
Jeff meletakkan koper ke dalam ruangan.
"Baiklah, Nona, silahkan kalian beristirahat. Tugas saya sudah selesai. Ini kartu nama saya, jika kalian memerlukan hal lain. Jangan sungkan untuk meminta tolong." Ucap Jeff sambil mengulurkan sebuah kartu nama.
Olivia, salah satu rekan Arumi segera menyambar potongan kertas itu sambil tersenyum.
"Aku tidak sungkan. Terima kasih." Ucapnya dengan cepat masih dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
Arumi masih menatap dingin pada Jeff sambil menyapu setiap sudut ruangan apartemen itu. Jeff maklum, lalu bergegas keluar meninggalkan kamar itu diantar oleh Olivia.
Arumi mendorong kopernya masuk ke sebuah kamar. Di apartemen itu ada dua buah kamar. Arumi menempati sebuah kamar dengan dua teman yang lain, sedang Olivia dan seorang yang lain menempati kamar yang satunya lagi.
Unit yang mereka tempati merupakan salah satu unit properti milik Tuan Haris, beberapa yang lain ia sewakan, dan satu blok dari apartemen itu, adalah apartemen yang ditempati oleh Leon dan Dito, Jeff juga tinggal di sana bersama mereka.
Kehidupan Jeff juga hampir mirip dengan Will, namun dia memang sedari kecil telah dirawat oleh neneknya yang merupakan salah satu pekerja Tuan Haris di ladang anggur miliknya di sebuah desa di benua Amerika itu. Orang tuanya telah meninggal, dan sejak kecil Tuan Haris yang membiayai sekolahnya hingga berkuliah di sebuah universitas di sana, lalu ia bekerja di salah satu perusahaan milik Tuan Haris.
Sejak neneknya meninggal, ia menempati salah satu unit apartemen milik Tuan Haris, lalu saat Leon memutuskan untuk sekolah di Amerika, ia diminta untuk menjaga Leon dan Dito, temannya. Leon telah merasa nyaman tinggal bersama Jeff, dan memilih tetap tinggal di sana, dari pada pindah ke tempat lain.
Apalagi saat mengetahui Jeff juga merupakan seorang penari jalanan, Leon dan Dito sangat senang. Beberapa kali terkadang mereka ikut Jeff menonton pertunjukkan tarian jalanan mereka yang rata rata diikuti oleh orang berkulit hitam. Dari sana Leon merasa masih harus banyak belajar lagi seni menari yang ia miliki saat ini.
Arumi bersama empat rekannya, yaitu Olivia, Mia, Sarah, dan Lia sedang berdiskusi mengenai jadwal yang harus mereka lakukan selama di sana. Jadwal belanja, masak, dan piket. Jadwal mereka pun ada yang sama ada yang berbeda karena jurusan yang mereka ambil. Olivia dan Sarah yang memilih jurusan yang sama. Untuk Arumi, Mia, dan Lia, mengambil kelas berbeda. Apalagi Arumi yang mengambil kelas expert dengan jadwal yang sangat padat.
Untuk hidup sehari hari, Tuan Haris telah menanggung hidup mereka dan memberi uang saku.
Hari ini adalah hari kedua mereka tinggal di sana, masih di musim dingin di awal tahun. Saat pergantian malam tahun baru, ia hanya dapat melihat video yang diperlihatkan oleh Leon dari sebuah tempat. Arumi masih mengingat dengan jelas gedung yang diperlihatkan oleh Leon padanya.
Arumi berjalan kaki untuk berbelanja kebutuhan harian di sana, karena besok ia telah mulai mengikuti kelas. Ia merapatkan jaket tebalnya dan membenarkan kupluknya, syal telah melilit di lehernya, lalu dengan sarung tangan wol yang hangat. Ia berjalan ke sebuah supermarket yang letaknya satu blok dari tempat tinggalnya saat ini. Ia terus memandang gedung dengan sebuah papan iklan yang ia lihat di video Leon. Lalu ia menatap sebuah apartemen di depannya.
"Apakah Leon tinggal di sini?" Gumam Arumi sambil tersenyum. Ia sengaja belum memberi tahu kedatangannya pada Leon, untuk memberi kejutan ulang tahun pada pemuda itu.
Arumi terus berjalan menuju arah supermarket dan masuk ke dalamnya. Tepat di saat yang sama Leo. Keluar dari pintu apartemen menuju jalan, ia seolah melihat sosok Arumi tadi berdiri di depan apartemen itu. Ia sangat yakin itu Arumi, tapi saat ia menuruni tangga dan menuju tempat ia melihat sosok Arumi, gadis itu tidak ada. Ia menengok ke kanan dan kiri jalanan, dan sekelilingnya. Tapi, tetap saja Arumi tidak ada.
