
Arumi menatap kembali siswanya, usai melakukan latihan. Raut wajah puas dan senang terpancar dari wajahnya. Siswanya akan melakukan kompetisi kali ini. Ia memang belum puas dengan kekurangan di sana sini, tapi semangat para siswa yang menggebu untuk terus berlatih tanpa lelah, membuat Arumi juga bersemangat melatih mereka.
Leon telah berangkat ke New York untuk belajar di Julliard mengambil jurusan tari, ia dan Dito telah sampai di sana dua hari yang lalu. Tuan Haris memastikan tempat tinggal dan kepastian mereka lolos atau tidak di sana. Ia meminta Bill mengurus semua keperluan dua pemuda itu selama bersekolah di sana.
Sejak tak ada Leon, Arumi menyibukkan diri di kampus, kantor, hingga kelasnya. Ia sengaja menambah jam kelas privatnya, yang selalu banyak siswa yang mendaftar untuk kelas itu.
Tak jarang Arumi menerima panggilan Madam Fey untuk mengajar gadis gadisnya di klub untuk menari. Madam Fey memberi service tarian bagi para tamunya dari para gadis gadis itu. Ia sengaja membuat klubnya ekslusif, dengan gadis yang berlisensi, dan kesehatannya terjamin. Maksudnya, gadis gadis yang bekerja di klub miliknya, sudah menjalani suatu rangkaian pemeriksaan kesehatan, dan ada surat keterangan dokter bahwa mereka sehat jasmani maupun rohani, sehingga aman dipakai oleh para tamunya.
Nina sering bertemu dengan Andin di sana, ia termasuk salah satu gadis Madam Fey yang berbakat dalam hal menari. Bahkan tarian tiangnya yang semakin berkembang, membuatnya menjadi andalan dalam pertunjukan klub malam itu. Atraksi Andin menari pada tiang membuatnya meraup banyak keuntungan. Ia salah satu gadis kesayangan Madam Fey.
Hari ini usai kelas mengajarnya. Tuan Haris mengajak Arumi kembali ke undangan Pak Broto, yang tentu saja acara pesta tersembunyi itu. Yang isinya pengusaha dan pejabat.
Arumi yang telah beberapa kali datang ke tempat Madam Fey dan beberapa kali pula mengikuti Tuan Haris ke pesta mulai terbiasa.
Kali ini Tuan Haris juga mengajak Thomas dan beberapa anak buahnya untuk projek klub malam yang akan dibangunnya di pinggir kota yang sedang direncanakannya. Mereka selain bertemu dengan Pak Broto dan Madam Fey, juga belajar tentang konsep klub yang akan mereka bangun.
Arumi tersenyum geli saat melihat Thomas ketakutan digoda oleh salah satu gadis di sana. Berkali kali Thomas membuang wajah dan menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.
Arumi tahu, bahwa Thomas kini tengah dekat dengan Nina, dan Thomas adalah pria yang setia. Ia terlihat berulang kali berusaha menjauh dari gadis gadis itu, dan saat ia melihat Arumi, ia langsung bergegas mendekati Arumi yang duduk di dekat bar klub itu.
"Astaga, gadis itu menggila. Aku pusing dibuatnya!" Keluh Thomas, membuat Arumi terkikik. Thomas mendengus kesal melihat respon Arumi.
"Bagaimana kamu bisa sedekat itu dengan Nina?" Tanya Arumi.
"Aku juga tak menyangka dia seorang penyanyi terkenal. Aku pikir dia hanya penyanyi biasa. Tapi, setelah aku memeriksa internet dan sosial media, ternyata setiap singlenya selalu menjadi tranding dan lagunya masuk sepuluh besar lagu favorit di radio." Tutur Thomas.
"Kamu tahu, Will juga menyukainya."
"Ya. Aku tahu dari tatapannya padamu saat, Nina sedang bersamaku. Tapi aku tak salah, Nina yang memilih dekat dekat denganku." Thomas membela diri.
"Ya, dia takut untuk mengungkapkan isi hatinya."
"Lihat, Tuan Haris tengah didekati oleh gadis muda itu!" Seru Thomas. Arumi hanya terdiam melihatnya, ia ingin melihat reaksi Tuan Haris saat didekati gadis itu.
Tuan Haris menatap tajam ke arah Arumi, seolah meminta istrinya untuk menolongnya.
