
Mata Arumi sama sekali tak dapat terpejam, ia hanya membolak balikan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya terngiang ucapan Tuan Haris mengenai perusahaan Papanya. Lalu mengingat semua ucapan Paman dan Bibinya. Mengapa sepertinya ada yang ganjil mengenai kejadian kebakaran rumahnya kala itu.
Hari itu, ia sempat mengobrol dengan Mama melalui ponselnya, ada Papa juga. Mereka menyemangati Arumi dan sempat meminta maaf, tak dapat menemani ke London karena ada urusan penting. Saat itu Papa mendapat proyek besar, bahkan dapat mengalahkan perusahaan Tuan Haris. Klien Papa katanya orang penting.
Papa memang selalu profesional dalam pekerjaannya, Mama selalu mendukung Papa. Malam itu tak disangka, adalah terakhir kali Arumi melihat kedua orang tuanya.
Arumi tak tahan lagi, ia ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya. Ia beranjak dari tempat tidur, menuju balkon kamarnya. Ia menatap langit malam itu yang penuh dengan bintang.
Sayup sayup terdengar suara musik. Arumi, menajamkan indera pendengarannya, lalu ia keluar dari kamarnya. Suara musik makin jelas terdengar. Ia menyusuri koridor lantai dua, ada sebuah ruangan yang sedikit terbuka.
Arumi mengintip, ia melihat seorang pemuda sedang menari di sana. Saat melihat Arumi dari cermin besar yang ada dalam ruangan, pemuda itu terkejut dan menghentikan kegiatannya.
"Kamu...? Apa yang kamu lakukan di situ?" Teriaknya, tubuhnya oleng karena terkejut.
"Oh, aku hanya tertarik mendengar suara musiknya." Jawab Arumi.
"Musik? Ruangan ini kedap suara." Ucap pemuda itu dengan heran.
"Pintunya sedikit terbuka."
"Kamu... Yang di sekolah menari itu? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Hmmm... Aku bekerja di sini." Jawab Arumi berbohong.
"Kamu ingin menari juga?"
"Ya."
"Tolong tutup dengan rapat, aku tak ingin Papaku mendengar suara musiknya." Perintahnya. Arumi menutup pintu ruangan itu.
Lalu pemuda itu memutar musiknya kembali.
Ia menyilahkan Arumi untuk memulainya. Arumi segara membuat koreo dengan musik yang menghentak, ia melompat dan berputar, menggerakkan tangan dan kaki seirama.
Lalu pemuda itu mengikuti gerakan Arumi dari belakang, lalu mereka menari bersama.
Pemuda itu memegang jemari Arumi, lalu Arumi berputar dan melompat. Pemuda itu menangkap tubuh Arumi. Lalu Arumi melakukan sebuah gerakan memutar tubuhnya, kini Arumi ada dalam dekapan pemuda itu.
Napas memburu dari keduanya. Mata mereka saling memandang. Perlahan napas mereka kembali teratur, namun jantung Arumi dua kali lebih cepat, terutama saat terjadi kontak fisik dengan pemuda ini.
Musik masih mengalun, pemuda itu mendorong tubuh Arumi ke tembok, napas mereka saling memburu. Wajah pemuda itu makin mendekat pada wajahnya.
Tubuh Arumi dan pemuda itu hampir tak berjarak lagi, pemuda itu mencium bibir Arumi. Mata Arumi terpejam menikmati setiap sentuhan pemuda itu.
Arumi mengalungkan kedua tangannya pada leher pemuda itu, lalu pemuda itu mencium leher Arumi.
"Aaahhh...." Arumi tak dapat berbohong mengenai hasrat jiwa mudanya.
Arumi pun membalasnya dengan kecupan kecil di pipi, lalu bibir, lalu turun ke leher pemuda itu. Entah apa yang membimbing Arumi dapat melakukannya.
"Hhhmmmmm......" Erangan itu yang keluar dari mulut pemuda itu.
Pemuda itu mengangkat tubuh Arumi berhadapan dengannya. Mereka saling bergelut memuaskan hasrat duniawi. Dua anak muda yang saling bergelora.
Kesadaran dan pikiran Arumi kembali normal. Ia berhenti dan menatap pemuda itu.
"Maaf, sepertinya kita telah salah." Ucapnya, lalu ia segera berlari meninggalkan pemuda itu sendiri dalam ruangan itu.
Arumi, masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Lalu masuk ke kamar mandi, melepas semua pakaiannya, dan menyalakan kran panas dan dingin untuk memenuhi bathtub. Setelah menemukan hangat yang diinginkan, Arumi meneteskan minyak aromaterapi ke dalam air, lalu ia memasukkan kakinya ke dalam bathtub, perlahan, lalu tubuhnya.
Arumi memejamkan matanya, yang ada dalam ingatannya adalah wajah pemuda itu, tatapannya, senyumnya, tariannya, sentuhannya, bahkan aroma tubuhnya menari nari di kepalanya.
