
Dom mendekati Arumi dan mendorongnya ke tembok.
"Selama menjadi istri Haris, apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Dom sambil mengunci tubuh Arumi dengan tangannya. Napasnya masih dengan tenang, namun tatapan matanya bagai elang yang siap menangkap ikan di sungai sebagai mangsanya.
Sejujurnya Arumi gentar, namun kini dia sudah merasa terbuang. Mulai dari kehilangan orang tuanya, bibinya, lalu kini dia berada dalam kungkungan pria yang bukan baik baik, dan suaminya telah menganggap dia mati, kini menikah dengan kekasihnya.
"Astaga.... Apakah aku harus menyerah? Apakah aku harus menuruti semua maunya? Apa yang harus aku lakukan saat ini? Baiklah tarik napas... hembuskan! Aku harus tetap tenang, karena aku tidak tahu pria di depan ini seperti apa? Aku tidak mau terjebak seperti dengan Tuan Haris!" Ucap Arumi dalam hatinya.
"Apa mau mu?" Ucap Arumi tertahan.
Dom mendekatkan kepalanya mendekati wajah Arumi. Aroma shampo dan sabun tercium harum dari tubuh gadis itu, sejujurnya menggoda Dom, namun, dia tidak akan pernah tidur dengan wanita yang tak jelas. Apalagi obsesinya terhadap Nina membuatnya selalu menjadi pria pemilih.
Wajah Dom yang terlihat tegas, dengan jambang berantakan, lalu memiliki dada bidang dengan perut kotak kotak, meski tubuh besar, namun terlihat atletis dan seksi. Arumi hanya dapat menelan ludah melihat Dom yang terlihat seksi saat mengunci tubuhnya. Namun, otaknya segera bekerja dengan cepat, ia tak mengetahui siapa sebenarnya Dom, ia baik atau jahat padanya. Arumi harus mengatur strategi supaya dapat keluar dengan selamat dari tempat itu.
Napas Dom terasa mengenai kulit wajah Arumi, membuat gadis itu merinding disko. Arumi lantas mendorong tubuh Dom sebagai isyarat penolakan.
"Jangan jual mahal seperti itu! Lihatlah, aku jauh lebih baik daripada Haris! Dan juga lebih tampan, bukan?" Seringai Dom.
Arumi memasang tampang galak dan menggelengkan kepalanya.
"Jika kau menginginkan Nina, aku akan membantumu. Tapi, aku ingin kita dapat bekerja sama." Ucap Arumi, yang seketika membuat Dom mengerutkan kening menatap gadis di depannya tak percaya.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Tanya Dom.
"Aku mengenal Nina, semoga dia belum berubah sejauh ini." Ucap Arumi sambil berjalan menuju ke arah jendela.
Ia melayangkan pandangannya ke arah luar, pantai dan lautan lepas, serta ombak yang bergulung gulung berkejaran menyapu pasir. Arumi menghela napas sejenak lalu menatap Dom.
TOK.. TOK...
"Masuk!" Ucap Dom.
Pintu dibuka dari arah luar, terlihat anak buah Dom berdiri di ambang pintu.
"Bibi Anda datang Tuan." Ucapnya.
"Suruh dia menunggu. Awasi dia!" Instruksi Dom sambil melirik ke arah Arumi, lalu pergi meninggalkan kamar itu.
Pintu tertutup, Arumi yakin, anak buah Dom pasti berdiri di luar pintu menjaganya supaya tidak kabur. Ia pun melihat beberapa orang berjaga tepat di bawah jendelanya saat ini, setelah kejadian ia melarikan diri tadi.
Arumi menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang empuk itu. Iya merasakan ngilu dari lengan dan kakinya, ia melihat ke tangannya. Membiru, bekas ikatan kemarin, yang mulai membekas. Kakinya pun lecet lecet. Arumi hanya bisa meringis menahan nyeri.
Ia memejamkan matanya, berharap tubuhnya akan lebih baik setelahnya. Arumi menaruh tangannya di belakang kepala dan menatap langit-langit kamar yang bercat putih itu.
Sayup sayup terdengar suara musik terdengar dari arah luar, Arumi mencoba untuk mengabaikan dan menikmati suara alunan musik itu sebagai pengantar tidurnya.
****
"Dom, apa apaan ini? Klub malam ku itu spesialis hiburan penari berkelas, bukan penari erotis seperti ini. Langsung menonjolkan bagian bagian seperti itu. Nggak kelas sama klubku yang papan atas!" Ucap wanita paruh baya itu sambil geleng-geleng kepala.
"Bibi, penari seperti apa yang kamu mau? Seolah semua gadis gadis terbaik yang aku sodorkan selalu Bibi tolak dengan alasan tidak berkelas. Lalu penari seperti apa yang berkelas itu? Selama dua bulan ini seolah stok penari Bibi berkurang drastis." Tanya Dom sambil menghampiri Bibinya.
"Ada klub baru milik Haris beroperasi beberapa hari lalu. Soft opening, tapi konsep dan segala macamnya meniru tempatku. Belum lagi dia memiliki sebuah restoran papan atas, yang membuat tamu tamu di sana terpilah sendiri."
