
Arumi duduk di tepi ranjang menemani suaminya yang setengah mabuk itu.
"Aku sangat mencintaimu Viona. Kamu selalu ada di sini." Tuan Haris menunjuk dada dan kepalanya.
"Vi, jangan tinggalkan aku lagi!" Nada suara Tuan Haris memohon.
"Aku bukan Viona. Aku Arumi." Jawab Arumi.
"Viona...." Panggil Tuan Haris lirih.
"Mengapa kamu selalu meninggalkan aku, mengapa tak pernah memberi kesempatan untukku? Mengapa...?!" Suara Tuan Haris makin pelan dan dia mulai tertidur.
Arumi menatap sekeliling kamar Tuan Haris, ia penasaran. Arumi perlahan melepaskan genggaman Tuang Haris, lalu beranjak turun dari ranjang. Ia menatap sebuah foto besar dalam kamar itu. Foto keluarga, Tuan Haris, Emma, dan Leon yang terlihat lebih muda.
Tak banyak perabot dalam kamar itu. Hanya tempat tidur besar, televisi, meja rias mendiang istrinya, dan sebuah meja kecil.
Arumi membuka sebuah ruangan dalam kamar itu. Ruangan tidak seluas kamar tidur, berisi pakaian Tuan Haris dan mendiang istrinya, aneka tas dan sepatu, dan aksesoris pernak-pernik milik istrinya.
Dasi dan ikat pinggang milik Tuan Haris juga tertata rapi di sana. Arumi menatap sebuah lemari yang berisi sepatu menari dan perlengkapannya. Arumi membuka rak sepatu itu, dan mengambil sebuah sepatu balerina dari sana. Ia duduk di bangku yang ada di dekat rak itu. Mencoba mengenakan. Ukurannya 38, sama persis dengan ukuran kakinya. Ia mencoba menggunakan sepatu itu, bergerak, berputar, dan melompat di ruangan itu.
Arumi menatap dirinya pada cermin yang ada di sudut ruangan.
"Jika mencintai Viona, mengapa menikahi Emma?" Gumam Arumi.
Arumi melirik jam tangannya, sudah pukul dua dini hari. Ia melepas sepatu itu dan menaruh kembali ke rak itu. Bergegas keluar dari ruang walk-in closet itu.
Arumi menoleh ke ranjang Tuan Haris telah terlelap. Lalu ia membuka pintu kamar dan meninggalkan kamar itu. Ia menghela napas lega setelah berada di luar kamar Tuan Haris.
Sekali lagi ia menatap foto yang dipajang di dekat kamar kerja Tuan Haris, foto Tuan Haris dan istrinya. Menatap kembali Mama Leon penuh simpati.
Arumi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tiba tiba Leon mendorong pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar Arumi.
"Leon, kamu mengejutkanku!" Ucap Arumi terkejut.
"Dengan pakaian seperti ini, pantas saja papaku mengurungmu seusai pesta." Ucapnya sinis sambil menatap Arumi dari ujung rambut hingga kaki.
"Aku hanya menemani papamu. Tadi dia mabuk, jadi aku membantunya sebentar."
"Sebentar..?!" Tanyanya.
Arumi mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Kalian pulang sejak pukul sebelas, dan kamu baru keluar dari sana pukul dua. Selama itu, hah..?" Leon mendengus dengan kesal.
Arumi terkikik geli. Ia menyadari bahwa, Leon cemburu.
"Kamu cemburu padaku?" Tanya Arumi sambil mengerling manja. Ia mendekati Leon.
Leon masih memasang muka cemberut.
"Kamu cemburu?" Ulang Arumi menggelayut manja pada Leon.
Leon melirik ke arah Arumi.
"Bagaimana aku tak cemburu? Setiap pulang pesta kamu selalu ditarik masuk ke sana. Kalian selalu melakukan itu!"
"Entahlah. Papamu sedang sibuk dengan pekerjaannya, ditambah kamu akan pergi ke luar negeri." Tatap Arumi.
"Astaga.... Besok jadwal tibanya Thomas. Aku belum memeriksa jadwalku untuk menjemputnya!" Arumi menepuk dahinya, merutuki lupanya.
"Pukul berapa jadwalnya?" Tanya Leon.
"Sebentar, aku periksa pesan yang dikirimkan oleh Thomas." Arumi membuka ponselnya, hendak mencari jadwal penerbangan yang dikirimkan Thomas.