Arumi menyentuh bibirnya, ia mengingat saat pemuda itu ******* bibirnya dengan lembut. Arumi tersenyum saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Dosakah aku? Aku telah bersuami, ya secara tertulis, namun aku baru bertemu suamiku kemarin. Itu pun ia hanya memberikan informasi saja. Semuanya melalui asistennya, Will. Huh... Mengapa ia tidak menikah saja dengan Will, jika apa apa harus dengan Will." Keluh Arumi saat mengingat Tuan Haris dan asistennya.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar pintu kamar Arumi diketuk.
"Tunggu...!" Teriak Arumi, sambil segera mengering tubuhnya, dan memakai kimono handuknya.
"Will..? Ada apa?" Tanya Arumi terkejut.
"Bapak memanggilmu!" Ucapnya singkat.
"Bapak?" Tanya Arumi.
"Tuan Haris memanggilmu, di ruangannya." Ulang Will, lalu meninggalkan Arumi untuk berganti pakaian.
Setelah mengenakan piyamanya, Arumi turun ke lantai satu menuju ruang kerja Tuan Haris.
Arumi membuka pintu ruang kerja Tuan Haris. Arumi terkejut, karena ada orang lain dalam ruangan itu sedang bersama Tuan Haris.
"Kenapa tidak mengetuk dulu?" Hardik Will, membuat nyali Arumi ciut, ia kemudian mundur ke luar dan menunggu di depan ruangan itu.
Arumi merutuki kebodohannya, mengapa tak mengetuk dulu tadi. Ia duduk di sofa yang berada sana.
Ia menunggu hingga tak terasa setengah jam berlalu. Akhirnya pintu ruang kerja Tuan Haris terbuka. Terlihat Tuan Haris berjalan mengantar tamunya keluar dari ruangannya. Mereka masih mengobrol dan tertawa.
"Arumi, kemari!" Panggil Tuan Haris. Mendengar namanya dipanggil, ia bergegas mendekati Tuan Haris.
"Kenalkan ini Tuan Brandon. Dia pemilik beberapa hotel dan tempat hiburan di Eropa. Dia yang akan membantu mengelola dan merombak perusahaan pamanmu yang kolaps itu." Terang Tuan Haris.
"Dipo keterlaluan memang! Tapi aku yakin setelah di tangan Tuan Haris, bisnis perusahaan itu pasti akan maju." Ucap Tuan Brandon.
"Ya." Jawab Arumi sambil tersenyum.
"Tapi, pilihanmu memang tepat, gadis ini cantik. Baiklah saya permisi dulu. Sampai bertemu besok malam." Ucap Tuan Brandon sambil mencium tangan Arumi dengan sopan. Arumi tersenyum.
Setelah Tuan Brandon pergi, Tuan Haris masuk ke ruangannya, diikuti Will. Arumi masih terdiam di tempatnya.
"Hei, ayo masuk!" Ajak Will sambil memberi isyarat untuk masuk.
Arumi tersadar, lalu masuk ke ruangan Tuan Haris.
"Besok acara pukul tujuh malam, aku ingin sebelum pukul enam, kamu telah siap." Perintah Tuan Haris.
"Lalu aku harus memakai pakaian yang mana?" Tanya Arumi polos.
"Will yang akan menyiapkan segala keperluanmu besok. Semuanya akan diantar ke kamarmu besok siang, lalu akan ada seorang perias yang akan membantu merias wajahmu." Terang Tuan Haris.
"Baiklah. Aku akan melakukan dengan baik semuanya." Janji Arumi.
Tuan Haris menganguk.
"Apakah kamu telah bertemu dengan putraku?" Tanya Tuan Haris.
"Putra anda?" Tanya Arumi bingung, dan menggelengkan kepalanya.
"Katamu dia ada di rumah, Will?" Tanya Tuan Haris pada Will.
"Tadi saya berpapasan saat kemari. Dia naik ke atas menuju ruangannya." Ucap Will.
"Kamarnya, di seberang kamarmu. Jika dia mengganggumu, katakan saja padaku." Pesan Tuan Haris.
"Oya, ini ponsel baru untuk Nyonya." Ucap Will, sambil menyerahkan ponsel keluaran terbaru.
Arumi menerima ponsel itu, lalu mengutak-atik mencobanya.
"Sudah ada nomor penting yang dapat Nyonya hubungi." Lanjut Will.
"Terima kasih." Jawab Arumi.
"Baik, tugasmu telah selesai Will, kamu bisa pulang. Salam untuk Nenekmu!" Ucap Tuan Haris sambil tersenyum.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi." Ucap Will dengan sopan, lalu ia keluar sambil menutup pintu ruangan itu.
Meninggalkan Arumi, hanya berdua dengan Tuan Haris.