
Malam semakin larut, namun mata Arumi tak dapat terpejam. Ia menatap langit-langit kamarnya. Ia teringat kisah tentang keluarga Tuan Haris dan Istrinya dulu. Semakin ia merasa bersalah pada Leon. Seharusnya dia tidak bermain api dengan pemuda itu.
Arumi berjanji pada dirinya, ia akan membantu Tuan Haris untuk membujuk Leon supaya meneruskan sekolah di universitas dan fakultas pilihan Papanya itu. Supaya dapat mempelajari bisnis ataupun keuangan untuk dapat membantu mengurus perusahaan dan bisnis keluargnya.
Arumi pun mempunyai impian untuk belajar menari di sekolah kenamaan Jualiard. Ia ingin menjadi penari yang terkenal, bahkan mempunyai pagelaran menari solo nya sendiri kelak. Impiannya adalah dapat menari disaksikan oleh orang tuanya.
Namun, ucapan Tuan Haris mengenai perusahaan Papanya yang akan sepenuhnya menjadi miliknya dalam enam bulan ke depan membuatnya memikirkan ulang kembali rencana untuk belajar di Juliard.
Arumi bangun dari tempat tidurnya, ia keluar menuju ruangan berlatih yang ada di lantai yang sama. Ia membuka pintunya dan menyalakan lampunya. Ia menatap bayangan dirinya sendiri dalam cermin.
Ada rasa risih mengganggunya, ia teringat kejadian siang tadi di rumah singgah di tengah kebun anggur. Tuan Haris benar benar menganggapnya sebagai istri, dengan lembut ia menjelajahi setiap jengkal tubuh Arumi saat itu. Terasa sangat lembut dan hangat. Arumi hanya pasrah saat Tuan Haris membuka semua penutup tubuhnya tanpa sehelai pun tersisa. Tuan Haris menciumi seluruh tubuhnya, bahkan bisa membuatnya berteriak, meskipun menahan suara, namun gestur tubuh tak dapat membohongi.
Arumi benar benar merasakan apa itu yang dinamakan mencapai puncak dengan sadar dan tanpa pura pura. Ia merasakan tubuhnya terasa ringan dan melayang saat Tuan Haris memainkan jarinya dan lidahnya pada bagian miliknya.
Tuan Haris meminta Arumi untuk melepaskan semuanya tak usah ditahan tahan, dan benar saja, semua terasa nikmat dan tertumpah keluar, membuat sesuatu yang besar milik Tuan Haris dapat memasuki miliknya dengan mudah dan terasa nikmat. Mereka melakukan berbagai gerakan siang tadi, mulai gaya normal standar, gaya menatap di dinding seperti cicak, gaya doggy, gaya kuda, dan gaya gaya lainnya.
Sungguh kali ini Tuan Haris melakukan semua dengan sadar dan tanpa pengaruh dari alkohol, dan Arumi pun merasa dapat menikmati semuanya dan menjalani dengan senang hati, tidak terpaksa seperti dulu.
"Apakah aku mulai menyukai Tuan Haris juga? Atau karena kebanyakan minum anggur fermentasi, yang juga mengandung alkohol?" Arumi bermonolog dengan dirinya sendiri melalui cermin.
Arumi terus menggerakkan tubuhnya, menari, menggerakkan tangan dan kakinya, meliukkan tubuhnya. Melompat lompat bagai burung flamingo dengan anggun.
Ia baru menyadari di sudut ruangan itu ada sebuah tiang untuk berlatih menari.
"Milik istri Tuan Haris? Ternyata selain untuk latihan, mungkin digunakan juga untuk pertunjukan di depan suaminya." Arumi tersenyum geli.
Ia belum terlalu jago menari memakai tiang, namun dia bisa sedikit sedikit.
Arumi mencoba bergelantungan sambil menggerakkan tubuhnya di tiang itu. Beberapa kali hendak jatuh, namun, ia berpegangan erat dan mencobanya kembali berulang ulang.
Tak terasa dua jam lebih ia berlatih di ruangan itu. Ia membereskan peralatan menari dan mengembalikan tiang itu ke tepat semula. Lalu ia mematikan lampu,dan menutup kamar itu kembali.
Arumi kembali ke kamarnya, namun ia tertegun melihat kamar Leon sedikit terbuka.
"Kamu belum tidur?" Sapa Arumi mendekati ke arah Leon.
Leon menggeleng. Arumi menatap berkas universitas Juliard di meja belajar dan mengambilnya.
