
Arumi seharian mengunci dirinya dalam kamar, hingga menjelang malam, perutnya terasa lapar. Perutnya berbunyi sangat nyaring, membuatnya tak tahan. Akhirnya, ia membuka pintu kamarnya, dan membuka pintu.
Arumi menoleh ke kiri dan kanan melihat situasi. Aman..!
Kini dia menuruni anak tangga perlahan, melongok ke sekelilingnya melihat situasi.
Sepi... Seolah tak ada orang di rumah itu.
Lalu ia bergegas menuju arah dapur.
"Arumi!" Panggil Tuan Haris dari arah ruang makan.
Arumi menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah suara.
"Kemarilah! Aku dengar kamu tidak keluar seharian. Ada apa? Kamu sakit?" Tanya Tuan Haris.
Arumi berjalan menuju ruang makan.
"Duduklah! Mari kita makan. Sudah lama aku tak makan bersama orang lain di meja makan ini." Ajak Tuan Haris.
Arumi melangkah perlahan, lalu menarik kursi, dan duduk.
Ia menatap Tuan Haris, yang seolah biasa saja, seperti tak terjadi apapun kemarin malam.
"Makanlah! Masakan Surti enak sekali ini. Aku pun akan nambah lagi." Ucap Tuan Haris memuji masakan pembantunya.
Air liur Arumi seakan hendak menetes, ia menelan ludahnya saat melihat Tuan Haris memakan ikan bakar dengan lahap.
Arumi langsung membalik piring di hadapannya, dan mengambil nasi. Lalu ia mengambil ikan bakar utuh yang ada di tengah meja makan. Tak lupa sambal dan lalapannya. Tanpa basa basi lagi ia melahap makanan yang telah diambilnya.
Ia melirik Tuan Haris yang hanya tersenyum menatapnya.
Saat mereka makan, pintu rumah terbuka dan seseorang masuk dengan cueknya.
"Leon..!" Panggil Tuan Haris.
Tak lama seorang pemuda datang menuju ruang makan.
"Kemari! Kenalkan ini Arumi." Tuan Haris mengenalkan Arumi pada Leon.
"Arumi ini Leon, putraku." Ucap Tuan Haris.
Saat menatap pemuda itu, seketika napsu makan Arumi lenyap. Itu adalah pemuda yang ditolongnya saat terluka, korban tawuran. Lalu pemuda yang menari bersamanya, pemuda yang selalu menari nari di otaknya.
"Istri baru Papa?" Tanya Leon, sambil mengambil piring, dan mengisinya dengan makanan.
"Ya. Leon bersekolah di SMA terbaik di kota ini, kelak dia yang akan mewarisi usahaku ini." Terang Tuan Haris kepada Arumi. Arumi hanya mengangguk sambil menoleh ke arah Leon, yang dengan cuek menikmati makanannya.
"Dia sering ikut tawuran?" Tanya Arumi.
Leon langsung menoleh ke arah Arumi dan menatapnya tajam, seolah ia tak ingin Papanya mengetahui kenakalannya di luar rumah.
"Tidak, Leon terkadang tinggal di apartemen milikku di dekat sekolah, jika dia tidak pulang." Ucap Tuan Haris.
"Lalu ruangan di dekat halaman belakang apakah boleh digunakan?" Tanya Arumi.
Tuan Haris terdiam sesaat, ia tau ruangan yang dimaksud Arumi.
"Itu ruangan istriku. Kamu ingin memakainya?" Tanya Tuan Haris.
"Jika diperbolehkan." Jawab Arumi.
"Akan aku pikirkan dulu." Kata Tuan Haris.
Arumi menganguk.
"Apakah aku boleh tetap mengajar di sekolah tari?" Lanjutnya.
"Boleh, namun, Bejo yang akan menemanimu."
"Dia bisa istirahat di pantri, dulu ia sering di sana, menunggu istriku. Dia telah terbiasa."
"Terima kasih." Jawab Arumi sambil tersenyum lebar.
"Ya, sepertinya aku telah kenyang. Aku permisi!" Leon bangkit dari tempat duduknya, lalu berlalu, naik menuju kamarnya.
Tuan Haris hanya menatapnya saja, membiarkan putranya berlalu.
"Mengapa dia seperti itu?" Tanya Arumi.