"Persaingan bisnis, rupanya." Dom hanya manggut-manggut mengerti letak permasalahan bibi tercintanya itu.
"Lalu para penari ini bagaimana?" Tanya Dom.
"Ya sudah. Kamu pakai saja dulu untuk klubmu. Nanti saat aku akan kembali, akan aku pikirkan lagi. Aku ingin berlibur sejenak di sini. Menikmati indahnya alam di sini. Sayang, Broto harus mengawasi bisnis di sana, tidak bisa ikut ke mari."
Dom mengambil sebotol minuman dari bar mini yang ada di sudut ruangan itu, lalu mengambil gelas.
"Mau minuman apa, Bibi?"
"Terserah, pokoknya yang bisa membuatku tenang saat ini."
"Terima kasih." Wanita itu menerima gelas itu, dan menyesapnya sedikit.
"Haris benar benar keterlaluan. Aku tak menyangka dia akan secepat itu berpaling dari istri kecilnya yang baik itu. Dan Viona, akhirnya menampakkan wajah aslinya juga."
"Istri kecil Haris?" Tanya Dom sambil meletakkan gelasnya dan duduk di samping Bibinya.
"Iya. Istri Haris adalah seorang penari yang sangat berbakat. Dia anak yang baik. Aku tahu itu dari attitude yang dimilikinya. Sayang, usianya tidak panjang." Ucap wanita itu sambil menerawang.
Dom mengerutkan keningnya, dan mengingat Arumi yang ada di kamar atas.
"Tunggu sebentar." Ucap Dom, sambil berlalu dari hadapan bibinya menuju kamar di lantai dua.
Ia membuka pintu kamar itu dan melihat Arumi berbaring di ranjang.
Arumi terlonjak mendengar suara pintu dibuka secara kasar.
"Apa apaan sih?" Tanya Arumi dengan kesal.
"Ayo ikut!" Dom mendekati Arumi, lalu menarik pergelangan tangan gadis itu. Lebih tepatnya menarik secara paksa.
Arumi yang baru sadar dari tidurnya, hanya pasrah tubuh ditarik seperti itu oleh Dom.
"Aaauhh..!" Teriak Arumi saat Dom secara tiba tiba membopong tubuhnya menuruni anak tangga.
Ia mendekati Bibinya dan menurunkan gadis itu, yang sontak membuat Bibinya terkejut sambil membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya di hadapannya saat itu.
"ARUMI...?!"
"Madam Fey..?!"
Kedua saling berpelukan sejenak. Dom gantian yang terhenyak terkejut kali ini.
"Dom, bagaimana bisa?" Tanya Madam Fey setelah melepas pelukannya dari Arumi.
"Ceritanya panjang, Bibi. Aku juga tidak tahu dia akan aku gunakan sebagai apa?"
"Dom, kali ini tindakanmu ada benarnya." Ucap Madam Fey sambil memegang pipi keponakannya itu.
"Madam Fey? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arumi dengan rasa penasaran. Kali ini dia merasa lebih baik saat bertemu dengan Madam Fey. Meski pun dia tak sepenuhnya yakin dan percaya pada wanita itu, namun, setidaknya ada yang dia kenal. Dan. Ia akan tetap berhati-hati setelahnya, ia tak akan mudah percaya dengan siapa pun saat ini.
"Haris mengumumkan kamu meninggal dalam penyerangan setelah konser Nina. Leon tertembak dan kamu meninggal."
"Bagaimana bisa? Lalu siapa yang meninggal itu?" Tanya Arumi dengan heran.
"Saat itu pemakamanmu dilakukan secara tertutup, hanya orang terdekat saja yang diperbolehkan datang. Lalu di depan sekolah menari dipasang fotomu dan orang orang bisa memberi bunga atau apapun untuk mengenangmu. Tapi, hanya sekitar tiga hari saja, setelah itu semuanya telah bersih, dan sekolah itu jatuh ke tangan Viona. Beberapa pegawaiku yang belajar menari di sana merasa kurang nyaman dengan kepemimpinan yang sekarang. Katanya kelas menari memakai tiang dihilangkan, alasannya tidak sesuai." Cerita Madam Fey.
Arumi hanya bisa terdiam mendengar cerita Madam Fey.
"Apa rencananya selanjutnya, Madam?" Tanya Arumi dengan wajah serius.
"Aku memiliki dendam pribadi dengan Marco, lalu mungkin kamu juga dengan Haris. Bagaimana jika kita saling membantu untuk membalas mereka?" Tukas Madam Fey.
"Tapi aku perlu sedikit bantuan untuk menjalankan semua. Kita harus atur strategi dan bermain dengan cantik supaya mereka tidak curiga, dan saudara saudaraku selamat."
"Lalu Will?" Tiba tiba Dom bertanya.
"Aku punya rencana." Sahut Arumi, sambil menoleh ke arah Dom.
"Aku akan ikut bergabung membantu kalian." Ujar Dom sambil tersenyum menatap Madam Fey dan Arumi bergantian.
BERSAMBUNG....