Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Permintaan Nina


"Satu... Dua.. Tiga... Empat.... Putar..! Satu.. Dua.. Tiga... Empat... Putar..! Ulang lagi..!" Teriak Arumi pada anak anak didiknya di kelas menari sambil bertepuk tangan memberi aba aba.


Anak anak itu menari mengikuti arahan Arumi dengan tenang. Gerakan mereka bagai flaminggo yang sedang berdiri di kubangan air sambil mencari ikan. Mereka bergerak memutar, lalu melompat, dan menggerakkan tangannya dengan gemulai secara seragam.


Arumi terus berteriak sambil mengarahkan mereka, sesekali membenarkan beberapa bagian tubuh muridnya, jika ada yang kurang pas.


Tampak sepasang mata mengintipnya dari balik pintu ruang kelasnya. Ia tersenyum melihat pekerjaan Arumi yang sabar dan semua siswanya pun tampak menghormatinya.


Ia kemudian menutup pintu kelas tersebut dan berjalan melalui koridor, lalu menuruni anak tangga, dan duduk di lobi sekolah itu dengan tenang, sambil memainkan ponselnya.


***


"Ya.. cukup untuk latihan hari ini. Aku sangat senang sekali, gerakan kalian banyak kemajuan. Terlihat mulai kompak dan berdinamika. Jika kalian telah menguasai gerakan ini, selanjutnya, aku akan mengajarkan gerakan baru modifikasi." Ucap Arumi sambil bertepuk tangan memuji siswa siswanya.


Siswanya yang rata rata berusia delapan hingga dua belas tahun, turut bertepuk tangan dengan gembira.


"Kak Arumi akan tetap mengajar kami kan?" Tanya seorang siswanya.


"Tentu saja. Lihat, sekarang aku sudah kembali lagi mengajar kalian." Jawabnya sambil tersenyum.


"Guru pengganti kemarin, membuat kaki kami sering terpeleset, dan galak. Dia tidak mengajari trik melakukan tarian dengan benar seperti yang telah Kakak lakukan pada kami." Ceritanya kemudian.


Arumi tersenyum menanggapi cerita siswanya.


"Tetep berlatih ya, kalian sudah bagus hari ini. Pertemuan selanjutnya, semoga lebih menguasai dan menjiwainya."


Anak anak itu mengangguk, setelah Arumi memberikan pesan pesan pada mereka.


Mereka satu persatu menuju ruang ganti, tinggal Arumi masih merapikan ruangan kelasnya itu.


Seseorang telah berada di pintu kelasnya.


"Hai!" Sapanya, membuat Arumi menoleh ke arah pintu ruangan.


"Oh, Hai.! Ada apa kemari?" Tanya Arumi terkejut, namun ia membalas sapaan itu dengan senyuman, karena yang datang adalah Nina, sang artis dan penyanyi terkenal dari kota itu.


Nina mendekati Arumi dan ikut duduk di lantai menemani Arumi.


"Aku ingin belajar menari, denganmu." Pintanya. Membuat Arumi terkejut.


"Ah, pengajar senior lebih banyak di sekolah ini. Aku jadi tak enak dengan mereka." Ucap Arumi menolak halus.


Nina memegang lengan Arumi sambil menatapnya dengan raut memohon.


"Aku penggemarmu. Sejak kamu ikut kompetisi menari wilayah, aku selalu menontonmu. Bahkan saat kamu sedang di Inggris, aku pun ikut menonton di sana untuk menyemangati. Namun, mungkin tragedi yang telah menimpa keluargamu, membuat kamu tak menyadarinya. Aku turut berduka atas apa yang telah menimpamu." Ucap Nina sambil menepuk nepuk lengan Arumi.


Sejak kehilangan keluarganya, Arumi tak memiliki lagi teman berbicara. Dahulu ia sering berbagi cerita dengan Mamanya. Hak sekecil apapun ia ceritakan pada Mamanya.


