
"Kenapa kau bohong padaku? Seharusnya kamu tidak melakukan itu pada Arumi! Lalu, perusahaan Bara, kamu kuasai? Tega sekali kamu melakukan semua itu Dipo!" Pekik Anne, istrinya.
"Kamu mau melawanku!?" Seru Dipo.
Plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Anne.
Anne terjerembab ke sudut dinding, darah segar mengucur di bibirnya, ia menatap Dipo dengan tajam.
"Apa maksudmu ini? Setelah aku kehilangan kakakku, lalu keponakanku, kini apa?" Harusnya aku mendengar ucapan kakakku dulu tentangmu. Bodohnya aku!" Ucap Anne sambil berusaha berdiri dengan berpegang pada tembok.
Dipo menarik tangan Anne, lalu mendorong tubuhnya, lalu ia menarik ikat pinggang nya, dan memecutkan pada tubuh istrinya itu.
Terdengar jeritan dan tangisan Anne menyayat hati.
"Itu hukuman untukmu!" Seringai Dipo.
Anne menatap tajam suaminya itu. Ia tak menyangka Suaminya akan sekejam itu padanya.
Gisel mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dari kamarnya. Lalu ia meringkuk di sudut kamarnya, mengambil earphone, dan menyalakan lagu pada ponselnya. Ia tak ingin mendengar semua itu. Ia tak kuat mendengar suara lecutan itu, dan suara tangis Mamanya.
Pakaian Anne, telah terkoyak tak karuan. Tubuhnya bagai tersayat sayat. Lebam di mana mana. Tubuhnya meringkuk dilantai seolah tak berdaya.
Dipo hanya menatapnya, sambil tersenyum sinis, ia menarik lengan istrinya, ia mendorong tubuh istrinya yang penuh luka ke sofa ruang tengah.
Menatap tubuh istrinya yang penuh luka, dan dadanya montok Anne yang menyembul. Dipo segera mendekati tubuh istrinya itu. Ia segera menyentuh dan me remas dada Anne. Membuat Anne yang meringis menahan rasa nyeri akibat lukanya, kini ditambah perlakukan cabul suaminya itu.
Dipo, melucuti pakaian istrinya dengan paksa, ia melempar kain kain penutup tubuh istrinya ke berbagai arah. Ia menciumi tubuh istrinya dengan penuh gairah.
Sambil menahan rasa sakit akibat luka pukulan Dipo, Anne menggigit bibir bawahnya menahan rasa nikmat yang dibuat oleh suaminya itu.
Lalu Dipo dengan penuh napsu, membuka resleting celananya, ia membuka penutup bagian bawahnya, dengan segera ia merudapaksa istrinya sendiri dengan beringas setelah menyiksanya.
Ia menyeringai setelah puas. Dan Anne terkapar tak sadarkan diri di sofa. Dipo mengenakan kembali pakaiannya, dan merapikan dirinya, lalu meninggalkan istrinya yang penuh dengan luka.
Dipo selalu menyiksa istrinya sebagai pelampiasan kekesalan jika sedang ada masalah dengan pekerjaannya. Lalu ia menikmati tubuh istrinya itu, setelah ia siksa. Tak jarang, perbuatannya itu membuat istrinya tak sadarkan diri karena kelelahan dan luka akibat siksaan.
Sejak Bara, Papa Arumi meninggal. Dipo menunjukkan sikap aslinya. Dipo adalah rival Bara. Usaha Bara maju pesat, bahkan melebihi usaha Dipo. Hingga akhirnya Dipo berkenalan dengan seorang mafia minuman keras dan narkoba. Yang membuatnya menjadi kaya, dan dapat menyaingi Bara. Namun, bisnis legalnya sebenarnya sangat merugi. Bisnis properti miliknya banyak yang di lahan sengketa, membuat tak laku.
Sedangkan Bara, membuat apartemen dan perumahan di lokasi yang strategis. Kemudian menyediakan pusat hiburan dan pertokoan di area perumahan yang dibangunnya. Termasuk sekolah menari milik Tuan Haris berada di dalam komplek tersebut.
Bara selalu mengingatkan adiknya itu untuk menjauhi Dipo, namun entah bagaimana, pesona Dipo seolah selalu membius adiknya itu.
Anne yang polos, selalu menceritakan dengan riang apa yang dikerjakan oleh kakaknya itu.
Anne dibuat tergila toleh Dipo, hingga akhirnya ia hamil sebelum menikah.
Membuat Bara akhirnya merelakan adiknya menjadi istri musuhnya.
Sejak dulu Bara tau Dipo itu licik, ia bahkan menggunakan segala cara untuk mengalahkan lawan lawannya.
Dipo pernah dipenjara karena kasus sabotase perusahaan Bara, dan selama beberapa tahun harus mendekam dalam penjara. Selama dalam penjara ternyata Dipo menyimpan dendam pada Bara, dan bersumpah akan menghancurkan Bara dan keluarganya.
