Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Watak Asli mulai tampak


Tak terasa dua bulan sudah Gisel tinggal di kediaman Tuan Haris. Masa ujian akhir semester hampir tiba. Gisel disibukan dengan tugas, belajar, dan pr sekolah.


Gisel selalu penasaran dengan Leon, yang selama ini selalu dingin terhadap gadis gadis. Di sekolah pun, Leon terlihat cuek. Ia hanya bergaul dengan teman satu geng nya saja.


Namun, ia dapat terlihat ramah dan biasa saja pada Nina, kakaknya Dito, dan pada Arumi. Gisel penasaran, apa yang bisa membuat Leon dapat tertarik.


Pernah suatu kali, saat Leon sedang belajar di balkon atas, Gisel datang, dengan mengenakan kaos ketat dan hot pant, dengan penampilan yang menggoda, namun, Leon sama sekali tak menggubrisnya.


Tapi, saat Arumi sedang mengajar menarinya dan teman temannya, mereka dapat bercanda dan tertawa. Hingga membuatnya kesal. Akhirnya ia mencari Alan sebagai pelampiasan hasratnya.


Alan adalah teman sekelas mereka yang pintar dan kutu buku. Dengan penampilan yang culun, memakai kacamata tebal bulat, membuat banyak gadis yang tak tertarik padanya. Namun, menurut Gisel, Alan memiliki ketampanan yang tersembunyi. Alih alih dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas tugas sekolah. Alan juga tempat untuk menyalurkan hasrat duniawi Gisel.


Gisel memiliki sisi gelap yang tak ada yang menyadarinya. Dengan tampang polos dan sedih, ia sering menggunakan kisah kematian Mamanya untuk membuat semua orang simpati padanya, termasuk Tuan Haris dan Arumi.


***


Hari itu kelas matematika, yang membuat kepala Gisel pusing. Tiba tiba ia memiliki sebuah ide untuk menggoda Mr. Han, guru Matematikanya.


Mr. Han yang kepanjangannya Handoko, adalah pria berusia hampir 40 tahun, berperawakan gemuk dan galak, belum menikah, dan hampir tak pernah tersenyum, sering memberi tugas dan pr yang bejibun. Membuat Gisel harus mendekati Alan, dari kelas IPA, untuk membantunya mengerjakan semua tugas dan pr nya itu.


"Sel, itu 46 dapat dari mana?" Bisik Andin yang berada di belakang Gisel.


"Mana gue tau. Susah Lo catet saja, gih!" Jawab Gisel yang kebetulan duduk paling depan. Ia tak ingin terkena masalah jika membuat kegaduhan di kelas.


Saat Mr. Han menerangkan, Gisel sengaja memainkan anak rambutnya, dan menggigit penanya dengan wajah menggoda. Lalu ia membuka kakinya sedikit lebar dan membuat gerakan buka tutup paha dengan perlahan.


Mulanya Mr. Han masih mengajar dengan baik, dan menerangkan dengan suaranya yang galak. Namun, ia mulai tergoda dengan kaki Gisel yang pahanya membuka tutup itu. Ia menelan ludahnya, lalu membenarkan kaca matanya yang sedikit melorot. Ia menerangkan kembali dan berusaha fokus.


Gisel memainkan anak rambutnya dengan jari, sambil menggulung pada jarinya, lalu menggigit bibir bawahnya, lalu memberi senyum menggoda, sambil membuka lebar pahanya.


Mr. Han makin aneh menjelaskannya, ia mengibaskan ngibas kemeja di bagian dadanya kepanasan, padahal saat itu cuaca tidak terlalu panas. Lalu ia duduk di kursinya, sambil menenangkan diri.


"Kerjakan halaman 76, bagian A dan B!" Perintah Mr. Han dengan suara keras.


Terdengar suara riuh keluhan para siswanya.


Gisel tak mengeluh seperti teman temannya yang lain, ia masih menatap gurunya itu dengan pandangan menggoda, sambil meraba bagian lututnya, lalu naik ke paha sambil menaikkan roknya. Mr. Han sudah tak tahan lagi, akhirnya ia keluar dari kelas itu sebelum pelajaran berakhir, padahal jam pelajaran masih sekitar lima belas menit lagi.


Semua siswa bersorak kegirangan saat melihat Mr.Han tiba tiba keluar dari kelas. Tak lama Mr. Han masuk kembali, membuat kelas langsung hening kembali.


Ia kembali ke mejanya dan mengambil buku bukunya yang tertinggal.


"Jangan lupa, untuk pr semua. Dan ingat Minggu depan ada ulangan!" Ucapnya dengan nada keras.


"Huuuu..!!" Teriak semua anak di kelas itu memprotes.