Lalu Arumi mendekati mereka.
"Hai, dia suamiku, dia datang untuk berbisnis saja!" Ucap Arumi sambil menggeser duduk gadis itu. Kini, ia duduk pada pangkuan Tuan Haris sambil mengedipkan sebelah matanya pada suaminya itu.
Thomas terlihat bergabung dengan team projeknya. Lalu mereka saling berbicara satu sama lain entah apa, dan Will terlihat di pojok bar, menikmati minuman dalam gelasnya.
Atraksi tarian beberapa gadis dimulai, membuat pesta bertambah ramai, terlebih aksi Andin yang meliuk-liukkan tubuhnya pada tiang di tengah meja klub malam itu. Ia membuka jasnya, lalu melemparnya, lalu ia mulai berjalan di atas meja bar, berlenggak lenggok bak model dunia sambil melakukan gerakan tari sensualnya. Membuat para pria berteriak dan menyelipkan lembaran demi lembaran pada bra, celana, dan sepatunya. Atraksi itu ditutup dengan penampilan Arumi yang mengejutkan malam itu. Ia kembali menemani Andin, bersama beberapa gadis yang ia latih melakukan koreografi tarian di lantai klub malam itu.
Sorak Sorai para tamu dan tepuk tangan meriah dari semua dalam klub itu. Tuan Haris tersenyum ke arahnya usai ia menari.
Saat berpamitan, Madam Fey sangat berterima kasih pada Arumi. Ia juga berjanji pada Tuan Haris untuk membantu dalam proses pembuatan klubnya. Thomas juga telah terlihat bersiap pulang bersama rekannya yang lain malam itu.
Malam itu mereka tiba dini hari, Will langsung kembali ke apartemennya. Mobil Thomas dan Tuan Haris tiba beriringan sampai di kediaman Tuan Haris.
Thomas segera menuju kamarnya untuk beristirahat, ia melihat Nina masih duduk sendiri di kolam renang.
Ia menghampiri Nina yang tengah membuat lagu di sana sambil memegang gitarnya
"Hai, kamu sudah pulang! Bagaimana pestanya?" Sapa Nina.
"Gila! Baru kali ini aku pergi ke klub malam ekslusif seperti itu. Para gadis menggila padaku, untung saja ada Arumi, aku bersembunyi padanya." Cerita Thomas. Nina terkekeh mendengarnya.
"Pasti Arumi kerepotan mengurus kamu dan suaminya!" Tebak Nina. Dibalas anggukan cepat oleh Thomas.
"Yang lebih mengejutkan lagi, sahabat Gisel adalah penari di sana!"
"Oya? Yang mana?" Nina penasaran.
"Siapa ya..." Thomas berusaha mengingat nama teman Gisel untuk beberapa saat.
"Andin... Ya, Andin namanya!" Ucap Thomas.
"Oya, kamu sedang apa?"
"Aku sedang membuat lagu baru. Kamu mau mendengarnya?" Tanya Nina.
"Tentu saja. Mainkanlah!" Pinta Thomas menatap Nina.
Selesai Nina memainkan lagu yang ia ciptakan, Thomas memberi tepuk tangan dan tersenyum padanya.
Mereka saling beradu pandang, Thomas mendekati gadis itu, Nina hanya diam, menunggu. Nina memejamkan matanya, seolah pasrah pada Thomas.
Thomas memajukan tubuhnya, meletakkan bibirnya tepat di bibir Nina. Rasanya manis, membuat Thomas ingin lebih dan lebih. Nina terlihat sangat menikmati setiap sentuhan yang Thomas buat. Gadis itu juga ingin merasakan hal yang lebih selain ciuman.
Kini Nina telah berada pada pangkuan Thomas, lalu mereka bergerak masuk ke kamar Nina yang ada di dekat mereka.
Thomas dan Nina saling bergelut satu sama lain penuh gairah. Nina melepas kemeja Thomas, lalu melepas kaos dalamnya, hingga terlihat dada bidang Thomas, dan ada sedikit bulu di dada pemuda itu. Nina menciumi dada Thomas, membuat Thomas meliukkan tubuhnya menikmati semua.
Thomas mencium leher dan dada Nina, ia melepas kaos gadis itu. Gunung kembarnya menyembul di balik penutupnya. Membusung, seolah menginginkan Thomas menikmatinya.
