Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Siapa mereka?


Para penari masih melaksanakan aksi mereka dengan menunjukkan kelihaian menari pada tiang besi yang ada di tengah klub. Arumi yang telah selesai tugasnya, segera berlalu dari atas panggung.


Beberapa pria mendekat ke arah panggung dan menyelipkan lembaran uang pada penari yang disukai.


Mata Leon menangkap sosok penari yang mirip Arumi melenggang masuk ke ruang di belakang panggung. Ia terus menatap ke arah itu, berharap wanita itu akan keluar lagi atau dapat bertemu di tengah kerumunan.


Sementara itu, di belakang panggung, Arumi meneguk habis air dalam botol minumnya yang tinggal separo itu. Ia melepas topengnya, dan aksesoris pelengkap yang ada di rambut dan wajahnya. Menghapus make up pada wajahnya, lalu mengganti pakaiannya dengan kaos biasa dan celana jeans, lalu mengenakan jaket dengan hoodie.


Malam itu ia ingin sekali mengunjungi suatu tempat yang telah lama ia rindukan. Ia merindukan rumahnya yang telah habis terbakar dahulu. Yang kemarin dia melihat ada tenda di lahan tempat tinggalnya itu. Arumi penasaran, siapa yang tinggal di sana.


Arumi keluar dari pintu belakang, dan masuk ke mobilnya, lalu ia melaju dalam kegelapan malam. Suara dentuman musik dan hingar bingar mulai terdengar lirih dan menghilang suaranya, Arumi mulai memasuki perkotaan, menuju ke arah tempat tinggalnya.


Sesampainya, di reruntuhan kediamannya, Arumi sangat terkejut, karena ternyata tidak hanya satu tenda yang ada di sana, namun ada hampir sepuluh tenda telah dibangun di atas lahannya.


Arumi menepikan mobil dan memarkirnya di depan sebuah mini market yang tidak jauh dari sana letaknya. Ia masuk ke dalam mini market itu, mencari kopi kalengan, lalu membawanya ke kasir untuk membayar.


"Mbak, di sana itu tempat apa ya?" Tanya Arumi iseng sambil menunjuk lahan kediamannya.


"Oh, itu."


Arumi mengangguk, menunggu penjelasan dari si mbak kasir.


"Tempat itu menjadi tempat tinggal para korban kebakaran di lahan pusat kota, yang kini telah berubah menjadi pusat perkantoran, hiburan, apartemen, dan mall." Tutur si Mbak kasir.


"Kapan kejadiannya?" Cecar Arumi.


"Kebakarannya di lahan itu?" Jelas Arumi.


"Oh, itu sekitar satu tahun yang lalu. Jadi, waktu itu sebenarnya warga menolak rencana untuk pembangunan gedung bertingkat di area pusat kota. Mereka lebih menyukai tempat yang alami, seperti taman kota atau daerah hijau, supaya dapat mengatasi banjir. Namun, setelah mereka menggelar demo penolakan. Tiga hari kemudian terjadi kebakaran hebat di area itu. Dan kini di sana telah terbangun gedung bertingkat, yang berisi apartemen, perkantoran, dan mall, ada juga tempat hiburan di sana. Kebanyakan pemilik tempat itu adalah orang asing, dan para petinggi kota ini, Mbak." Cerita si mbak kasir tadi.


"Ini kembaliannya." Ucap mbak kasir, sambil menyerahkan kembalian dan struk.


"Buat Mbak saja kembaliannya." Jawab Arumi.


Mbak kasir terdiam sejenak, mengetahui, jumlahlah banyak, karena Arumi menyerahkan lembaran ratusan ribu, sedangkan dia cuma membeli sekaleng kopi kemasan siap saji.


"Tapi.."


"Sudah. Ga apa apa." Ucap Arumi sambil tersenyum.


"Terima kasih, Mbak." Mbak kasir tersenyum dengan tulus, sambil menitikkan air mata.


"Loh, Mbak, kok nangis?" Tanya Arumi sambil menatap kasir tadi.


"Keluarga saya juga korban kebakaran itu, Mbak. Kini kami kehilangan semuanya. Bapak saya akhirnya jatuh sakit karena stres kehilangan tempat tinggal dan toko penghidupan kami. Ibu bekerja juga menjadi buruh cuci dan setrika. Saya pernah bekerja di klub Tuan Haris, namun saya tidak betah. Saya bukan wanita seperti itu, Mbak. Saya melamar kerja sebagai pelayan, namun ditempatkan pada deretan gadis pilihan. Gisel yang akhirnya menggantikan saya, dan dia juga mengijinkan keluarga saya untuk tinggal di rumahnya dahulu. Kak Thomas, juga mengijinkan keluarga saya dan tiga gadis lain untuk menempati rumah mereka yang kosong." Kasir tadi menceritakan tentang kehidupannya.


Arumi menepuk punggung tangan kasir tadi dan tersenyum.


"Saya boleh nitip mobil di depan. Saya mau jalan jalan bentar. Soalnya sudah lama tidak pulang ke kota ini."


"Oh, silahkan saja, Mbak. Saya malah senang. Kesannya jadi ramai. Kan, ini buka 24 jam." Jawabnya.


Arumi mengangguk, lalu berlalu dari mini market itu, menuju halaman lahannya.