"Papa pasti tak akan memberi tanda tangan untukku." Keluh Leon.
"Leon, aku tau impian. Terbesarmu adalah menari. Tapi, saat ini dia sedang sangat membutuhkanmu. Will masih sakit, belum dapat membantu sepenuhnya. Aku tau aku tak berhak mengatakan itu padamu. Tapi tolonglah dengarkan aku." Ucap Arumi.
Leon terkejut dan langsung mendorong tubuh Arumi untuk menjauh darinya.
"Mengapa kamu menjadi berubah seperti ini? Bukannya kau dulu sangat mendukungku untuk menari?" Ucap Leon tak percaya.
Arumi terdiam, ia menatap Leon dengan lembut. Ia mendekati pemuda itu.
Arumi memegang tangan Leon, namun Leon menepis dengan keras.
Arumi hanya diam menatap Leon yang tengah emosi.
Arumi mendekatinya dan memeluk, namun Leon mendorongnya keluar hingga jatuh terjengkang menghantam dinding.
"Menjauhkan kamu dariku!" Bentaknya sambil menutup pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya.
Arumi menghela napas panjang, ia menggapai dinding dan berusaha untuk berdiri kembali. Lalu ia menuruni tangga menuju ruangan tarinya yang besar dan menghabiskan sisa malamnya di ruangan itu.
Pagi menjelang, Arumi terbangun. Ia keluar dari ruangan itu dan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai itu ia turun untuk sarapan bersama Tuan Haris, Leon dan Gisel.
Leon seolah tak memperhatikan kehadiran Arumi. Ia terus menceritakan tentang sekolahnya dan kegiatan menarinya untuk kompetisi. Ia mengatakan jika ia akan mendaftar masuk ke sekolah menari dengan melakukan audisi. Kompetisi menari yang ia ikuti jalan ikut audisi itu. Mamanya Dito termasuk salah satu juri dalam kompetisi itu. Dan dia merupakan salah satu pengajar di sekolah menari bergengsi itu.
Tuan Haris sedikit terkejut saat mendengar cerita Leon.
"Jadi kamu benar benar ingin menari Leon?" Tanya Tuan Haris menatap putranya.
"Ya." Jawabnya dengan mantap.
"Berlatihlah untuk kompetisi, belajar dengan rajin, supaya hasilnya memuaskan untuk melancarkan sekolahmu ke luar negeri. Papa akan mendukungmu." Ucap Tuan Haris sambil menepuk bahu putranya itu.
"Benarkah Pa?" Tanya Leon tak percaya.
Tuan Haris menjawab dengan menganguk. Leon berdiri dan memeluk Papanya dengan erat dan mengucapkan terima kasih.
Tuan Haris tersenyum lebar saat memeluk putranya. Seolah anak yang ia sayangi telah kembali lagi dalam pelukannya.
Arumi terkejut dengan keputusan Tuan Haris saat itu. Padahal kemarin ia meminta Arumi untuk meyakinkan supaya melanjutkan studi di bidang ekonomi.
Namun, Arumi menangkap sesuatu di sorot mata Tuan Haris. Pasti ada rencana lain yang telah ia persiapkan untuk selanjutnya. Tuan Haris menatap ke arah Arumi, dan ia hanya terdiam.
Mereka menyelesaikan sarapan dan selanjutnya melakukan aktivitas masing masing.
"Mengapa, Tuan Haris mengijinkan Leon bersekolah menari? Bukannya kemarin katanya menginginkannya bersekolah ekonomi?" Protes Arumi dalam ruang kerja Tuan Haris.
Tuan Haris tersenyum menatap wajah Arumi yang memprotes tindakannya itu.
Ia mendekati istri kecilnya itu, menatap, dan membelai wajahnya. Menyematkan rambut yang terurai ke belakang telinga.
"Aku ingin bersamamu Arumi. Menghabiskan sisa hidupku bersamamu." Bisik Tuan Haris tepat di telinga Arumi. Terdengar bukan ucapan, namun lebih ke rayuan.
"Ta-tapi aku masih muda, Tuan Haris seperti Papaku sendiri!" Tolak Arumi.
"Lalu mengapa kemarin kamu begitu menikmati setiap permainan, kamu benar benar membuatku tergila-gila Rumi."
Arumi belum sempat menjawabnya, bibirnya telah dilahap oleh Tuan Haris. Arumi ingin melawan, namun semakin dilawan rasanya semakin sakit, akhirnya ia menyerah, dan menikmati saja semua permainan yang dilakukan oleh Tuan Haris terhadapnya.