Dengan satu gerakan, Thomas melepas kait penutup gunung kembar itu, kini terpampang jelas di hadapannya. Nina yang masih memejamkan matanya hanya menggigit bibir bawahnya, menikmati setiap sensasi sentuhan yang ia rasakan.
Thomas menghisap satu satu puncak gunung itu, Nina semakin bergerak menjadi jadi, terdengar suara rintih nikmat dari mulut gadis itu, yang meminta lagi dan lagi sambil menyebut nama Thomas.
Jari Thomas bermain menyusuri area dada hingga turun ke perut, lalu ia memberi ciuman di setiap sentuhannya. Nina menggeliat membusungkan dadanya. Thomas melepas kain penutup bagian bawah tubuh Nina, hingga dalamnya. Thomas memainkan jarinya pada sebuah lubang di sana, ia membuka lebar pahanya gadis itu dan mencium pahanya, Nina semakin menjadi dan lagi lagi suara rintihan terdengar.
Thomas menyibak buku halus yang tumbuh, lalu memainkan jarinya di sana, Nina bergerak ke sana kemari sambil menjambak rambut Thomas.
Thomas mempraktekkan setiap gerakan yang pernah ia lihat di sebuah film dewasa yang pernah ia tonton.
"Thom- Thomas...aassshhhh....." Panggil Nina sambil membusungkan dadanya, ia membimbing tangan Thomas untuk bermain di dada gadis itu.
Akhirnya Thomas mengerti, ia menghisap puncak gunung kembar Nina bergantian, sambil jarinya bermain di bawah sana, itu yang membuat Nina menggila kali ini
Nina mendorong tubuh Thomas lalu mencium wajah pemuda itu, menyusuri leher hingga dada, lalu ke perut. Nina melepas celana yang menutup tubuh Thomas, hingga tak ada sehelai benang pun di tubuhnya sama seperti dirinya.
Ia terkejut menatap pusaka Thomas yang membesar bagai jagung manis kesukaannya. Nina meraih pusaka itu lalu menciumnya, lalu mulai berkaraoke memainkan hingga Thomas hanya dapat merem melek menikmati semuanya.
Mereka saling berguling. Thomas memberi pelumas pada pusaka nya lalu memasukkan perlahan ke lubang pasangannya.
Sempit!
Sangat sempit.
Nina meringis kesakitan, tapi Thomas masih berusaha untuk menerobos masuk ke dalam lubang itu.
Setiap gerakan membuat Nina meringis menahan sakit, namun ia tak menolak, bahkan menginginkan lebih dari lebih.
Nina merasakan ada benda besar masuk di lubang miliknya, rasanya sangat penuh sekali, membuat sensasi geli di dalam sana.
"Thomas... Thomas... Aku se-sepertinya....ahhhh....!" Kicau Nina.
Thomas menarik pusaka miliknya, lalu terlihat ada cairan mengalir dari lubang milik Nina, ia melahapnya, menjilatinya, dan membuat cairan itu bertambah banyak, lalu ia memasukkan miliknya kembali hingga ke pangkalnya.
"Sa-sakitt...!" Rintih Nina.
Thomas menghentikan gerakannya.
"Maaf." Ucapnya sambil mencium bibir gadis itu.
Ia tahu ini adalah pertama kali Nina dan dirinya melakukan hal itu.
"Aku akan berhenti jika kamu kesakitan." Ucap Thomas.
Nina langsung mendelik, dan mendorong tubuh Thomas. Kini dia berada di atas pemuda itu, bergerak naik turun bak penunggang kuda. Setiap hentakannya membuat Thomas merasa nikmat.
Saat di dalam sana mulai terasa penuh dan menegang. Nina dan Thomas saling merapatkan tubuh mereka lalu mereka seolah melepaskan sesuatu di tempat yang seharusnya.
Tubuh mereka bergetar saling memeluk dan mencium, cairan mengalir dari milik keduanya. Tampak noda darah pada sprei tempat tidur itu.
"Maafkan aku, Nina." Ucap Thomas.
"Aku mencintaimu Thomas. Berjanjilah kamu untuk bersamaku." Pinta Nina.
"Aku sangat mencintaimu Nina. Aku tak kan pernah meninggalkanmu."
Thomas memeluk gadis itu dan mencium keningnya.
Nina terlelap dalam dekapan pemuda itu. Nina tertidur dengan buaian mimpi indah bersama Thomas malam itu.