Mr. Han seolah tak mendengar mereka, lalu mendekati meja Gisel.


"Kamu ke ruangan saya!" Ucapnya dengan cepat sambil berlalu keluar kelas itu.


Gisel tersenyum, rencananya berhasil. Bela yang duduk sebangku dengan Gisel terkejut dan menatap Gisel dengan prihatin, begitu juga Andin. Namun, Gisel hanya bersikap tenang. Ia berdiri dan keluar menuju ruangan Mr. Han.


Akhirnya ia menemukan nama Mr. Handoko tertera di depan pintu berwarna abu abu itu. Perlahan Gisel mengetuk pintunya.


"Masuk..!" Jawab Mr. Han dari dalam.


Gisel masuk, dan menutup kembali pintu itu. Ia berdiri di dekat pintu, sedang Mr. Han masih terlihat sedang berkutat dengan buku buku yang dipegangnya.


Ia menaruh buku itu di rak, lalu menoleh ke arah Gisel, yang masih berdiri terpaku di dekat pintu.


Mr. Han mendekati Gisel, salah satu tangannya mengunci pintu ruangan itu, lalu ia duduk di kursinya. Gisel hanya memperhatikan semua yang dilakukan oleh Mr Han tanpa banyak kata.


"Apa maksudmu?" Tanya Mr Han memecah keheningan.


Gisel hanya menggelengkan kepalanya. Mr Han menatap tajam ke arah Gisel.


Lalu Gisel melangkah menuju ke kursi tempat duduk Mr Han, ia duduk di meja, tepat di depan guru matematika galak itu. Seketika wajah Mr Han terkejut, dan wajahnya bersemu kemerahan.


Gisel duduk di pangkuan guru itu, sambil mengalungkan tangannya di leher guru itu, lalu dengan telunjuknya menyusuri wajah Mr Han, yang mulai berkeringat.


"Mr Han..." Panggil Gisel dengan manja.


"A-apa..?" Jawabnya.


"Tolong beri nilai yang terbaik untukku! Aku rasa tidak sulit bukan, menuliskan angka 90 atau huruf A pada nilai raporku!" Bisik Gisel tepat di telinga Mr Han.


Mr Han menatap Gisel dan menganguk setuju.


"Bagus.... Aku sangat senang. Baiklah, aku akan memberi hadiah untukmu kali ini." Sambung Gisel, yang kini menyusuri wajah Mr Gan dengan kecupan menggodanya.


Ia merasakan milik gurunya itu terbangun dan membesar akibat ulah nakalnya.


Mr Han dengan cepat menyambar bibir Gisel dan me lu mat nya dengan penuh semangat. Gisel membalasnya dengan lembut. Lalu Mr Han membuka kancing seragam muridnya itu mengobrak abrik menutup dadanya dan mencicipi gundukan kembar milik Gisel bagai bayi yang kelaparan. Terdengar rintih nikmat dari bibir Gisel.


Mr Han mengangkat tubuh Gisel untuk duduk di meja kerjanya, lalu membuka kedua kaki muridnya itu perlahan. Lalu menurunkan penutup yang menghalanginya, kini sebuah lubang dengan bulu halus di sekelilingnya terlihat, Mr Han menciuminya seolah bersorak kegirangan.


Ia memasukkan jarinya ke lubang itu, sehingga membuat Gisel membusungkan dadanya menahan sensasi yang ia rasakan.


Daerah itu mulai basah, dan keluar aroma khas yang membuat Mr Han tak tahan lagi untuk menikmatinya. Ia menjilati dan menghisapnya. Membuat Gisel menggigit bibirnya menahan suaranya supaya tak berteriak karena sensasi nikmat tiada tara si bagian itu, lalu cairan keluar dari sana.


Gisel mengendurkan ikat pinggang gurunya itu, lalu membuka penutup bawah tubuhnya, bermain dengan miliknya yang mulai membesar itu. Mr Han menggeram sambil menjambak rambut Gisel.


Gisel yang juga sudah tak tahan lagi akhirnya melakukan gerakan kuda kudaan di pangkuan gurunya itu, membenamkan benda besar itu masuk dalam miliknya, yang akhirnya membuat keduanya saling berteriak mencapai puncaknya berbarengan dengan suara bel tanda istirahat.


Gisel merapikan pakaiannya kembali, lalu ia merapikan rambutnya dan mengikatnya.


Ia mendekati gurunya yang masih menata napasnya akibat aktivitas fisik yang baru saja mereka lalukan bersama.


"Mr Han, berikan nilai terbaik untukku!" Bisik Gisel kembali tepat di telinga guru itu, seolah perintah yang harus dilakukan.


Gisel membuka pintu dan keluar dari ruang guru matematika dengan senyum tersungging di bibirnya.