Kini, Nina datang berbicara dari hati ke hati dengannya, rasanya ia mendapat teman untuk berbagi kembali.


"Terima kasih. Oya, kamu bisa berbicara pada manager tempat ini dulu."


Arumi tersenyum lebar menatap Nina yang juga tersenyum menatapnya.


"Aku ada projek film musikal, dan untuk promonya, akan ada drama musikalnya juga. Aku memerlukan koreografer untuk film dan dramaku." Terang Nina.


"Untuk konsepnya bagaimana? Atau aku harus turut masuk dalam produksi film dan drama itu?" Tanya Arumi.


"Untuk itu ada fee tersendiri. Kini aku memintamu mengajarkan aku tehnik menari dengan benar, dan untuk menjadi pelatih pribadiku. Untuk film dan drama biarlah bagian produksi yang mencarinya." Tutur Nina.


"Jadi kamu belajar secara privat denganku?"


"Ya, Arumi. Kapan waktunya bisa mengajari aku. Namun, kita sesuaikan juga dengan jadwal syutingku." Lanjut Nina.


"Oke. Jadi kamu bisa periksa kembali jadwalmu terlebih dahulu. Baru, kabari aku, waktu yang tepat. Jadwalku di sekolah siang hingga sore hari." Jawab Arumi.


"Baiklah, nanti akan aku hubungi kamu." Jawab Nina.


Mereka berpelukan sesaat sebelum berpisah.


Nina adalah putri walikota dua periode. Meskipun Papanya, Walikota, ia bercita-cita menjadi penyanyi. Sejak kecil ia selalu ikut kontes menyanyi, dan memang ia berbakat.


Ia mengikuti ajang lomba menyanyi, dan harus puas mendapat peringkat dua. Dari situ, ia ditawari bermain film. Film yang dibintangi olehnya sukses. Kemudian ia banyak mendapat tawaran bermain banyak film bersanding dengan pemain film senior.


Kini ia menjadi bintang film, dan penyanyi papan atas. Dengan jadwal yang padat.


Usianya terpaut sekitar tiga tahun di atas Arumi. Maka, Arumi masih merasa segan terhadap Nina.


Kini, Arumi berjalan menyusuri koridor mencari Leon yang ditinggalkannya selama mengajar. Ia turun ke lantai bawah, terlihat Bejo tertidur di sudut ruangan pada sofa yang ada di sana.


Arumi naik lagi, ke atas. Menuju kelas itu.


Arumi membuka pintu ruangan. Terdengar suara musik mengalun, dan Leon sedang menggerakkan tubuhnya sesuai irama lagu tersebut.


Arumi tersenyum dan mengikuti gerakannya dari belakang.


Leon yang melihat melalui bayangan cermin hanya tersenyum.


Mereka memadukan gerakan, lalu membentuk sebuah koreografi yang indah.


Arumi mendekatkan dirinya kepada arah Leon, lalu Leon mengangkat tubuh Arumi ke atas, dan dengan rasa percaya diri, Arumi melompat ke atas dan Leon menangkapnya dengan satu hentakan.


Arumi dan Leon berhadapan. Napas mereka saling menderu akibat aktivitas menari mereka, lalu mereka saling tertawa.


"Ayo kita pulang!" Ajak Arumi, sambil mengambil tas tentengnya.


Leon mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai, mematikan aplikasi musiknya, lalu menyimpan dalam ranselnya. Ia menenteng tas di bahunya, dan berjalan mengikuti langkah Arumi.


Mereka berjalan sepanjang koridor sekolah itu, Arumi menyapa beberapa orang yang ia kenal saat bertemu. Leon hanya diam saja dan terus berjalan di belakang Arumi.


Bejo yang melihat majikannya menuruni tangga, bergegas keluar menuju mobil. Lalu ia masuk dan menyalakan starternya. Lalu ia menghampiri Arumi dan Leon di pintu masuk sekolah menari. Mereka naik dan pulang menuju kediaman Tuan Haris.