
Siang itu, Arumi mulai memulai latihan kembali. Ia merasa kakinya telah lebih baik. Ia mulai berjinjit dan melangkah seperti gerakan balerina.
Tuan Haris akhirnya mengijinkan ruangan yang di dekat kolam renang itu, tempat berlatih menari istrinya dulu, digunakan oleh Arumi untuk berlatih.
Arumi memanggil terapis pijat itu kembali untuk memeriksa keadaan kakinya.
Arumi memutar musik klasik untuk berlatih dasar tariannya. Ia menghabiskan satu lagu untuk melemaskan otot-otot kaki dan tubuhnya setelah hampir satu minggu tidak menari.
Plok...plok... Plok...
Suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu ruangan. Ternyata sang terapis itu telah datang.
"Tarianmu sangat keren!" Pujinya sambil menatap kagum ke arah Arumi.
"Aku rasa Tuan Haris memilihmu, bukan asal asalan. Kamu putri Bara, bukan?" Tanyanya.
"Ya. Memangnya ada apa?" Tanya Arumi heran.
"Tuan Haris adalah pria yang sangat baik. Sangat sayang keluarga, terutama pada istrinya. Aku melihatnya sendiri selama ini. Aku telah lama ikut Keluarga ini, dan Tuan Haris memberikanku modal untuk membuka tempat untuk terapi sendiri. Itu semua berkat rekomendasi istri Tuan Haris." Ceritanya.
"Bagaimana kamu mengenal Tuan Haris dan istrinya?"
"Istri Tuan Haris adalah majikan ibuku. Sejak kecil aku tinggal dengan keluarga istri Tuan Haris. Mereka keluarga kaya di kota lain, namun setelah tragedi yang menimpa keluarganya Istri Tuan Haris tidak mau kembali lagi ke rumahnya, dan memilih bersekolah menari di luar negeri."
"Tragedi apa?"
"Keluarga istri Tuan Haris dibantai oleh perampok. Saat itu Istri Haris masih berusia 10 tahun, dan Kakaknya berusia 15 tahun sedang berlibur ke rumah nenek kakeknya di kota ini."
"Astaga..!" Arumi terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan. Rasa pedih dan pilu itu muncul kembali, seolah ia merasakan apa yang dirasakan oleh Istri Tuan Haris saat masih kecil.
"Bagaimana dengan pembantu di sana?" Tanya Arumi.
"Ibuku juga menjadi salah satu korbannya, saat itu usiaku baru 6 tahun. Ada beberapa pekerja di keluarga itu yang menjadi korban." Ucapnya sambil menerawang dengan mata berkaca-kaca.
"Aku turut berdukacita." Ucap Arumi sambil menepuk punggung tangan terapis itu.
"Apa orang tua Istri Tuan Haris punya musuh?"
"Untuk urusan itu aku tidak tau. Yang aku tau, Nyonya dan Kakaknya tinggal bersama Oma opa, untuk beberapa saat, lalu Nyonya memutuskan untuk sekolah menari, dan Kakaknya bersekolah di sekolah asrama di luar negeri juga. Sedangkan aku dan pegawai yang tersisa, akhirnya ada yang ikut ke kota ini, dan ada yang masih tinggal di sana untuk mengurus rumah itu."
"Bagaimana ia bertemu dengan Tuan Haris?"
"Keluarga Tuan Haris turun temurun tinggal dan besar di kota ini. Selain menjadi pengusaha, keluarga Tuan Haris menjadi pejabat. Tuan Haris ternyata telah jatuh cinta pada Nyonya sejak pertama kali bertemu, di kota ini. Lalu mereka terpisah, Nyonya sekolah, dan Tuan Haris sekolah. Pagelaran tari itu mempertemukan mereka kembali, setelah 6 tahun berpisah. Mereka telah remaja, bertemu, dan jatuh cinta. Kamu pasti tau lanjutan kisah itu." Cerita terapis itu berbinar.
"Aku tak pantas bersama Tuan Haris. Aku merasa malu." Arumi tertunduk.
"Dengar Nak, Tuan Haris tidak memilihmu cap cip cup. Dia mungkin telah memperhatikan dan mengawasimu selama ini. Tuan Haris adalah Ketua Dewan Kota. Ia harus punya pendamping, untuk menghindarkan dari skandal publik, dan citra buruk masyarakat. Kamu masih muda, single, nama Papamu termasuk dalam kategori Keluarga baik baik. Tuan Haris dan Papamu pasti saling mengenal."
"Jika Papaku masih ada apakah aku yang dipilihnya?"