"Hmmm.... Aku mungkin terlalu berhalusinasi karena merindukannya!" Keluh Leon sambil terus berjalan menuju kampusnya.
Arumi telah memilih ayam, daging, beberapa sayur mayur, serta buah segar untuk stok isi kulkas. Ia juga membeli beberapa keperluan sehari-harinya. Lalu ia ke kasir dan membayar semuanya. Tepat di kasir sebelah, ia melihat seseorang tersenyum ke arahnya.
"Oh, hai Jeff!" Sapa Arumi yang terlihat sedikit terkejut.
"Hai! Rajin sekali! Mana yang lain?" Tanya Jeff.
"Yang lain sedang berjalan jalan ke taman kota, katanya ada sebuah foodtruck yang berjualan menu masakan Indonesia di sana." Jawab Arumi.
"Baru dua hari di sini, mereka sudah merindukan rumah!" Sambung Arumi sambil menaikkan bahunya. Ia lalu mengangkat belanjaannya.
"Terima kasih." Sahut Arumi.
Mereka berjalan keluar dari supermarket itu.
"Kamu hendak bekerja?" Tanya Arumi. Jeff hanya tersenyum. "Jam kerjaku sore hingga malam hari. Aku bekerja di salah satu restoran dan klub milik Tuan Haris di pusat kota. Tujuh blok dari sini." Ucapnya sambil menunjuk arah tempat kerjanya.
Arumi hanya tersenyum sambil menatap Jeff.
Di sudut jalanan ada seorang laki-laki dan perempuan sedang menari diiringi sebuah lagi hip hop dan menjadi tontonan banyak orang yang lewat. Arumi berhenti sejenak untuk menonton. Setelah pasangan itu selesai menari, ia bertepuk tangan, lalu menaruh selembar uang pada topi yang dibalik yang diletakkan di depan pasangan penari itu.
Lalu ia berjalan menuju apartemennya diikuti oleh Jeff. Mereka naik ke lantai unit tempat tinggal Arumi. Jeff menatap wajah Arumi yang kini tepat di hadapan, di dalam lift ia dapat menatap dengan jelas wajah gadis itu. Dada Jeff berdesir, ia menatap bibir Arumi, yang terlihat menggiurkan baginya.
"Astaga, Jeff, sadarlah!" Rutuk Jeff dalam hati.
Sejak pertemuan mereka kemarin, Jeff selalu teringat akan Arumi. Sejak ia kehilangan kekasihnya lima tahun silam karena kecelakaan, baru kali ini ia merasakan perasaan seperti itu. Saat menatap Arumi.
Ting..!
Lift terbuka tepat di lantai lima, menyadarkan lamunan Jeff akan pesona Arumi. Arumi yang lebih dahulu keluar dari lift lalu berjalan menuju unitnya.
Jeff mengikuti menuju unit itu sambil membawa belanjaan Arumi.
Arumi meletakkan kantong belanjaan di atas meja, diikuti oleh Jeff.
"Mau kopi atau teh?" Arumi menawari Jeff sebagai ucapan terima kasih telah membantunya. Sambil ia ingin mencari tahu keberadaan Leon saat ini.
"Kopi dengan krimer." Jawab Jeff dengan gembira. Seolah gayung bersambut perasaannya saat itu. Ingin rasanya ia berlama lama dengan gadis itu. Jeff tidak mengetahui bahwa Arumi adalah istri dari Tuan Haris.
"Jadi, kamu tinggal di dekat sini?" Tanya Arumi sambil meletakkan cangkir kopi di depan Jeff.
Jeff langsung menghangatkan tangannya sambil menggenggam cangkir kopi yang masih panas itu.
"Satu blok dari sini. Di depan itu." Jeff menunjuk apartemen di depannya. Arumi terdiam, terkejut saat melihat Dito terlihat berada di ruangan yang ditunjukkan oleh Jeff.
Jantung Arumi seolah mau copot seketika. Ternyata ia tinggal sangat dekat dengan Leon selama ini. Ya, Leon bercerita bahwa ia tinggal bersama Dito dan seorang karyawan Tuan Haris.
Arumi langsung menatap ke arah Jeff. Dan menebak, lelaki itulah yang tinggal bersama Leon juga.
Dipikiran Arumi telah terbayang akan memberi kejutan pada Leon dengan bantuan Jeff dan Dito. Namun, berbeda dengan Jeff. Ia berpikir bahwa Arumi memiliki perasaan sama seperti dirinya.
Namun, kemudian Arumi berubah pikiran. Jeff adalah salah satu karyawan kepercayaan Tuan Haris. Makan jika ia mengetahui hubungan dengan Leon, ini juga akan menjadi skandal dan citra buruk bagi Tuan Haris dan dirinya. Terutama bagi karirnya. Pada akhirnya, ia akan memberikan kejutan itu sendiri.