"Sejak Mamanya tiada, Leon berubah menjadi seperti itu. Semakin aku marah, makin dia melawan. Kadang aku pun merasa lelah dengan perlawanannya. Dia sering hidup dijalanan, berkumpul dengan anak anak jalanan. Itulah mengapa aku memberinya satu unit apartemen untuk tempat singgahnya, saat ia tak pulang. Aku menyuruh Will mengawasinya, dan menyuruh satu orangku untuk mengawalnya, namun dari jauh. Terakhir, dia terlihat tawuran, dan berakhir di rumah sakit. Will yang mengurus semuanya, akhirnya dia dirawat di rumah sakit yang lebih besar, bukan di klinik." Tuan Haris menceritakan tentang Leon.
"Dia masih sekolah?" Tanya Arumi.
"Dia saat ini kelas 2. Sejak kecil Istriku mengenalkannya pada menari, namun, aku tak suka itu."
"Mengapa?"
"Seorang lelaki itu tidak menari. Menari hanya untuk perempuan. Aku ingin ia meneruskan perusahaan milikku ini."
"Namun, sekolah itu juga milikmu, dia dapat mengembangkannya."
"Tidak. Aku ingin dia menguasai semuanya." Tuan Haris menegaskan.
"Meskipun dia tidak mau?" Tanya Arumi.
"Aku telah menyiapkan untuk kuliahnya setelah SMA. Aku akan mengirimnya bersekolah di Amerika, untuk belajar tentang cara mengurus perusahaan. Bukan untuk menari!"
Arumi hanya terdiam mendengar semua ucapan Tuan Haris.
"Baiklah, aku telah selesai makannya. Dapatkah saya ke kamar?" Tanya Arumi dengan sopan.
"Rumi.." Panggil Tuan Haris.
Arumi menoleh menatap Tuan Haris.
"Maafkan aku kemarin malam." Ucapnya pelan sambil memegang jemari Arumi.
Arumi hanya mengangguk.
"Maukah kamu menemaniku malam ini?" Tanya Tuan Haris.
"Menemani?" Tanya Arumi.
Tanpa menjawab pertanyaan Arumi, Tuan Haris memegang lengan istri kecilnya itu, lalu menariknya masuk ke kamarnya.
Awalnya Arumi berusaha untuk berontak dan menolak, namun Tuan Haris yang lebih kuat terus mendesaknya. Dengan perlakuan yang lembut dan perlahan, seolah ia tau Arumi lebih senang diperlakukan dengan lembut. Akhirnya Arumi mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan padanya.
Namun, yang ada dalam pikiran Arumi adalah Leon. Dia hanya memejamkan mata setiap Tuan Haris membuat daerah intimnya banjir. Perlahan namun pasti, benda besar milik Tuan Haris mulai dapat memasuki milik Arumi tanpa sakit lagi. Setiap gerakan, Arumi selalu membayangkan wajah Leon. Kali ini Tuan Haris memakai pengaman saat melakukan hubungan bersama Arumi.
Akhirnya setelah mencapai puncak masing masing, Tuan Haris mencium kening Arumi dan mengucapkan terima kasih.
Arumi berpamitan ingin tidur di kamarnya setelah itu. Tuan Haris menganguk, lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat itu Arumi memungut pakaiannya, lalu mengenakan dengan cepat, lalu bergegas keluar dari kamar Tuan Haris.
Ia langsung menuju kamar mandi, dan mengguyur tubuhnya di bawah shower, sesampainya di kamar.
Rasa sakit masih terasa, namun tak sesakit kemarin lagi.
Ia pun ingin menghirup udara segar malam itu. Ia melangkah menuju balkon. Saat ia sedang menikmati malam di balkon, ia merasa ingin menari untuk menenangkan dirinya.
Ia menuju ruang yang tempo hari untuk berlatih Leon. Ia memutar gagangnya, dan terbuka. Ternyata ruangan itu tak dikunci.
Arumi menyalakan lampunya, dan menutup kembali pintunya. Ia menatap dirinya pada cermin besar di hadapannya.
Hampir seminggu ia tak berlatih, ia memutar sebuah lagu. Ia mendengar dan mengikuti setiap hentakan irama lagu itu.
Arumi menggerakkan kepalanya sesuai irama, lalu kakinya, tangannya, dan tubuhnya bergerak mengikuti irama. Ia menari dengan indahnya kembali. Ia merasa sangat bahagia dan menikmati setiap gerakan yang dibuatnya.