
"Ya, baik. Terima kasih atas informasinya. Saya sangat senang dapat bergabung di sana." Ucap Gisel saat menerima panggilan telpon dari personalia sekolah menari milik Tuan Haris.
"Kamu bisa mulai bekerja, hari Senin besok. Segala surat dapat ditandatangani Senin, sebelum kamu memulai bekerja." Ucap Personalia.
"Baik."
"Baik, Gisel. Saya tunggu besok Senin. Sampai jumpa, terima kasih." Tutup personalia di seberang sana.
"Iya, sama sama." Sahut Gisel sambil menutup panggilan ponselnya.
Gisel senang akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri bekerja di kafe, memilih pekerja menjadi administrasi di sekolah menari saja.
Setalah berbicara dengan Adam, ia merasa sangat lega. Adam sebenarnya sangat sedih dan kehilangan Gisel yang rajin, tapi untuk kebaikan gadis itu, terutama masa depannya, ia tak masalah, dan ikut senang, bahwa Gisel mendapat pekerjaan yang lebih baik setelah ini.
Sampai di rumah, Gisel menemui Arumi yang sedang duduk menikmati sepotong donat di ruang makan.
"Rumi, terima kasih. Benar, aku diterima bekerja di sana. Besok Senin aku akan memulai pekerjaan di sana." Ucap Gisel sambil memeluk Arumi senang.
Arumi menjauhkan tangannya yang berlumur gula halus, lalu ia membalas pelukan dengan menepuk punggung Gisel dengan punggung tangannya.
Gisel melepas pelukannya, dan menatap Arumi.
"Selamat buat kamu. Kapan kamu dihubungi?" Tanya Arumi.
"Kemarin. Lalu aku memutuskan untuk berhenti bekerja di kafe, supaya bisa fokus di satu tempat saja." Sahut Gisel.
"Bagus. Keputusan yang sangat benar sekali." Arumi tersenyum lebar.
"Oya, kamu akan memerlukan beberapa pakaian kerja dan make up. Nanti atau besok kamu bisa membeli kebutuhan untuk bekerjamu. Atau Will akan membantumu, seperti dia sering membantuku memilihkan pakaian pesta." Sambung Arumi sambil memberi saran.
"Ada apa, kenapa namaku di sebut?" Tanya Will saat keluar dari ruang kerja Tuan Haris.
Ia berjalan mendekati ruang makan tempat Gisel dan Arumi berbincang.
"Gisel diterima bekerja di sekolah tari, sebagai admin. Besok Senin dia akan memulai bekerja di sana. Nah, dia belum memiliki pakaian kerjanya. Apakah kamu bisa membantunya mencari pakaian kerja, Will?" Tanya Arumi.
Will tertawa sesaat. "Tentu saja, dengan senang hati, Nyonya, aku akan menemani sepupumu ini." Ucap Will sambil bercanda.
"Ada apa ini?" Tiba tiba Tuan Haris ke ruang makan, menghampiri mereka.
"Gisel diterima bekerja di sekolah tari. Aku minta, Will menemani untuk berbelanja pakaian dan make up untuk persiapan bekerja Gisel." Terang Arumi.
Tuan Haris menganguk angguk setuju.
"Benar itu. Kamu temani Gisel dan bantu dia dulu. Aku bisa bersama Arumi." Perintah Tuan Haris.
Will menganguk tersenyum.
"Kamu bisa libur sebentar sore ini hingga besok. Aku dan Arumi akan pergi ke perkebunan untuk mengecek langsung ke sana." Ucap Tuan Haris, sambil menoleh ke arah Arumi.
Arumi hanya tersenyum datar. Menemani Tuan Haris ke perkebunan anggur adalah sama dengan ia harus menghabiskan harinya di rumah pribadinya yang ada di pedalaman sana. Entahlah, apa yang akan dilakukan oleh Tuan Haris padanya.
Gisel terlihat sangat gembira. Berkali kali ia mengucapkan terima kasih pada Tuan Haris dan Arumi.
Lalu ia dan Will bergegas meninggalkan ruang makan, meninggalkan Arumi yang masih bersama Tuan Haris.
"Aku menemukan kabar, bahwa Dipo muncul kembali." Ucao Tuan Haris seraya berbisik.
Arumi menatap tajam pada Tuan Haris seolah ingin lebih banyak tahu.
"Agenku, melihat dia sedang bertransaksi saat sedang mengirimkan produk anggurku di sebuah restoran berbintang di Eropa. Dia bersembunyi di sana!" Ucap Tuan Haris dengan geram.
"Apakah Tuan Haris akan menangkapnya?"
"Maksudmu, jebakan?"
"Ya. Aku dan pihak kepolisian sedang mengincar satu lagi yang terlihat, dan setelah dirunut, Dipo juga terlibat kasus ini. Perdagangan manusia. Broto dan Fey memergoki beberapa kali pekerjaannya dipasok dari orang itu, dan penjual gadis itu, mengatakan referensi dari Dipo." Terang Tuan Haris.
