Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Terkuak


Lelaki bertubuh tegap berusia sekitar 30-an telah menunggu Arumi. Itu lelaki yang menjadi atasan paman Dipo.


"Apa mau mu? Kenapa kamu tidak mau membunuhku? Hah...?!" Teriak Arumi.


Lelaki itu menatap Arumi sejenak sebelum dia menghampiri dan langsung membopong tubuh kecil Arumi dengan mudah.


"Hah? Lepaskan aku...!" Teriak Arumi dengan meronta sambil memukul tubuh lelaki itu sembarangan. Ia berontak, namun lelaki itu ternyata lebih kuat dari dugaannya. Lalu dengan mudah ia terus membopong Arumi hingga masuk ke dalam kamar, tempat pertama tadi.


Lelaki itu melempar tubuh Arumi dengan mudah ke atas kasur empuk itu.


"Aduh..!" Desis Arumi, lalu ia berlari menuju pintu. Namun, sebelum sampai ke pintu lelaki itu menangkapnya dan menaruh dengan mudah kembali ke atas ranjang, lalu mengunci dengan lengan kekarnya.


"Apa mau mu, hah? Kamu mau menikmati tubuhku?" Ucap Arumi sambil memicingkan matanya, dengan menggoda, namun seakan menyindir lelaki itu.


Lelaki itu menyeringai lalu mendekatkan kepalanya hendak mencium Arumi. Arumi pasrah dan memejamkan matanya. Namun, ia tak merasakan sentuhan apapun, lalu ia membuka matanya perlahan dan melihat lelaki itu tersenyum.


"Aku bukan lelaki cabul seperti itu!" Tutur Lelaki ia, lalu ia duduk di sofa yang ada di kamar itu.


Arumi menatap lelaki itu dan menegakkan tubuhnya, duduk di bibir ranjang berhadapan dengan lelaki itu.


"Namaku Dom.Haris dan Marco adalah musuhku. Marco yang telah membunuh dan menghancurkan bisnis keluargaku. Lalu Haris adalah otak dan dalang, dan Dipo adalah algojonya. Aku tak menyangka, Dipo akhirnya masuk dalam Bisnisku, dan terjebak di dalamnya." Ucap Dom masih menatap Arumi.


"Adikku kini bersama Haris, dan menjadi anak buahnya. Haris begitu pandai memainkan strategi. Berlagak layaknya penolong bak malaikat, padahal sesungguhnya dialah otak dan dalang semuanya. Yang dia inginkan adalah kekayaan, kejayaan, dan penghormatan. Kamu tahu, yang melakukan penyerangan pada keluarga Dipo adalah Marco, sebagai balas dendam urusan bisnis mereka.


Aku memang sengaja menyuruh Dipo menggagalkan bisnis Marco dengan salah satu mafia, dan mengalihkan padaku, Dipo sebagai tamengku. Lalu Marco meminta anak buahnya menghabiskan seluruh keluarganya, termasuk membunuh istri dan putrinya. Dan putranya kini terjebak dalam pusaran bisnis Haris.


Tapi itu urusan yang lain dengan Dipo." Dom menghela napas sejenak.


"Haris hari ini melangsungkan pernikahan dengan Viona, putri Marco. Aku yakin, mereka berdua kini sedang membangun kerajaan bisnis dan kekuasaan mereka. Mereka benar-benar monster yang sesungguhnya."


"Putra Dipo? Thomas maksudmu? Putri Dipo? Gisel? Anak buah Tuan Haris? Will?" Kepala Arumi penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Dom.


Namun, mendengar kata pernikahan Tuan Haris dan Viona, membuyarkan rangkaian pertanyaan yang akan terlontar dari mulut Arumi.


"Pernikahan?" Tanya Arumi.


"Ya." Dom mengambil ponsel dari sakunya dan menyodorkan pada Arumi.


Arumi menerima ponsel itu, dan melihat sebuah video yang diunggah pada Youtube. Berita pernikahan Tuan Haris yang ketiga bersama Viona. Setelah kematian istrinya, Arumi.


Dalam video itu tak terlihat Leon, Gisel, dan Thomas. Yang terlihat hanya Nina dan Dito.


Tapi setelah melihat video dengan seksama, tampak semuanya, namun mereka hanya hadir di kejauhan. Mendengar semua cerita Dom, Arumi menjadi khawatir dengan keselamatan Gisel dan Thomas.


"Lalu bagaimana dengan orang tuaku? Apa kamu mengetahuinya?" Tanya Arumi, sambil mengembalikan ponsel Dom.


"Aku tak begitu mengetahui penyebabnya. Namun, aku rasa Papamu menemukan hal baru yang membuat para pejabat kota yang jahat itu tak ingin ketahuan." Jawab Dom dengan tenang.


"Anak anak Dipo saat ini ada di kediaman Tuan Haris. Dan apakah adikmu adalah Will?" Tanya Arumi penuh selidik.


Dom menatap Arumi tanpa ekspresi, lalu ia menerawang melayangkan pandangannya ke arah luar.