Bara dan Tuan Haris, lahir, besar, dan tinggal di kota itu. Mereka bisa dibilang berteman.
Tuan Haris memiliki perkebunan anggur yang besar di kota itu. Istrinya dahulu, Mamanya Leon, orang tuanya adalah pemilik kebun anggur di kota lain. Turun temurun berkecimpung di perkebunan anggur, lalu mempunyai pabrik pembuatan anggur dengan kualitas tinggi, membuat Tuan Haris menjadi salah satu pemasok anggur di hotel berbintang, restoran ternama, hingga pesta pesta yang diadakan oleh selebriti dan sosialita hampir di seluruh dunia.
Kini kembali lagi ke rumah Dipo.
Gisel menuruni anak tangga sambil menangis.
"Mama.. Mama... Tidak..!" Pekiknya sambil memeluk mamanya. Ia mengambil selimut yang terlipat di sofa, dan menyelimuti Mamanya.
Ia mengambil baskom, dan menuang air hangat. Lalu mengambil handuk kecil untuk membasuh luka luka mamanya.
Ia mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk kakaknya. Menceritakan kejadian di rumah, yang terjadi selama ini. Keributan yang dilakukan oleh Papa dan Mama. Serta Arumi yang diserahkan pada Tuan Haris, untuk dijadikan istrinya.
Sambil menyeka dan membersihkan luka luka Mamanya, Gisel menangis.
"Gisel..." Anne memegang lengan putrinya.
"Ah... Mama sudah sadar. Yuk kita ke dokter saja, Ma." Ajak Gisel.
"Tidak usah. Mama hanya perlu berendam dalam bathtub. Bisa bantu mama, Sayang?"
Gisel menganguk, ia memapah Mamanya ke dalam kamarnya, lalu membantu masuk ke dalam bathtub. Air panas dan dingin mengalir bersamaan, membuat menjadi hangat. Air yang awalnya jernih, kini menjadi kemerahan, bercampur dengan darah dari luka luka di tubuh Anne.
"Kenapa Ma?" Tanya Gisel.
"Jika terjadi apa apa dengan Mama, carilah Arumi. Dialah satu-satunya saudara yang kita miliki saat ini. Thomas berada jauh, tidak bisa secepatnya datang." Pesan Anne.
"Ta- tapi, Arumi telah diserahkan oleh Papa. Apakah dia masih mau membantu kita Ma?" Tanya Gisel.
"Papamu telah membohongiku selama ini. Aku hanya dijadikan alat untuk menghancurkan keluargaku sendiri. Mama tidak ingin Kamu dan Kakakmu terjebak seperti Mama, Nak. Meskipun kamu darah daging Papamu, tetap berhati-hati padanya. Tak selamanya Mama bisa menolongmu." Ucap Anne.
Gisel memberikan handuk pada Mamanya. Ia membantu mamanya mengeringkan tubuh, dan membantu mengenakan pakaiannya kembali.
"Gisel buatkan bubur untuk Mama ya? Mama istirahat saja di kamar."
Anne menganguk, lalu Gisel menuju dapur untuk membuatkan bubur untuk Mamanya.
Kombinasi oatmeal dan susu, diaduk dalam panci, setelah melebur menjadi bubur, Gisel menuang dalam mangkok.
Lalu ia membawa semangkuk bubur oatmeal ke dalam kamar Mamanya dengan nampan, sambil membawa dua cangkir kopi dan segelas air mineral.
Gisel membantu mamanya duduk, ia menaruh tumpukan bantal untuk menyangga tubuh mamanya. Lalu ia menyuapi Mamanya sedikit demi sedikit, hingga bubur dalam mangkok itu habis.
"Mama, mau kopi? Aku membawa dua cangkir kopi untuk kita nikmati bersama." Ucap Gisel.
Anne tersenyum menerima cangkir kopi yang dibawakan oleh putrinya itu.
"Bagaimana di sekolah? Kita akhir akhir ini jarang bertemu, sehingga, Mama tidak bisa mendengar ceritamu tentang sekolah." Tanya Anne.
"Dua hari yang lalu, Aku melihat Arumi ke sekolah."
"Oh, kenapa memangnya?"
"Leon, putra Tuan Haris berkelahi dengan Andre. Anak pengusaha temannya Papa." Jawab Gisel.
"Bagaimana rupanya sekarang? Sudah tiga bulan ia meninggalkan rumah ini." Tanya Anne.
"Ya masih seperti dulu. Aku dengar dia tetap mengajar di sekolah menari itu. Sekolah itu milik Tuan Haris." Jawab Gisel.
Anne merasa tenang setelah mendengar cerita putrinya itu. Ia yakin, jika saat dalam keadaan mendesak, Arumi dapat menjadi tempat untuk perlindungan Gisel dan Thomas, bahkan dirinya.
Dan Dipo tak berani macam macam dengan Arumi, karena menjadi istri Tuan Haris, kepala dewan Kota yang terhormat.