Arumi menganguk mengerti.
"Aku sengaja tak hanya membuat restoran, tapi juga membuat klub malam, meniru klub milik Madam Fey. Ya aku bekerja sama dengannya, untuk membantuku mengembangkan klub malam milikku." Sambung Tuan Haris.
"Arumi, apakah kamu mau membantuku, mengurus klub itu?" Tanya Tuan Haris.
Sejenak Arumi tersentak. Membantu mengurus klub malam, pusat hiburan malam seperti yang dilakukan Madam Fey.
"Jadi selama ini, aku diajak ke klub, dan berkenalan dengan Madam Fey, hanya untuk kedok saja?!" Tanya Arumi.
"Aku ingin kamu belajar banyak dengan Madam Fey. Aku hanya mempercayaimu, Rumi. Kamu bisa meminta bantuan Thomas atau Gisel untuk melakukan pekerjaan ini nantinya, setelah semua selesai dibangun." Sahut Tuan Haris.
Arumi terdiam. Ia tak dapat membayangkan dirinya bekerja di klub malam, memimpin para gadis dan pemuda untuk menari bahkan melayani pengunjung. Ia tak bisa membayangkan dirinya akan menjadi seorang 'Mami' bagi gadis atau pemuda yang bekerja dengannya.
Tapi cerita mengenai Dipo, membuatnya bimbang. Ia sangat ingin mencari tahu kematian orang tuanya yang selama ini masih menjadi misteri.
Tuan Haris meninggalkan Arumi yang masih sendiri di ruang makan itu. Arumi terdiam di sana sesaat untuk mempertimbangkan banyak hal dan keputusan.
***
Tuan Haris mengajak Arumi menuju ke perkebunan milik ya di pinggir kota. Ia menyetir sendiri mobilnya kali ini, tanpa sopir. Kali ini Tuan Haris ingin menikmati kebersamaan bersama Arumi.
Mereka telah memasuki kawasan perkebunan anggur yang sangat luas. Tuan Haris membuka kaca jendela mobil dan menyapa ramah para pekerja yang terlihat di sana. Mereka mengembangkan senyum dan membungkuk hormat saat melihat Tuan Haris.
Tuan Haris menghentikan mobil di sebuah pondok, yang ramai oleh pekerja, dan seperti sebuah kafe dengan anggur buatan perusahaan Tuan Haris ada di sana.
Mereka masuk dan duduk, tak lama pelayan membawakan gelas dan sebotol minuman dan buah anggur segar dalam piring.
Arumi mengambil sebutir anggur, lalu memakannya. Gigitan pertama membuat Arumi terkejut, karena rasa manis dan segar dari anggur berwarna hijau itu. Sangat enak sekali. Ia mengambil lagi dan memasukkan dalam mulutnya.
"Sangat enak dan segar." Seru Arumi.
"Itu jenis anggur terbaru perkebunanku. Hasilnya didistribusikan ke pusat pusat perbelanjaan seluruh kota, bahkan restoran juga menjadi daftar pelanggan tetap perkebunan ini." Ucap Tuan Haris dengan bangga.
Arumi menatap suaminya itu.
Tuan Haris mengajak Arumi untuk masuk kembali ke mobil dan menuju ke rumah pribadinya di tengah perkebunan, hari mulai sore dan sebagian besar pekerja sudah mulai kembali ke tempat tinggal mereka.
Tuan Haris memarkir mobil tepat di depan rumah, lalu membuka pintu rumah itu. Tuan Haris menggiring masuk Arumi yang membawa sekeranjang anggur dari pos pertama yang .weeks datangi tadi.
Mata Arumi menyapu ke seluruh ruangan itu. Rumah tampak bersih dan rapi. Ya, karena setiap hari pelayan di sana membersihkan dan merapikan rumah itu, karena Tuan Haris sering datang sewaktu-waktu.
Arumi menaruh keranjang anggur di meja dalam rumah itu. Lalu Tuan Haris juga meletakkan kunci mobil di meja itu.
Tuan Haris menatap istri kecilnya itu, yang saat ini telah terlihat lebih dewasa setelah hampir dua tahun ia nikahi.
Ia mendekati Arumi dan memegang wajah gadis itu, menatapnya lembut lalu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
Arumi mengambil sebutir anggur lalu memasukkan dalam mulutnya, lalu entah bagaimana seolah ada yang membimbing, Tuan Haris mendekatkan bibirnya lalu mereka berbagi buah anggur itu masuk ke mulutnya juga, selain berbagi saliva.
Sensasi itu membuat Arumi sedikit merinding, ia ingin mencobanya lagi. Ia mengambil lagi buah anggur itu dan memasukkannya ke dalam mulut Tuan Haris, lalu ia mencium suaminya dan mereka berbagi buah anggur bersama.
Mereka saling tertawa dengan hal yang baru saja dilakukan oleh Arumi.
"Gadis nakal!" Ucap Tuan Haris sambil membelai rambut Arumi yang kini ada dalam pangkuannya.