"Ya. Will adikku. Ironis sekali aku tak dapat menolongnya. Kini, dia masuk dalam lingkaran Haris, bahkan penjadi abdi paling setianya."


"Bagaimana bisa kamu selamat dan terpisah dengan Will?"


"Malam itu, keluargaku. Semuanya, diserang oleh sekelompok orang, Will yang saat itu bersama Mamaku, langsung disuruh bersembunyi. Dan Mama telah diperlakukan tidak baik hingga dibunuh dengan sadis di depan mata adikku.


Saat itu Papa melindungi tubuhku dari tembakan orang orang itu. Aku sempat terkena peluru, namun tidak fatal. Namun, aku pingsan setelah itu, dan bersimbah darah milik papaku. Mungkin mereka mengira aku telah mati." Dom menghela napas sejenak mengambil jeda.


"Aku diselamatkan oleh orang baik sebelum Haris tiba, dan Will ditemukan oleh Haris yang saat itu sengaja mengecek hasil kerja anak buahnya setelah itu. Kini Will menjadi orang kepercayaannya, aku tak tahu apa maksudnya. Sebagai bentuk permintaan maaf, atau ia akan menggunakan Will untuk kepentingannya sendiri seperti dulu, dia memanfaatkan Dipo."


Dom tertawa mendengar pertanyaan Arumi.


"Aku ingin menikmati keindahan tubuh Nina, lalu aku perlihatkan langsung pada Marco, supaya dia tahu, bagaimana rasanya sakit kehilangan keluarga." Ucap Dom dengan penuh penekanan. Arumi dapat merasakan rasa sakit yang tertoreh dalam diri Dom saat ini.


Arumi menatap Dom sesaat, lalu mendekat ke arah lelaki itu.


Arumi menghampiri Dom, lalu tubuhnya mendekat.


"Tapi, dia telah bersama Thomas, putra Dipo." Ucap Arumi sambil berbisik.


"Aku tahu. Tapi, kini aku sadar, setelah kejadian salah tangkap. Kamu ternyata lebih berharga dari Nina." Balas Dom.


Arumi langsung membulatkan matanya dan menatap tajam ke arah Dom.


"Aku ingin kamu membantuku menghancurkan bisnis Haris dan Marco."


"Caranya?"


"Jika, kamu muncul kembali, bukankah itu akan menjadi sebuah kejutan bagi mereka. Dan reputasi Haris akan tercoreng setelah itu. Lalu semua skandalnya akan terungkap." Dom memaparkan rencananya.


"Dom, aku tak tahu, aku bisa mengerjakan ini semua atau tidak. Aku hanya ingin saudaraku dapat selamat, dan tidak terjebak. Dan aku pun tidak tahu, ini adalah kebaikanmu atau bukan." Sahut Arumi.


Dom menatap Arumi lekat lekat, lalu ia berdiri hendak pergi, tiba tiba Arumi meraih tangan Dom. Dom menoleh ke arah Arumi.


"Aku akan membantumu." Ucap Arumi.


Dom langsung menarik tubuh Arumi. "Bersihkan tubuhmu, bau air laut semua!" Ucap Dom sambil menggelengkan kepalanya.


Arumi hanya meringis, sambil berlalu meninggalkan Dom menuju kamar mandi.


Dom yang masih dalam kamar itu menoleh ke arah kamar mandi. Ia pernah sekali melihat aksi Arumi di klub milik madam Fey, yang membuatnya juga tertarik dengan gadis itu.


Siluet tubuh telanjang Arumi dalam kamar mandi membuat jantung Dom berdesir. Ia menelan ludahnya sendiri, lalu berdiri menghampiri ruang itu.


Terdengar kucuran air shower mengguyur tubuh di dalam kamar mandi. Dom berdiri di depan pintu.


Terdengar suara kran ditutup, dan pintu digeser membuka.


"Astaga, Dom! Kamu ngapain di sini?" Teriak Arumi kaget.


"A-aku..." Dom tergagap saat melihat tubuh Arumi hanya ditutupi handuk dengan rambut basah.


"Aku bukan Nina, Dom. Menyingkir lah!" Ucap Arumi yang melenggang cuek di depan Dom.


Arumi membuka lemari yang ada dalam ruangan itu, dan tertegun saat melihat isinya. Hanya lingerie dan pakaian seksi aneka model yang sering dipakai dalam permainan orang dewasa. Arumi menghela napas dalam-dalam, lalu melihat ke arah Dom.


"Apa tidak ada model pakaian lain di sini, yang dapat aku kenakan?"


Dom hanya menyeringai lebar menatap Arumi.


"Kamu mengatakan bukan pria cabul, tapi isi lemarimu seperti ini! Huh!" Gerutu Arumi ambil mengomel.


Arumi masih memilih pakaian yang dapat ia kenakan. Akhirnya dia menemukan sebuah pakaian tank top dan celana hotpants. Ia kembali menuju ke kamar mandi, dan tak lama keluar telah mengenakan pakaian.


Dom mendekati Arumi dan mendorongnya ke tembok.


"Selama menjadi istri Haris, apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Dom sambil mengunci tubuh Arumi dengan tangannya.