Leon mengambil ponsel Arumi, lalu ia meletakkan di nakas. Memegang pinggul ibu tirinya itu tanpa ragu, lalu satu tangannya menelusuri wajah Arumi.
Arumi hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Sebenarnya ini bukan kali pertama Leon melakukan, tapi entah kali ini agak berbeda.
Bibir mereka saling bertautan, dan kini mereka telah berada di atas ranjang Arumi.
***
Arumi membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Tangannya mencari sosok di sampingnya, tapi Leon sudah pergi meninggalkannya. Arumi menggeliat meregangkan tubuhnya. Lalu beranjak dari tempat tidurnya.
Arumi memeriksa jadwal hari itu, kegiatan dimulai dari pukul sepuluh, untuk mengurus surat pendaftaran sekolah Leon. Lalu meeting setelah makan siang. Jadwal kedatangan Thomas sore. Sedangkan Arumi ada jadwal kelas untuk pagelaran seni. Arumi terdiam menatap ponselnya.
Ting....
"Ya, Gisel! Aku akan minta tolong dia menjemput Thomas di bandara." Gumam Arumi.
Ia lalu segera mandi dan bersiap untuk mengurus urusan sekolah Leon.
Selesai mandi, ia turun menuju halaman belakang, di sana Gisel sedang berenang bersama Bela dan Andin.
"Hai Rumi..!" Sapa Andin dan Bela.
"Hai juga. Selamat menikmati liburan kalian ya." Balas Arumi, karena mereka telah menyelesaikan ujian kelulusan.
"Bagaimana adikmu, Ndin?" Tanya Arumi.
"Dia semakin membaik. Terima kasih telah membantuku, kemarin. Oya, terima kasih juga atas ajaranmu malam itu. Sepertinya Madam Fey berencana mengikutkan beberapa gadisnya untuk kelas tarimu." Sahut Andin.
Arumi tertawa menanggapinya.
"Oya, Gisel, nanti aku minta tolong jemput Thomas. Karena aku ada jadwal kelas hari ini. Aku lupa mengosongkan jadwal. Kelas ini untuk pergelaran seni." Pinta Arumi pada Gisel.
"Baiklah."
"Kamu bisa minta tolong sopirku untuk mengantar." Arumi menawari.
Gisel menganguk mengerti.
***
Gisel bersiap hendak menjemput kakaknya. Ia telah ijin kepada Adam. Gisel membawa tas ransel kecilnya. Ia mengenakan celana jeans dan kaos oblong, dipadu dengan sepatu kets. Dandanan kasual sederhana, tapi nyaman menurutnya.
Will menghampirinya setelah selesai tugasnya dengan Tuan Haris hari itu.
"Mau kemana?"
"Aku mau menjemput kakakku."
"Dia pulang hari ini?"
"Ya."
"Mau aku antar? Kebetulan aku telah selesai. Dan sepertinya Tuan Haris tidak memerlukan diriku lagi." Will menawarkan dirinya.
"Sungguh?"
"Aku tak menawarimu dua kali ya. Jika mau, ayo segera berangkat." Ajak Will.
Gisel tersenyum gembira, lalu mengikuti langkah Will menuju mobilnya.
Mereka segera meninggalkan kediaman Tuan Haris untuk menjemput Thomas.
"Aku sangat senang, akhirnya Thomas kembali lagi. Aku telah lama tidak mengobrol bersamanya." Cerocos Gisel.
"Dari dulu, Thomas lebih dekat dengan Arumi. Aku sering cemburu padanya. Tapi setelah dipikir pikir, ngapain juga aku cemburu. Kami bersaudara, dan kini sama sama kehilangan orang tua. Terkadang aku merasa malu pada Arumi." Lanjut Gisel sambil menoleh ke arah Will.
Will hanya melirik sekilas.
"Ya. Kalian tidak perlu bermusuhan. Tuan Haris telah berbaik hati menerimamu dan kakakmu tinggal di rumahnya." Sahut Will.
"Ya. Itu juga berkat permintaan dari Arumi." Ucap Gisel.
Ia mengernyitkan dahinya saat melihat mobil Andra di tepi jalan.
"Will.. itu sepertinya mobil Andra." Gisel menunjuk ke sebuah mobil yang berhenti.
Will menghentikan mobilnya dan mereka segera turun menuju ke arah mobil milik Andra. Namun, mobil itu kosong. Dan terlihat bemper belakang penyok tertabrak.
"Will, lihat! Itu Andra!" Pekik Gisel menunjuk ke arah pinggir jalan.