Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Thomas dan Nina


Thomas keluar dari ruang kantor Tuan Haris dengan bersemangat. Ini adalah pekerjaan pertama setelah usai belajar. Untuk membuktikan dia layak atau tidak menangani sebuah projek. Kali ini dia diminta oleh Tuan Haris merombak beberapa ruko kosong miliknya, untuk dijadikan sebuah restoran, dan di dalamnya akan ada tempat hiburan malamnya.


Ia dipertemukan dengan beberapa bawahan Tuan Haris, yang akan menjadi satu team dengannya untuk projek kali ini. Thomas sangat bersemangat dalam meeting kali ini, berbagai ide ide segar terlontar darinya, yang membuat Tuan Haris manggut-manggut sambil tersenyum.


Meski bukan sebagai kepala projek, Thomas sangat senang dilibatkan sebagai bagian dalam pekerjaan ini. Sebagai pengalaman pertamanya.


Setelah meeting dan cek lokasi, dan diskusi untuk rencana projek, Thomas kembali ke kantor. Ia menulis kembali rencana dan hasil pengecekan tadi. Ia berkutat di depan layar monitornya.


Setelah hampir dua jam menatap layar, Thomas mengalihkan pandangannya ke luar, dari jendela kaca kantor. Saat ini ia berada di lantai 20. Dia melihat sebuah papan reklame dengan wajah Nina di sana, sebuah produk brand kecantikan terpampang di sana. Thomas tersenyum melihatnya.


Ia teringat pertemuan pertama mereka dahulu saat di bandara. Nina menabrak, dan ponselnya terjatuh. Wajah ceria gadis itu selalu terbayang matanya. Ia tak menyangka, kehidupan sebenarnya ternyata sangat berat bagi Nina. Harus bersandiwara memiliki keluarga yang bahagia. Senang dan bangga memiliki orang tua yang terkenal. Namun, semua adalah semu. Dan idolanya, sang vokalis band internasional itu, ternyata selama ini menjadi Ayah yang buruk bagi anak anaknya. Sejenak Thomas menghela napas. Lalu membereskan meja kerjanya, untuk bersiap pulang.


Thomas keluar dari ruang kantornya, menuju lift. Langit tampak jingga menandakan sudah sore. Saat ia memencet tombol, ia bertemu beberapa karyawan juga di sana yang hendak pulang.


Lift terbuka, mereka masuk dan turun ke lantai tujuan masing masing.


Thomas menuju lantai bawah. Mobilnya terparkir di area parkir basemen. Ia berjalan ke mobilnya, membuka pintunya, lalu mengemudikan kembali ke kediaman Tuan Haris.


Thomas memarkir di garasi luar, supaya memudahkannya jika akan pergi lagi. Ia menuju kamarnya, dan matanya tertuju di sisi kolam renang.


Kolam renang diubah menjadi seperti tempat bermain, lalu di tepinya terdapat kursi, disusun seperti untuk sebuah acara. Asisten Nina menata tempat itu, dan memajang beberapa produk di sana. Lalu Nina keluar dari kamar di dekat ruang kerja Arumi, sambil memegang ponselnya, dan berbicara sendiri sambil menatap ponselnya.


Lalu ia duduk di kursi yang sudah ada, memegang salah satu produk, membukanya, dan memakannya dengan anggun.


"Candy Girl, cara mudah kita untuk bikin suasana happy, tanpa harus bikin party... Rasa sudah seperti kita ada di pesta pesta...!"


Nina berjalan menuju tumpukan produk dan membuka tangannya seolah menunjukkan semua produk yang diiklankan olehnya.


Si asisten merekam menggunakan ponsel yang lain. Ia mengambil beberapa foto Nina dan produk produk itu.


Setelah itu, ia masuk kembali ke dalam kamar, sementara itu si asisten membereskan produk yang tadi, dan menaruh produk yang lain di tempat yang sama. Ia hanya mengganti background mejanya dengan kain berwarna lain.


Kali ini iklan pelembab kulit. Tak lama Nina keluar dari kamar, dengan mengenakan tank top dan celana pendek. Ia mengoleskan lotion itu ke kulit lengannya, lalu kakinya perlahan, dan berpose dengan produk itu.


Ia memeriksa hasil rekaman yang ia buat, lalu mengutak-atik video itu.


Nina memanggil pelayan di rumah Tuan Haris, ia lalu membagi beberapa produk pada yang lain setelah ia selesai syuting.


Thomas yang telah masuk ke kamar dan keluar dari kamarnya setelah satu jam, masih melihat Nina sibuk dengan banyak produk yang harus ia iklankan.


