisi berlangsung. Jika kami menang, akan ada bonus juga untukmu." Jawab Leon tersenyum puas.
Mereka akhirnya masuk ke mobil dan menuju pulang ke rumah.
Saat di jalan, Arumi sekilas melihat sosok yang mirip Tuan Haris bersama perempuan lain dalam mobil hanya berdua tanpa sopir melalui kaca jendela mobilnya. Perempuan itu mencium pipi lelaki yang mirip Tuan Haris itu, lalu lelaki itu mencium punggung tangan perempuan itu.Namun, Arumi segera menepis hal itu. Karena bukan merupakan kebiasaan Tuan Haris menyetir sendiri.
Sampai di rumah ia segera masuk dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya. Lalu setelah berganti pakaian ia keluar dari kamarnya.
Tepat saat itu Leon pun keluar dari kamarnya. Mereka menuju ke bawah untuk makan malam.
"Kalian sudah pulang!" Sambut Gisel yang tengah menyiapkan makanan malam itu.
"Ya." Jawab mereka bersamaan.
"Tuan Haris belum pulang?" Tanya Arumi.
"Sepertinya belum? Dan aku juga belum melihat Will seharian ini?" Jawab Gisel.
Mereka akhirnya menikmati makan malam bertiga saja.
Setelah itu mereka masuk ke kamar masing masing, namun, kali ini Arumi pergi ke ruang latihan yang di dekat kolam renang.
Ia termenung di tengah ruangan itu. Menatap tiang untuk menari pole milik mendiang istri Tuan Haris.
Arumi menatap layar ponselnya menonton video tutorial menari dengan tiang. Ia memperhatikan dan mendengarkan tips dari pelatih di video itu.
Terbersit di pikiran Arumi untuk membuat video koreografi tariannya sendiri. Lalu ia melupakan tiang polenya, dan memilih lagu pada playlist untuk ia buat koreografi.
Ia mendengarkan lagu, dan menghitung setiap ketukannya, kemudian memejamkan matanya mengikuti irama. Arumi mengangguk anggukkan kepala dan menggerakkan tangan dan kakinya, seolah membayangkan gerakan yang akan ia lakukan. Ia memutar lagu hingga selesai. Lalu ia memutar ulang lagu tersebut sambil menggerakkan tubuhnya perlahan seirama dengan musiknya.
Arumi sengaja membuat koreografi yang misal dan sederhana supaya dapat diikuti oleh orang lain, atau pemula.
Ia merekam tariannya kali itu dengan iringan musik. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya dia berhasil menyelesaikan satu video yang menurutnya pas.
Arumi duduk bersila sambil menonton video rekamannya sendiri. Ia mengedit sedikit video tersebut dan memutar ulang kembali. Video dengan durasi tiga menitan itu membuat Arumi tersenyum.
Itu tarian yang pernah diajarkan oleh Mamanya saat ia masih kecil. Tarian yang sederhana, bukan sekedar tarian, tapi juga untuk menjaga kebugaran tubuh.
Ia menyimpan video itu, lalu ia mengunggah pada lama youtube miliknya. Ia tak menggunakan namanya, ia membuat channel dengan nama 'Happy'.
Selesai mengunggah video ia beranjak dari ruangan itu. Mematikan lampunya, lalu menutup pintunya. Kamar Gisel lampunya telah padam. Arumi melirik jam tangannya, rupanya telah pukul satu dini hari.
Ia mendengar deru mobil masuk ke garasi, ia mengintip dari jendela, sebuah mobil sedan seperti yang ia lihat di jalan tadi. Ternyata benar, Tuan Haris yang mengemudikan mobil itu sendiri.
"Lalu siapa perempuan yang bersamanya tadi?" Gumam Arumi.