"Aku tak tau. Sudahlah, kita tak bisa memutar kembali waktu. Jalani dan nikmati saja saat ini. Tuan Haris adalah pria baik. Kamu pasti akan behagia bersamanya." Ucap terapis itu meyakinkan Arumi.
"Kakimu sudah 99 persen pulih. Namun, harus tetap hati hati. Jangan terlalu forsir tubuhmu, karena belum terlalu pulih benar. Banyak minum susu, untuk menambah kalsium." Ucapnya, menasihati Arumi.
"Silahkan Nyonya muda."
Terapis itu pergi dari ruangan itu. Arumi termenung, memikirkan kisah sang Nyonya. Mama Leon. Mereka masih punya keluarga di sini. Arumi menjadi penasaran dengan keluarga ini.
Ia menyeka keringatnya dengan handuknya, lalu meneguk air dalam botol hingga tinggal setengah. Lalu ia keluar dari ruangan itu.
Leon menatapnya dari balkon. Arumi melambaikan tangan pada Leon, namun Leon langsung berbalik masuk ke dalam. Arumi mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia akan mencari tau.
Arumi masuk ke dalam rumah, dan naik ke lantai dua menuju kamar Leon, ia mengetuk pintunya, tak ada jawaban. Arumi mengetuk lagi, tak ada jawaban lagi, hingga kesekian kali, Arumi nekat membuka kamar Leon.
Ia melangkah masuk ke dalam kamar Leon, memperhatikan sekelilingnya. Leon termasuk anak yang rapi. Arumi mengambil buku pelajaran yang tergeletak di ranjang, ia tersenyum. Teringat jaman sekolah dulu. Masa masa indahnya, yang mungkin tak akan terulang lagi.
"Heh.. Ngapain kamu di sini?" Teriak Leon dari arah Pintu.
Detik itu juga Arumi terkejut dan berbalik.
"A-aku tidak tau, kalo ga ada orang di dalam." Elak Arumi.
"Kamu tau etika masuk kamar orang lain tidak? Kan bisa ketuk pintu!" Bentak Leon kasar.
"Aku sudah ketuk, tapi tak ada jawaban." Jawab Arumi.
"Kalo ga ada jawaban, ya artinya ga ada orang di dalam, ngapain kamu masuk?" Ucap Leon kesal.
"Aku hanya memeriksa apa kamu baik baik saja atau.."
"Atau apa? Sakit? Dengar, jika aku sakit, aku akan ke rumah sakit, dan ga perlu orang sok perhatian seperti kamu!" Ucap Leon sambil menunjuk Arumi.
"Maksudmu apa?" Tanya Arumi dengan keras.
"Jangan harap, kamu bisa menguasai rumah ini layaknya Nyonya di tempat ini! Dan jangan harap bisa menguasai harta milik keluarga kami!" Ucapnya dengan kasar sambil mendorong tubuh Arumi ke dinding kamar.
"Aku tidak seperti itu Leon. Sungguh! Aku juga tidak mau jadi istri Papamu! Dia yang memilih aku, tanya sendiri padanya!" Balas Arumi dengan kesal.
"Lalu apa yang kamu lakukan di sana?" Sambil menunjuk arah luar ke ruangan Mamanya yang terlihat dari jendela.
"Tuan Haris meminjamkannya, bukan memberikannya padaku! Supaya aku bisa leluasa berlatih, jika ada yang ingin belajar secara privat denganku. Karena aku adalah seorang guru menari. Sebenarnya ia menyuruhku di ruangan atas, namun, ruangan itu kecil." Jawab Arumi menatap tajam ke arah Leon.
"Lalu kamu masih bekerja di sekolah itu?"
"Ya, masih. Namun, jadwalku harus menyesuaikan dengan jadwal Papamu, yang kini telah menjadi Ketua dewan kota." Jawab Arumi.
Mata Leon tidak segarang tadi, dan mimik wajahnya tidak galak lagi.
Ia menatap Arumi dalam dalam. Dada Arumi berdebar kencang saat melihat tatapan Leon. Entahlah, wajah Leon selalu menari nari di kepalanya. Terlebih saat ia melakukan hubungan dengan Tuan Haris, yang ada di bayangan Arumi adalah wajah Leon. Arumi menyukai pemuda itu.
Leon mendekatkan tubuhnya ke arah Arumi, dekat.. dekat... Sangat dekat, membuat Arumi makin salah tingkah, ia hanya memejamkan matanya pasrah.
"Ada daun kering di rambutmu." Ucap Leon sambil menunjukkan selembar daun kering di tangannya. Lalu mundur menjauh, memberi ruang untuk Arumi.
"Ya sudah, aku akan keluar saja, jangan lupa turun untuk makan di bawah." Arumi mengingatkan.