Thomas memberanikan diri mendekati Nina saat membagi produk dengan para pelayan di rumah itu.


"Itu semua kamu makan?" Tanya Thomas dengan polos sambil menunjuk kotak makanan yang harus dibuat video atau foto oleh Nina.


"Iya. Aku makan, tapi tidak semuanya, hanya sebagian saja. Icip icip istilahnya. Tuh mereka senang sekali, kebagian banyak barang dan makanan. Apalagi Pak Bejo."


Pak Bejo cengar cengir sambil memakan bolu cokelat sampai gigi terkena cokelat.


Thomas terkekeh, sambil mengambil sepotong.


"Aku coba ya!"


Nina menganguk.


Nina tertawa lebar sambil memakan sepotong bolu, kali ini berisi keju.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Nina mengalihkan perhatian Thomas.


"Sebenarnya aku sudah bekerja beberapa hari yang lalu, tapi baru hari ini mengantor di perusahaan Tuan Haris. Ya, aku senang, bisa mendapat pengalaman baru. Tuan Haris mempercayaiku untuk ikut menggarap proyek beberapa rukonya yang mangkrak, untuk dijadikan restoran dan tempat hiburan. Di sana juga akan ada venue untuk konser juga." Thomas bercerita dengan penuh semangat, Nina tersenyum sesekali sambil memperhatikannya.


"Jadi, kamu tetap akan tinggal di sini?" Tanya Thomas.


"Ya. Opa telah meminta ijin pada Tuan Haris agar aku bisa tenang di sini, terlebih ada Arumi di sini. Terkadang saat aku merasa suntuk, aku menceritakan semua padanya. Tuan Haris sangat baik. Dito yang telah kembali ke rumah, tapi tetap saja, dia sering kemari." Jawab Nina.


"Aku turut prihatin atas masalah keluargamu. Aku tak menyangka, Papamu yang terlihat keren dan hebat di atas panggung, berbuat seperti itu pada putrinya."


Nina tersenyum kecut mendengar penuturan Thomas.


"Terima kasih, atas perhatiannya padaku. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Yang paling menyakitkan adalah saat gadis gadis itu menatapku seolah mengejek usai melayani Pria brengsek itu."


Ucap Nina pelan, namun Thomas dapat merasakan kepedihan di hati Nina.


Ia mengambil tangan Nina dan menggenggamnya. Sejenak mereka terdiam saling tatap. Hanyut dalam suasana saat itu.


Tepat saat itu, Will menatap Thomas yang menggenggam jemari Nina dan mereka saling tatap. Ada rasa cemburu dalam dada Will. Ia menghela napas, lalu melanjutkan jalannya ke ruang kerja Tuan Haris.


Will menyulut sebatang rokok dan menghisapnya perlahan di halaman belakang. Gisel yang baru pulang kerja mengerutkan keningnya, bertanya tanya sejak kapan Will merokok, karena selama ini ia tak pernah melihat Will merokok.


Ia duduk di samping Will.


"Kamu mengejutkanku saja!" Sergah Will, sambil menatap Gisel.


"Apa yang kamu lihat?" Gisel mengikuti arah tatapan mata Will tadi.


Di tepi kolam renang, ia melihat Nina sedang akting mengiklankan produk, dan sedang dilihat oleh Thomas. Ia juga melihat Nina sesekali tersenyum manis pada Thomas, begitu juga sebaliknya.


"Astaga!" Gumam Gisel sambil memegang kepalanya. Lalu ia terkekeh geli.


"Sepertinya ada yang sedang cemburu kali ini?" Tebak Gisel menggoda Will.


Will hanya diam menikmati rokoknya. Gisel menoleh ke arah Will dan menatapnya.


"Aku juga baru kali ini melihat Thomas seperti itu pada seorang gadis. Dulu aku berpikir Arumi yang selalu dapat perhatianny, namun, tebakanku salah. Aku dan Arumi memiliki porsi yang sama, sedangkan artis itu memiliki porsi yang berbeda." Cerocos Gisel.


"Aku juga bodoh, sama sekali tidak berani mengajaknya mengobrol atau mendekatinya." Will menghela napas panjang penuh sesal.


"Sudahlah. Jangan lama lama sedihnya, kapan kapan kita jalan lagi yuk. Atau kita bisa ajak Mark." Celetuk Gisel.


Will menoleh ke arah Gisel dan merangkul pundak gadis itu.


"Ide bagus! Kamu memang benar-benar teman yang baik."


Mereka berdua saling tertawa kecil.