Arumi menyusuri jalanan di depan pagar rumahnya, lalu ia masuk melewati gerbang lahan kediamannya. Ada bangunan yang tersisa belum terbakar, dimanfaatkan sebagai kamar. Lalu kamar mandi yang hanya atapnya hilang, menjadi kamar mandi umum bagi mereka. Sumur bor, yang menjadi sumber air, mereka gunakan bersama sama.


Arumi menghela napas sejenak saat berkeliling melihat-lihat area itu.


Terdengar suara bayi menangis, Arumi mengintip. Seorang wanita masih muda berusaha menenangkan bayi itu dengan menimang dan menyusuinya, lalu bayi itu terlihat tenang.


"Mbak, mau mencari siapa? Atau mau mencari tempat tinggal?" Tanya pria paruh baya itu.


"Oh, saya hanya melihat lihat, Pak. Karena saya sudah lama tidak pulang ke kota ini. Kenapa bisa jadi seperti ini? Lalu bukan kah, ini dulu rumah besar milik pengusaha..." Arumi berpura-pura seakan lupa.


"Ya, ini kediaman Tuan Barra." Jawab pria tadi sambil tersenyum.


"Lalu mengapa jadi seperti ini?" Arumi menunjuk tempat dari ujung ke ujung.


"Ya, satu tahun yang lalu ada kebakaran lahan besar besaran. Akibat penolakan kami akan rencana pembangunan gedung bertingkat itu. Itu membuat kami orang orang biasa, menjadi tersingkir. Kami sangat yakin semua itu disengaja, tapi, kami tak ada bukti. Dan kami kehilangan rumah kami, harta benda kami. Kami ingin keadilan, tapi, kami sudah tak punya apa apa lagi untuk meminta hak kami, karena semua sudah ludes dilahap api!" Tutur pria itu dengan penuh emosi.


"Saya turut prihatin, Pak."


"Mbak, mau mampir ke tempat saya?"


"Boleh, yang mana, Pak?"


Pria tadi membimbing Arumi ke sebuah tenda paling ujung. Dia ingat, dulu itu adalah gudang di halaman belakang rumahnya. Tempat dia biasa menaruh apapun yang sudah tak terpakai. Gudang itu dulu selamat dari kebakaran, layaknya terpisah dari rumah utama. Kini, gudang itu tersekat menjadi dua tempat. Salah satunya tempat tinggal pria tadi bersama keluarganya.


Arumi melihat sepeda miliknya saat masih kecil diletakkan di sudut sebuah tenda.


Arumi berkenalan dengan keluarga pria tadi dan tetangga pria tadi. Mereka sangat ramah dan menyambut kehadiran Arumi dengan suka cita.


Dari pertemuan itu, Arumi menyadari, jika semua itu adalah ulang orang orang penting kota itu, yang haus akan uang. Termasuk Tuan Haris, Tuan Marco, dan petinggi kota lainnya.


Dari cerita mereka, Arumi mengetahui, bahwa, Tuan Haris dan Viona juga merekrut gadis gadis belia untuk bekerja di klub. Mereka mencari gadis belia yang masih perawan untuk dijual dengan harga tinggi.


Hari telah larut malam, akhirnya Arumi pamit. Mereka menawari Arumi untuk menginap, namun Arumi beralasan menginap di dekat daerah itu.


Arumi meninggalkan area itu, bergegas menuju mini market, tempat mobilnya diparkir.


Arumi merasa ada seseorang mengikutinya. Ia mempercepat langkahnya, menuju ke mini market itu. Lalu tiba-tiba, seseorang menarik lengannya, secepat kilat, Arumi menepis dan membalikkan tubuhnya, dan menyerang balik orang itu.


"Auuhh, aduh!" Teriak orang tadi, tak menyangka, Arumi akan balas menyerang dan melawan.


"Apa mau mu?" Tatap Arumi tajam.


"Tolong, ikut denganku, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Tenang saja, kami bukan orang jahat." Sahut pria itu dengan tenang, meyakinkan Arumi.


Arumi bergeming, ia tetap waspada.


Sebuah mobil sedan hitam menghampiri mereka. Pintu mobil dibuka.


"Masuklah, Rumi! Aku ingin bicara sebentar denganmu." Ucap sosok pria yang duduk di jok belakang.


Arumi terkejut, mendengar pria itu mengetahui namanya. Ia tak yakin orang orang itu bukan orang jahat. Ia tak mempercayai siapapun di kota itu saat ini.


Arumi bersiap ancang-ancang untuk melarikan diri, jarak ke mini market, tinggal beberapa belas meter lagi, namun, terlihat sepi. Sedang jika dia lari ke kediamannya tadi, jaraknya lebih jauh, tapi di sana banyak orang.


"Duh pilihan yang sulit!" Batin Arumi.


Lalu ia memutuskan untuk berlari ke arah mini market, setidaknya, terlihat beberapa pembeli di dalam sana, dia bisa minta tolong, jika tak bisa melawan semua orang dalam mobil itu.


Arumi akhirnya menabrak tubuh pria yang menangkapnya tadi, lalu dia berlari dengan cepat menuju mini market tadi, dan langsung masuk ke dalamnya. Mobil tadi sempat berhenti di depan mini market, sebelum pergi berlalu.


"Siapa orang orang itu?" Gumam Arumi sambil berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.